Index

 24 April 2006

 
Jumlah anggota minoritas IMF akan naik 
Bisnis

Pemerintah Jepang dan AS setuju bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) harus menaikkan jumlah negara anggota minoritas.

Menteri Keuangan Jepang Sadakazu Tanigaki di sela-sela pertemuan IMF di Washington kemarin, mengatakan IMF perlu menambah kuota untuk negara-negara anggota yang dianggap kelompok minoritas di institusi keuangan internasional itu.

Menteri Keuangan AS John Snow juga setuju bahwa pembahasan masalah ini sebaiknya jangan ditunda lebih lama.

Tanigaki dan menteri keuangan lainnya mendesak dilakukannya realokasi hak suara pada IMF agar dapat merefleksikan kepentingan yang semakin meningkat dari negara-negara berkembang seperti China, India dan Brasil. Negara-negara anggota IMF asal Asia saat ini memiliki hak suara gabungan 13% dan belum mengkontribusi 19% dari ekonomi dunia pada 2004.

Dalam pertemuan dengan Managing Director IMF Rodrigo de Rato akhir pekan lalu, Tanigaki sempat mendesak IMF untuk segera mereformasi sistem kuota.

De Rato berkomentar bahwa dirinya sebenarnya telah memperhatikan isu tersebut. Namun, dia menggarisbawahi bahwa isu itu tidak hanya melibatkan negara-negara Asia saja mengingat akibat kenaikan jumlah perwakilan dari Asia, maka negara anggota lainnya akan mengalami penurunan hak suaranya.

"Itu artinya isu itu adalah isu global bukan hanya isu negara-negara Asia saja," tegas de Rato, sebagaimana dikutip pejabat Kementerian Keuangan Jepang.

Sementara itu, Menteri Keuangan Inggris Gordon Brown yang mengetuai dewan kebijakan IMF, sebagaimana dikutip Reuters, mengatakan perubahan dalam tubuh IMF diperlukan untuk menyesuaikan institusi itu dengan tujuan pada ekonomi global dan lebih bisa merespons tantangan yang ada, yang tentunya jauh berbeda dari tantangan yang dihadapi IMF saat pertama kali pembentukannya pada 1945.

IMF ke depan harus bisa mengatasi tantangan global dengan kemampuan kendali multilateral.

Komite Keuangan dan Moneter Internasional (IMFC) mengatakan kemampuan kendali IMF akan terfokus pada intensifikasi dan hubungan kebijakan ekonomi negara-negara dan memperkuat kerangka moneter, fiskal dan nilai tukar mata uang.

De Rato juga akan mempunyai wewenang untuk menyatukan negara-negara pada basis ad hoc guna menghapus kemungkinan terjadinya ketidakteraturan ekonomi berdasarkan analisa IMF.

Fleksibilitas yuan

Tanigaki juga mengatakan dirinya telah meminta pendapat Snow mengenai hubungan AS-China, termasuk masalah perdagangan dan nilai tukar mata uang, menyusul kunjungan Presiden China Hu Jintao ke Washington 20 April lalu.

Tanigaki menolak menjelaskan pada wartawan mengenai respons Snow atas pertanyaannya itu tapi Snow dikatakannya memberikan komentar atas kebijakan mata uang China.

Namun, Tanigaki mengatakan dirinya tidak memberikan komentar apapun berkenaan dengan kebijakan mata uang China meskipun dirinya dan Snow telah beberapa kali bertemu dan saling bertukar pandangan dalam hal ini.

Jepang dan AS diketahui telah mendesak China untuk menaikkan tingkat fleksibilitas mata uang yuannya.

Tanigaki belum lama menjelaskan bahwa fleksibilitas lebih pada yuan pada dasarnya untuk kebaikan ekonomi China itu sendiri. Dalam pidatonya di pertemuan IMF itu, dia mengatakan fleksibilitas lebih pada mata uang negara-negara bekembang Asia dapat mengatasi masalah ketidakseimbangan global, sebagaimana disampaikan dalam pernyataan negara-negara kelompok G-7.

Menteri-menteri keuangan dan para pimpinan bank sentral dari negara-negara G-7 mendesak negara-negara berkembang, khususnya China, untuk mengapresiasi mata uang mereka. Sebuah kementerian keuangan negara anggota G-7 mengatakan kelompok tujuh negara industri maju itu semakin meningkatkan tekanan terhadap mata uang China karena reformasi yang dilakukan negara itu dinilai terlalu lamban.

Kepada Tanigaki, Snow mengatakan pertumbuhan ekonomi Jepang terlihat cukup stabil.

IMF dalam laporan semi-tahunan World Economic Outlook 2006 yang dirilis baru-baru ini memprediksi pertumbuhan ekonomi Jepang akan mencapai 2,8% tahun ini setelah tahun lalu membukukan pertumbuhan yang tercepat sejak tahun 2000 menyusul kenaikan pada tingkat konsumsi dan pembelanjaan modal. Ekonomi Jepang tumbuh 5,4% pada triwulan keempat yang berakhir 31 Desember 2005, dan tercatat melampaui pertumbuhan ekonomi AS dan Eropa.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com