|
Saya menangkap sosoknya. Kaus biru mudanya mencuat di balik
jaket hitam. Ya, selintas dia memang mirip dengan buruh Serikat Pekerja
Nasional yang membanjiri DPR dengan biru muda siang itu.
Anehnya, dia tetap saja di tengah jembatan penyeberangan DPR itu.
Padahal saya sudah bolak-balik naik turun.
Penasaran, saya pun berdiri di sebelahnya. Dari atas jembatan itu dia
menatap ke bawah. Bola matanya bergerak-gerak mendapati buruh yang
sedang berbagi makanan. Ada yang ndlosor di aspal panas.
Ada juga yang sedang mengangkat tubuh pingsan kawannya. Di sudut lain,
tampak ada yang menari-nari sambil membentuk lingkaran.
Juga ada korlap (koordinator lapangan) yang mondar-mandir menenteng
megaphone dan bilang "Teman-teman, jangan buang energi, kalau capek,
bisa lekas marah. Kita tidak akan anarkis. Ingat itu..."
Di ujung lain, sekumpulan buruh penuh tawa berjoget tak karuan sambil
bernyanyi "Happy Birthday Buruh... Happy Birthday Buruh...."
Sesekali pula dia tersenyum mendengar buruh yang melintas sambil
berujar, "Woi, lihat tuh di bawah. Pengusaha juga turun ke jalanan.
Tuu, dagang minuman. He he he..."
Warna-warni aksi itu diserapnya. Communicator seri terbarunya berbunyi
dan sederetan laporan diucapnya dan diakhiri, "Semua okay, Ndan. Aman.
Siap. Laksanakan."
Hmmm, pria berkaus biru itu rupanya polisi preman.
Dia juga ada di situ saat seorang pria berjaket merah tak
henti-hentinya berteriak, "Bakar SBY...Bakar JK..." ke arah buruh yang
ada di bawah. Tapi, si pria berkaus biru hanya melirik si jaket merah
itu. Sementara yang di bawah sana selalu menyambut dengan teriakan
"Huuuuuu !!! "
Provokasi terhadap buruh itu tak mempan. Pasalnya buruh sadar betul
kalau mereka makin tampak 'seksi' di mata para 'penunggang'.
Setidaknya, begitu yang dirasakan Ketua Konfederasi Serikat Pekerja
Seluruh Indonesia (KSPSI) Sjukur Sarto yang akan menggelar aksi buruh
hari ini dengan kekuatan 60.000 buruh.
Dia bilang, penunggang itu kebanyakan dari partai politik. "Jujur,
banyak yang mendekati kami untuk memasukkan agenda jatuhkan SBY dan JK
dalam muatan aksi kami. Kami tidak mau, itu bukan tuntutan kami."
Dia bilang, sejak unjuk rasa 5 April-saat dia dan 12 perwakilan buruh
KSPSI diterima JK di istananya-'hawa' itu sudah mulai terasa.
"Saat itu JK mencari simpati dengan menawarkan untuk memveto amendemen
lewat Fraksi Golkar di DPR. Dan, lihat yang terjadi di daerah-daerah
kemarin [1 Mei], PDIP kelihatan sekali mendekati buruh dengan
menyiapkan pasukan pengamanan, spanduk. Juga, truk-truk."
Pada pawai keriaan Hari Buruh Sedunia kemarin, Bandung dan beberapa
daerah lainnya memang tampak dijubeli dengan iring-iringan merah.
Bendera Banteng Gemuk ada di mana-mana. Layaknya masa kampanyelah.
Meski begitu, kata dia, saat ini posisi parpol masih main pinggir.
"Tapi, bisa saja sudah mau ambil porsi lebih. Pernyataan Ribka
menunjukkan itu. PKS menunjukkan sikap simpatik dengan pertemuan Ketua
MPR Hidayat Nur Wahid pada serial unjuk rasa kami. Tapi, Ribka dan
PDIP-nya tampil agresif. Kami harus hati-hati. Golkar juga 'mengintai'."
Ya, saat buruh masuk ke gedung wakil rakyat itu, semua fraksi memang
mengamini tuntutan buruh untuk menolak amendemen, namun posisi Ribka
Tjiptaning tampil menonjol. Keputusan Ribka yang orang PDIP juga Ketua
Komisi IX yang membidangi Ketenagakerjaan, lagi memotori keputusan
kontroversial itu, dua hari belakangan justru membuat buruh
bertanya-tanya.
Akankah DPR memegang komitmennya? Atau hanya angin surga yang selintas
ditiupkan? Atau adakah konsekuensi agenda politis yang akan ditempelkan
ke aksi buruh untuk 'membayar' itu?
"Mulai 5 April, buruh betul-betul merasa mulai dimainkan oleh
tangan-tangan politik. Tapi, kami bertahan berjuang untuk nasib kami.
Kami tidak akan masuk dalam arena permainan politik. Kami akan jaga
itu," begitu kata Ketua Serikat Pekerja Nasional Bambang Wirahyoso.
Bambang yang memimpin aksi 100.000 buruh pada May Day lalu juga punya
pandangan buruh sebagai floating mass memang 'menggiurkan' untuk
dimintai pengaruhnya.
Harapan buruh hanya satu: RI-1 cepat pulang dari lawatannya ke Timur
Tengah hingga tetek bengek ini masih tetap soal hubungan industrial dan
tidak tergiring ke arah politis.
"Kami tidak akan bergantung pada PDIP. Juga Golkar yang kuat. Yang bisa
saja tahu-tahu memutuskan untuk berhenti di tengah jalan dan
menggagalkan amendemen. Apa pun itu, kami tidak mau masuk dalam
pertentangan itu. SBY harus meresapi situasi ini dan tegas. Ini
betul-betul berbahaya."
Sementara, tegas-tegas pula PDIP sudah menunjukkan sikap berseberangan
dengan posisi eksekutif dalam amendemen UU Ketenagakerjaan itu.
Jusuf Kalla yang menanggapi 'dingin' pernyataan Ribka itu balik
dituding punya kepentingan lain.
"Saya pribadi dan PDIP dan semua fraksi Dewan sudah menolak. Kalau JK
tetap berkeras, itu berarti JK adalah kaki tangan investor asing. Lihat
dong, bagaimana gejolak tuntutan buruh itu. Cari cara lainlah untuk
pancing investasi," ujar Ribka dengan nada tinggi.
Mennakertrans Erman Suparno bahkan sampai menggelar konferensi pers
untuk menanggapi pernyataan sikap Ribka itu. Dia mengaku terheran-heran
dengan 'mekanisme' baru DPR yang diterapkan mitra kerjanya itu.
Tanpa lewat mekanisme prolegnas (program legislasi nasional),
pembahasan, dan paripurna tahu-tahu Ribka mengeluarkan pernyataan
menolak amendemen UU kontroversial itu dengan mengatasnamakan DPR.
Menanggapi tudingan adanya parpol yang hendak menunggangi buruh, Ribka
berujar, "Lho, siapa yang menunggangi buruh? Mereka datang ke DPR dan
kami membuat sikap. kok malah begitu?"
Soal arak-arakan disertai bendera PDIP, dia menilai itu wajar saja.
"Kami hanya mau ikut merayakan Hari Buruh. Lagipula Ibu Megawati
mengeluarkan surat edaran untuk mengamankan May Day. Jadi, tidak betul
kekhawatiran itu. PDIP tak akan menunggangi," kata Ribka tegas.
Harapan Apindo
Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto pun berkomentar,
"Apa pun itu, saya tidak berharap buruh main di genderang partai
politik. Saya ingin ini tetap dalam koridor hubungan industrial. Bukan
soal politik. Meski saya tahu buruh selalu didekati. Buruh kan wong
cilik. Seksi sekali itu. Tapi, jangan numpang kendaraanlah."
Carut-marut amendemen ini agaknya tak ada habis-habisnya. Ada saja
cabang-cabang baru yang bisa membelokkan arah urusan pengusaha dan
buruh ini. Jumat pekan lalu saja buruh menerima selebaran gelap Mari
Bergabung dalam Gerakan 1 Mei. Buruh Tertindas, Buruh Bersatu yang
tertulis di atas kertas bergambar palu arit. Buruh pun sempat
ketar-ketir, takut dicap 'yang tidak-tidak'.
Siapa pun yang menyebarkan selebaran gelap itu, dia pasti sadar sedang
mengarahkan angin politik pada mendung di dunia ketenagakerjaan ini.
Milik siapa terang itu bila mendung tak lagi bergelayut akibat angin
politik? Milik siapa pun itu, pria berkaus biru menyembul itu akan
tetap berjaga dan terus berharap untuk mengucap, "Aman, Ndan...".
|