Index

 04 April 2006

 
Inflasi Maret terendah sejak 2004
Bisnis

Kenaikan harga barang dan jasa yang tercermin dari perkembangan inflasi pada Maret mencapai 0,03% (month-to-month/mtm) yang merupakan level terendah sejak 2004 atau tiga tahun terakhir. Kondisi ini ditentukan oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Choiril Maksum menuturkan kelompok bahan makanan menyumbang deflasi 0,21% pada inflasi Maret sebesar 0,03%.

Beberapa komoditas yang masuk pada kelompok bahan makanan yang mengalami penurunan harga antara lain beras, telur ayam ras, cabe merah, daging ayam rasa, ikan segar, gula pasir, bayam, tomat sayur, melon, dan kacang panjang.

"Kebijakan untuk menunda kenaikan tarif dasar listrik (TDL) juga ikut menyumbang relatif rendahnya inflasi," katanya kemarin.

Beberapa komoditas yang masuk dalam kelompok bahan makanan memang dimasukkan BPS dalam komponen bergejolak (dengan pendekatan karakteristik pergerakan harga komponen). Pada Maret, komponen itu menyumbang deflasi 0,2%.

BPS mendefinisikan komponen bergejolak itu sebagai kelompok yang kerap menunjukkan perkembangan harga yang tajam, antara lain dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan di pasar.


Sedangkan enam kelompok pengeluaran yang lain tetap mencatat kenaikan harga pada tiga bulan pertama 2006.

Kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar pada Maret sebesar 0,1%, disusul oleh perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,09%.

Selain itu, kelompok sandang dan kesehatan masing-masing 0,01%, dan transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan menyumbang 0,02% pada kenaikan indeks harga konsumen bulan lalu.

Kenaikan harga barang dan jasa secara umum pada Maret 2006 dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy) masih menunjukkan level paling tinggi sebesar 15,74%.

Relatif tingginya angka inflasi dengan pendekatan yoy ini disebabkan oleh angka inflasi yang tinggi pada Oktober 2005 sebagai akibat kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Meski demikian, level inflasi dengan pendekatan inflasi tahunan pada Maret masih lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi beberapa ekonom yang mengusung angka 16,1%.

Ekspor turun

Laju ekspor pada Februari turun sebesar 2,19% menjadi US$7,35 miliar dari Januari yang masih US$7,51 miliar. Namun perkembangan ekspor pada Februari masih lebih baik dibandingkan dengan bulan yang sama 2005.

"Penurunan ekspor pada Februari disebabkan ekspor migas turun 10,24% dari US$1,82 miliar pada Januari menjadi US$1,63 miliar," Choiril Maksum.

Pelemahan laju ekspor migas itu disebabkan oleh ekspor minyak mentah yang turun 4,82% dari US$718 juta pada Januari menjadi US$683 juta, ekspor hasil minyak turun 36,73% dari US$233,3 juta menjadi US$147,6 juta. Demikian juga dengan ekspor gas turun 7,59% dari US$865 juta menjadi US$800 juta.

Sementara harga minyak mentah Indonesia di pasar internasional juga turun dari US$62,26 per barel pada Januari menjadi US$61,19 per barel pada Februari. Sedangkan ekspor nonmigas naik 0,38% pada Februari dari bulan sebelumnya yang masih US$5,72 miliar.

Namun dari 10 golongan barang, hanya lima yang mencatatkan kenaikan ekspor sejak Januari. Kelima golongan barang yang mengalami ke-naikan ekspor nonmigas antara lain kelompok lemak dan minyak hewan/nabati naik sebesar US$106,1 juta dari Januari yang masih US$365,7 juta disusul oleh karet dan barang dari karet naik US$90,9 juta dari Januari yang masih US$330,3 juta.

Meski demikian, kelompok mesin/peralatan listrik tetap mencatatkan nilai ekspor terbesar pada Februari, yaitu US$588,8 juta. Sedangkan kelompok bahan bakar mineral menunjukkan penurunan terbesar dari sisi nilai, yaitu sekitar US$65,6 juta dari Januari yang masih US$462,6 juta.

Pada bulan kedua tahun ini, ekspor ke Uni Eropa menempati urutan pertama dari sudut nilai ekspor nonmigas, yaitu sebesar US$930,8 juta disusul oleh Amerika Serikat dan Jepang masing-masing US$849 juta dan US$617 juta.

Meski ekspor turun pada Februari, Indonesia mengalami kenaikan pada sisi impor sebesar 5,64% dari Januari yang masih US$4,27 miliar.

Impor migas naik 11,62% menjadi US$1,21 miliar yang didorong oleh pertumbuhan impor minyak mentah dan gas masing-masing 50,42% dan 77,78%.

Sedangkan kenaikan impor nonmigas terutama disumbang oleh kenaikan nilai impor mesin dan pesawat mekanik, menjadi sebesar US$634,4 juta, mesin/peralatan listrik US$246,5 juta, dan kendaraan/bagiannya US$276,8 juta.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com