Index

 09 April 2006

 
Kebijakan Malaysia ancam otomotif RI   
Bisnis

Keputusan Malaysia memangkas tarif bea masuk (BM) mobil CKD dari negara Asean dinilai sebagai ancaman bagi industri otomotif nasional karena dikhawatirkan akan mendorong produsen mengalihkan fasilitas produksi ke negeri jiran ini.

Ketua Umum Gaikindo Bambang Trisulo menilai kebijakan penurunan BM kendaraan dalam kondisi terurai (completely knocked-down/CKD) yang berasal dari negara-negara anggota Asean menunjukkan keseriusan pemerintah Malaysia untuk meningkatkan industri perakitan di dalam negeri.

Jika ini berhasil, sejumlah produsen mobil yang selama ini sudah merakit kendaraannya di Indonesia dikhawatirkan akan berpaling ke negara ini. "Kalau memindahkan seluruh fasilitas produksi mungkin tidak, namun kalau memindahkan produksi beberapa model kendaraan sangat mungkin terjadi. Apalagi mereka yang mau masuk ke Indonesia, sangat mungkin mengurungkan niatnya," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Malaysia akhir bulan lalu memutuskan untuk menurunkan tarif BM kendaraan bermotor produksi 10 negara anggota Asean, termasuk Indonesia, yang dikirim secara terurai atau CKD. Tarif BM yang semula 15% diubah menjadi hanya 5%.

Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi sempat menyatakan harga mobil domestik di negara ini akan turun menyusul kebijakan tersebut, termasuk mobil buatan Proton Holdings Bhd. Produsen mobil terbesar Malaysia ini dipaksa harus tetap mampu bersaing di pasar dengan menyesuaikan kebijakan otomotif yang ditetapkan pemerintah.

Pemangkasan tarif bea masuk impor ini merupakan yang kedua terhitung sejak 1 Januari tahun lalu. Pemerintahan Badawi berharap kebijakan ini dapat mendorong industri otomotif domestik masuk dalam situasi persaingan yang lebih besar.

Toyota dan Suzuki

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMIIN) merupakan salah satu perusahaan otomotif Indonesia yang selama ini mengekspor mobil secara CKD ke Malaysia. Bahkan belakangan perusahaan ini memutuskan untuk membangun pabrik perakitan di negara ini untuk menyiasati tarif BM yang tinggi.

Di pabrik tersebut, Toyota merakit Avanza dan Innova untuk dipasarkan di Malaysia. Sementara PT Indomobil Sukses International mengekspor model Suzuki APV namun dilakukan secara utuh (completely built up/CBU).

"Malaysia cukup taktis. [tarif BM] CBU-nya tidak diubah, dan tetap dikenai 30%," ungkap Bambang.

Menurut dia, satu-satunya jalan untuk mengantisipasi langkah agresif pemerintah Malaysia ini adalah dengan memperbaiki daya saing melalui perbaikan iklim investasi. Beberapa hal yang harus segera dibenahi, a.l. infrastruktur jalan raya, sistem perpajakan dan perburuhan serta merealisasikan pembangunan dermaga khusus otomotif.

"Tarif perpajakan otomotif nasional yang dibuat sejak 1999, baru diubah secara signifikan pada kabinet sekarang. Sementara Malaysia sangat cepat sekali menyesuaikan kondisi pasar. Di sisi lain, infrastruktur kita masih jauh dari ideal sementara masalah perburuhan tak pernah kondusif. Bagaimana bisa bersaing?,".

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com