|
Tiga perusahaan publik Grup Bakrie bakal menerbitkan surat
utang (bond) senilai US$400 juta dan Rp300 miliar, setara Rp3,82
triliun, untuk membiayai kembali utangnya dan memenuhi kebutuhan modal
kerja.
Tiga emiten itu adalah PT Bakrie & Brothers Tbk, PT Bakrie Sumatera
Plantations Tbk, dan PT Bakrieland Development Tbk. Korporasi itu
memanfaatkan tingkat bunga obligasi dolar yang rendah dan pasar surat
utang domestik yang mulai kondusif seiring kecenderungan penurunan
tingkat suku bunga.
Beberapa bankir investasi yang mengetahui rencana itu mengatakan Bakrie
& Brothers berencana mengeluarkan obligasi US$250 juta hampir
bersamaan dengan emisi surat utang US$150 juta oleh Bakrie Sumatera,
sedangkan Bakrieland bakal mengeluarkan obligasi Rp300 miliar.
"Manajemen Bakrie & Brothers kini menyeleksi sekitar empat calon
pengatur penerbitan obligasi dolar. Empat bank investasi asing yang
bersaing ketat adalah Deutsche Bank, JP Morgan Securities Indonesia,
UBS Securities Indonesia, dan Credit Suisse," tuturnya, pekan lalu.
Menurut dia, proses seleksi bank investasi itu sudah dimulai sejak dua
pekan lalu dan pemenangnya diputuskan pada Senin pekan ini.
Bahkan, bank investasi yang memenangkan proyek penerbitan obligasi
dolar itu, katanya, juga bakal mengatur emisi obligasi dolar Bakrie
Sumatera.
"Kemungkinan Bakrie Sumatera dulu yang menerbitkan surat utang, disusul
Bakrie & Brothers yang waktunya diprediksi Juni atau Juli tahun
ini," ujar bankir investasi tadi.
Ketika dikonfirmasi, Presiden Direktur Bakrie & Brothers Bobby
Gafur Umar mengatakan penerbitan obligasi memerlukan waktu panjang dan
membutuhkan peringkat.
"Kami sedang mencari beberapa alternatif seperti pembiayaan proyek,
kerja sama strategis, pembiayaan vendor supaya prosesnya lebih cepat
dan mudah. Dananya untuk memenuhi kebutuhan yang agak mendesak,"
tuturnya melalui layanan pesan singkat.
Sekretaris Perusahaan Bakrie Sumatera Fitri Barnas mengatakan sejauh
ini belum pernah mendengar adanya rencana penerbitan obligasi dolar.
Namun, Direktur Keuangan Bakrieland Development Hamid Mundzir
membenarkan rencana emisi obligasi Rp300 miliar.
Menurut dia, dana hasil surat utang itu untuk membiayai percepatan
pembangunan proyek Rasuna Epicentrum yang semula ditargetkan beroperasi
pada 2008-2009 menjadi 2007.
Obligasi itu, dibantu penjamin emisi PT Mandiri Sekuritas, tuturnya,
mendapatkan peringkat BBB- dari Pefindo dan direncanakan terbit pada
Juni. Surat utang tersebut dijamin oleh aset proyek Rasuna Epicentrum.
Pertumbuhan
Dalam materi temu dengan pemodal, Katarina Setiawan, Head of Research
Kim Eng Securities, mengatakan Bakrie & Brothers diperkirakan
mengalami pertumbuhan yang kuat disumbang oleh bisnis perkebunan,
lompatan besar di bisnis telekomunikasi, dan kenaikan permintaan
infrastruktur.
Emiten itu mempunyai neraca yang sehat. Penerbitan saham baru Rp1,9
triliun tahun lalu meningkatkan modal perusahaan itu. Net gearing
Bakrie & Brothers mencapai 9%. Valuasi saham Bakrie & Brothers
masih menarik.
Kim Eng menargetkan harga saham emiten itu Rp190 per saham. Kim Eng
juga merekomendasikan beli untuk saham Bakrie & Brothers. Harga
saham emiten itu pada Jumat pekan lalu ditutup pada Rp170 per saham.
Katarina juga memprediksi laba bersih dobel Bakrie Sumatera tahun ini
mencapai Rp211 miliar. Rasio utang terhadap modal emiten itu telah
menurun dari 6,4 kali pada 2000 menjadi 1,4 kali pada 2004 dan
diprediksi kembali menurun menjadi 0,9 kali pada tahun ini.
Saat ini, saham Bakrie Sumatera diperdagangkan pada 7,8 kali perkiraan
rasio harga saham terhadap laba bersih per saham (price to earning
ratio/PER) dan 5,4 kali perkiraan nilai perusahaan terhadap EBITDA
(enterprises value, EV/EBITDA).
Kim Eng Securities menargetkan harga saham perusahaan itu Rp850 yang
mencerminkan 9,4 kali perkiraan PER 2006 dan 6,4 kali perkiraan
EV/EBITDA tahun ini.
Pada Jumat pekan lalu, harga saham Bakrie Sumatera ditutup naik ke
level Rp840 per saham.
|