|
Investor Jepang diyakini tidak akan menarik investasinya dari
China menyusul ketegangan politik antara kedua negara kian menjadi
sorotan.
Kuasa Usaha (Charge d'Affaires) Kedutaan Besar Jepang di Jakarta
Masafumi Kuroki menegaskan para pebisnis Jepang akan tetap menanamkan
modalnya di China meskipun situasi politik kedua negara sedang memanas.
Isu kunjungan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi ke makam
pahlawan Perang Dunia II Yasukuni telah menuai kecaman keras dari
pemerintah China baru-baru ini.
"Mereka [pebisnis Jepang] akan terus berinvestasi tapi tidak semuanya
akan difokuskan di China. Jadi strategi investasi mereka lebih kepada
China plus beberapa negara lain," tutur Kuroki menjawab pertanyaan
Bisnis pekan lalu.
Dia pun meyakinkan jumlah investasi Jepang di China tetap besar, tapi
dia tidak menyebutkan rincian jumlahnya.
Direktur Divisi Asia-Pasifik Biro Kebijakan Perdagangan Kementerian
Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang Keita Nishiyama sebelumnya
menegaskan adanya kemungkinan pebisnis Jepang mengalihkan investasinya
dari China karena beberapa faktor.
Misalnya, strategi bisnis Jepang ke depannya yang tidak menempatkan
investasi mereka di satu negara saja, China misalnya, dengan maksud
untuk menghindari risiko bisnis yang tidak diinginkan.
Menurut dia, akan sangat aman jika dibuat keseimbangan dengan
mengembangkan alternatif tujuan investasi lainnya. China juga masih
lemah dalam hal perlindungan hak kekayaan intelektual (HaKI), sehingga
jika ada tawaran lain yang lebih baik dari negara lain tentunya akan
menarik investor Jepang.
Kuroki menambahkan pemerintah Jepang sangat ingin memperbaiki hubungan
kerja sama kedua negara. Hal itu ditunjukkan dengan komitmen Jepang
untuk tetap memberikan bantuan pinjaman dalam skema Official
Development Assistance (ODA) kepada pemerintah China.
Akan tetapi, pembatalan pemberian pinjaman yen baru-baru ini oleh pihak
Jepang terhadap China dijelaskan Kuroki bukan dimaksudkan untuk
menambah ketegangan politik yang tengah mewarnai hubungan kedua negara.
Wakil Menteri Luar Negeri Jepang Akiko Yamanaka menegaskan pemerintah
Jepang telah mendukung pembangunan ekonomi di China selama lebih 30
tahun melalui bantuan ODA ini.
Bantuan keuangan yang dikumpulkan dari para pembayar pajak di Jepang
itu memang diberikan atas dasar kesadaran bahwa hal itu merupakan suatu
keharusan.
Tumbuh 10%
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi China tercatat meningkat menjadi
sekitar 10,2% pada kwartal pertama tahun ini menyusul peningkatan
ekspor dan investasi industri manufaktur.
Perkiraan pertumbuhan ekonomi yang disampaikan Presiden Hu Jintao
kemarin itu melampaui proyeksi rata-rata 25 ekonom yang disurvei
Bloomberg yang memprediksi pertumbuhan ekonomi China akan mencapai 9,6%
pada periode tersebut.
|