|
PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) akan mempertimbangkan
memaket ponsel yang akan disediakan untuk melengkapi layanan seluler
generasi ketiga (3G) kepada pelanggan.
Perusahaan itu menganggarkan US$40 juta hingga US$80 juta untuk
membangun jaringan 3G guna memenuhi lisensi modern yang akan ditetapkan
pemerintah pertengahan Mei.
Paul Nicanor Vijungco Santiago III, Marketing Director XL mengatakan
terkait dengan akses 3G dibutuhkan penggunaan perangkat 3G yang baik
dan itu menjadi hal mendasar dan berkaitan erat dengan pendekatan
pemasaran XL.
Pihaknya akan mempertimbangan bila pasarnya baik untuk membidik
konsumen maupun korporasi. Manfaat nyata dari ponsel 3G adalah
kemampuannya mendukung transmisi data berkecepatan tinggi.
Nicanor menjelaskan berdasarkan peta produksi ponsel dari kalangan
vendor 80% ponsel 3G akan siap dipasarkan dan harganya sebagian besar
berkisar US$200 per unit. Namun, harga akan tergantung juga pada
kualitasnya dan keterjangkauannya khususnya di pasar Indonesia.
Dia menandaskan kesuksesan operator terbesar dunia, Vodafone, dalam
menggelar layanannya adalah kemitraan dengan manufaktur handset.
Berdasarkan peluang itu, posisi XL akan lebih kuat, karena tidak hanya
akan bekerja sama dengan vendor ponsel 3G tetapi juga dengan Vodafone.
Meskipun demikian, XL tetap akan mempertimbangkan kapitalisasi dan
keuntungan dari kedua belah pihak dalam bermitra dengan para vendor
handset yang akan digunakan.
Siapkan US$40 juta
Sementara itu, M. Danny Buldansyah, Direktur Layanan Jaringan XL,
mengatakan dari total belanja modal tahun ini sebesar US$500 juta maka
anggaran untuk membangun 3G adalah sekitar US$40 juta hingga US$80 juta.
"Anggaran 3G sebesar itu pun masih akan disinergikan dengan pembangunan
perangkat dan layanan 2G," ujarnya dalam kunjungan ke Bisnis, akhir
pekan lalu.
Menurut Direktur Corporate Affair XL Rudiantara, kecilnya alokasi untuk
3G adalah karena perusahaannya tidak perlu berinvestasi terlalu besar
mengingat XL telah memiliki jaringan tulang punggung berupa serat optik
serta perangkat base transceiver station (BTS) yang sudah mencakup
nasional.
"Operator 3G seperti kami dipastikan akan meminimalkan investasi guna
menyediakan layanan 3G secara murah namun tetap berkualitas."
Dia mengakui lisensi 3G di Indonesia termasuk paling mahal di Asean,
sehingga tantangannya adalah menurunkan biaya investasi.
Untuk memenuhi lisensi modern yang akan ditetapkan 60 hari kerja
setelah penetapan pemenang 3G atau sekitar pertengahan Mei, maka XL
berencana memasuki layanan di wilayah Papua tahun ini.
|