Index

 02 May 2006

 
Elpiji akan disubsidi 
Bisnis

Pemerintah akan mengalihkan subsidi minyak tanah ke elpiji (liquefied petroleum gas) guna menekan membengkaknya subsidi bahan bakar minyak (BBM) akibat melonjaknya harga minyak mentah dunia.

Rencana pengalihan penggunaan minyak tanah ke elpiji itu merupakan kesepakatan rapat kemarin, yang dipimpin oleh Wapres Jusuf Kalla dengan Dirjen Migas, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang juga Wakil Dirut Pertamina Iin Arifin Takhyan, Direktur Pembinaan Usaha Hilir Migas, Ditjen Migas, Erie Soedarmo, Kepala Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (BP Migas) Kardaya Warnika, Direktur Niaga dan Pemasaran PT Pertamina Achmad Faisal, dan staf Menko Perekonomian Mochammad Ikhsan.

"Dengan harga minyak [mentah] dunia yang naik semakin tinggi, subsidi BBM meningkat, khususnya BBM yang konsumsinya besar, yaitu minyak tanah, sehingga pemerintah tidak akan menaikkan harga minyak tanah. Guna mengurangi subsidi, dilakukan pengurangan volume melalui substitusi dari minyak tanah ke elpiji untuk rumah tangga," ujar Iin Arifin Takhyan kepada wartawan, seusai rapat itu.

Harga elpiji rumah tangga
-    2.100/kg
Jul 02    2.400/kg
Des 02    2.700/kg
Agt 03    2.850/kg
Mar 04    3.000/kg
Des 04    4.250/kg
Sumber: Pusdok Bisnis Indonesia

Saat ini subsidi minyak tanah mencapai Rp31 triliun per tahun untuk konsumsi 10 juta kiloliter. Dana subsidi itu akan dialihkan ke elpiji yang hanya sebesar Rp17,9 triliun untuk volume setara dengan 10 juta kiloliter minyak tanah. Dengan cara ini, pemerintah dapat menghemat subsidi hingga Rp13,1 triliun.

Menurut rencana, akan dibentuk Tim Interdep yang terdiri dari Departemen ESDM, Depkeu, Kantor Menko Perekonomian, dan BP Migas yang mengkaji harga jual elpiji, harga jual tabung gas, harga jual kompor gas, dan kebutuhan investasi untuk peralihan minyak tanah ke elpiji.

"Dalam waktu seminggu, kami akan laporkan lagi ke Wapres. Kami akan cari cara agar harga jual tabung dan kompor gas bisa lebih murah," ujar Iin.

Sementara itu, Achmad Faisal menjelaskan lima tahun ke depan ditargetkan 10 juta kiloliter minyak tanah akan digantikan oleh 7,5 juta ton elpiji, sehingga subsidi minyak tanah bisa ditekan.

"Harga minyak tanah bersubsidi Rp2.500 per liter dan harga keekonomiannya mencapai Rp6.600. Secara energi, harga elpiji Rp3.400 setara dengan satu liter minyak tanah, sehingga akan lebih murah subsidi elpiji ketimbang minyak tanah."

Dalam hitungannya, pemerintah akan mampu berhemat hingga Rp13,1 triliun jika dapat mengalihkan penggunaan 10 juta kiloliter minyak tanah menjadi 7,5 juta ton elpiji.

Faisal menjelaskan saat ini konsumsi elpiji sebesar 1,1 juta ton per tahun, sementara kemampuan produksi elpiji dalam negeri sebesar 3 juta ton sehingga masih terdapat sisa produksi sebesar 1,9 juta ton per tahun.

"Jika dihitung, sisa produksi elpiji 1,9 juta ton ini setara dengan 3,67 juta kiloliter minyak tanah."

Kepala BP Migas Kardaya Warnika menyatakan pasokan elpiji untuk pengalihan tersebut dapat terpenuhi dari lapangan Jabung milik PetroChina 600.000 ton per tahun. Juga dari lapangan Belanak yang akan on stream tahun depan 600.000 ton per tahun sehingga total akan ada 1,2 juta ton per tahun elpiji tambahan.

Kardaya menyebutkan BP Migas akan mempersiapkan langkah untuk pasokan elpiji dalam negeri.

Erie Soedarmo menjelaskan saat ini 10% pemakai minyak tanah adalah kelompok sangat miskin, 20% miskin, 50% menengah, dan 20% dari kalangan mampu. "Kita ingin paling tidak 50% kelompok menengah dan 20% kelompok kaya dapat mengganti minyak tanah dengan elpiji."

Erie menjelaskan jika elpiji sudah dapat menggantikan minyak tanah maka akan diberlakukan PSO (public service obligation) elpiji. Ini karena hal tersebut terkait dengan subsidi yang harus dibayarkan pemerintah kepada badan usaha yang menjual elpiji.

Pemerintah, menurut dia, akan menetapkan pagu harga jual elpiji dengan menetapkan harga jual maksimal, sehingga pemerintah hanya membayar klaim subsidi dengan harga yang ditetapkan.

Kepanikan pemerintah

Menanggapi hal itu, anggota Komisi VII DPR dari Fraksi PDIP Ramson Siagian mengatakan pemerintah saat ini panik akibat harga minyak mentah dunia yang melonjak cukup tinggi.

"Ini bukti kepanikan pemerintah. Yang harus diingat, proses peralihan harus jelas, jangan tiba-tiba dikurangi pengadaan minyak tanah di lapangan agar masyarakat pindah ke elpiji karena akan mengakibatkan kelangkaan di mana-mana."

Jika kelangkaan sudah terjadi di mana-mana, menurut dia, akan terjadi dua hal. Yaitu, gejolak sosial dan harga minyak tanah melejit sangat tinggi, sehingga tidak dapat di jangkau masyarakat tidak mampu.

Ramson menilai pemerintah seharusnya tidak perlu khawatir terhadap tingginya harga minyak mentah dunia, sebab saat ini harga cenderung turun seiring dengan membaiknya geopolitik di Iran.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com