|
Kenaikan harga barang dan jasa yang tercermin dari
perkembangan inflasi pada Maret mencapai 0,03% (month-to-month/mtm)
yang merupakan level terendah sejak 2004 atau tiga tahun terakhir.
Kondisi ini ditentukan oleh penurunan harga pada kelompok bahan makanan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Choiril Maksum menuturkan kelompok
bahan makanan menyumbang deflasi 0,21% pada inflasi Maret sebesar 0,03%.
Beberapa komoditas yang masuk pada kelompok bahan makanan yang
mengalami penurunan harga antara lain beras, telur ayam ras, cabe
merah, daging ayam rasa, ikan segar, gula pasir, bayam, tomat sayur,
melon, dan kacang panjang.
"Kebijakan untuk menunda kenaikan tarif dasar listrik (TDL) juga ikut
menyumbang relatif rendahnya inflasi," katanya kemarin.
Beberapa komoditas yang masuk dalam kelompok bahan makanan memang
dimasukkan BPS dalam komponen bergejolak (dengan pendekatan
karakteristik pergerakan harga komponen). Pada Maret, komponen itu
menyumbang deflasi 0,2%.
BPS mendefinisikan komponen bergejolak itu sebagai kelompok yang kerap
menunjukkan perkembangan harga yang tajam, antara lain dipengaruhi oleh
ketersediaan pasokan di pasar.
Sedangkan enam kelompok pengeluaran yang lain tetap mencatat kenaikan
harga pada tiga bulan pertama 2006.
Kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau menjadi penyumbang
inflasi terbesar pada Maret sebesar 0,1%, disusul oleh perumahan, air,
listrik, gas, dan bahan bakar 0,09%.
Selain itu, kelompok sandang dan kesehatan masing-masing 0,01%, dan
transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan menyumbang 0,02% pada
kenaikan indeks harga konsumen bulan lalu.
Kenaikan harga barang dan jasa secara umum pada Maret 2006 dibandingkan
dengan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy) masih
menunjukkan level paling tinggi sebesar 15,74%.
Relatif tingginya angka inflasi dengan pendekatan yoy ini disebabkan
oleh angka inflasi yang tinggi pada Oktober 2005 sebagai akibat
kebijakan pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Meski demikian, level inflasi dengan pendekatan inflasi tahunan pada
Maret masih lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi beberapa ekonom
yang mengusung angka 16,1%.
Ekspor
turun
Laju ekspor pada Februari turun sebesar 2,19% menjadi US$7,35 miliar
dari Januari yang masih US$7,51 miliar. Namun perkembangan ekspor pada
Februari masih lebih baik dibandingkan dengan bulan yang sama 2005.
"Penurunan ekspor pada Februari disebabkan ekspor migas turun 10,24%
dari US$1,82 miliar pada Januari menjadi US$1,63 miliar," Choiril
Maksum.
Pelemahan laju ekspor migas itu disebabkan oleh ekspor minyak mentah
yang turun 4,82% dari US$718 juta pada Januari menjadi US$683 juta,
ekspor hasil minyak turun 36,73% dari US$233,3 juta menjadi US$147,6
juta. Demikian juga dengan ekspor gas turun 7,59% dari US$865 juta
menjadi US$800 juta.
Sementara harga minyak mentah Indonesia di pasar internasional juga
turun dari US$62,26 per barel pada Januari menjadi US$61,19 per barel
pada Februari. Sedangkan ekspor nonmigas naik 0,38% pada Februari dari
bulan sebelumnya yang masih US$5,72 miliar.
Namun dari 10 golongan barang, hanya lima yang mencatatkan kenaikan
ekspor sejak Januari. Kelima golongan barang yang mengalami ke-naikan
ekspor nonmigas antara lain kelompok lemak dan minyak hewan/nabati naik
sebesar US$106,1 juta dari Januari yang masih US$365,7 juta disusul
oleh karet dan barang dari karet naik US$90,9 juta dari Januari yang
masih US$330,3 juta.
Meski demikian, kelompok mesin/peralatan listrik tetap mencatatkan
nilai ekspor terbesar pada Februari, yaitu US$588,8 juta. Sedangkan
kelompok bahan bakar mineral menunjukkan penurunan terbesar dari sisi
nilai, yaitu sekitar US$65,6 juta dari Januari yang masih US$462,6 juta.
Pada bulan kedua tahun ini, ekspor ke Uni Eropa menempati urutan
pertama dari sudut nilai ekspor nonmigas, yaitu sebesar US$930,8 juta
disusul oleh Amerika Serikat dan Jepang masing-masing US$849 juta dan
US$617 juta.
Meski ekspor turun pada Februari, Indonesia mengalami kenaikan pada
sisi impor sebesar 5,64% dari Januari yang masih US$4,27 miliar.
Impor migas naik 11,62% menjadi US$1,21 miliar yang didorong oleh
pertumbuhan impor minyak mentah dan gas masing-masing 50,42% dan 77,78%.
Sedangkan kenaikan impor nonmigas terutama disumbang oleh kenaikan
nilai impor mesin dan pesawat mekanik, menjadi sebesar US$634,4 juta,
mesin/peralatan listrik US$246,5 juta, dan kendaraan/bagiannya US$276,8
juta.
|