Index

 03 May 2006

 
Buruh, kendaraan seksi yang tak ingin ditumpangi 
Bisnis

Saya menangkap sosoknya. Kaus biru mudanya mencuat di balik jaket hitam. Ya, selintas dia memang mirip dengan buruh Serikat Pekerja Nasional yang membanjiri DPR dengan biru muda siang itu.

Anehnya, dia tetap saja di tengah jembatan penyeberangan DPR itu. Padahal saya sudah bolak-balik naik turun.

Penasaran, saya pun berdiri di sebelahnya. Dari atas jembatan itu dia menatap ke bawah. Bola matanya bergerak-gerak mendapati buruh yang sedang berbagi makanan. Ada yang ndlosor di aspal panas.

Ada juga yang sedang mengangkat tubuh pingsan kawannya. Di sudut lain, tampak ada yang menari-nari sambil membentuk lingkaran.

Juga ada korlap (koordinator lapangan) yang mondar-mandir menenteng megaphone dan bilang "Teman-teman, jangan buang energi, kalau capek, bisa lekas marah. Kita tidak akan anarkis. Ingat itu..."

Di ujung lain, sekumpulan buruh penuh tawa berjoget tak karuan sambil bernyanyi "Happy Birthday Buruh... Happy Birthday Buruh...."

Sesekali pula dia tersenyum mendengar buruh yang melintas sambil berujar, "Woi, lihat tuh di bawah. Pengusaha juga turun ke jalanan. Tuu, dagang minuman. He he he..."

Warna-warni aksi itu diserapnya. Communicator seri terbarunya berbunyi dan sederetan laporan diucapnya dan diakhiri, "Semua okay, Ndan. Aman. Siap. Laksanakan."

Hmmm, pria berkaus biru itu rupanya polisi preman.

Dia juga ada di situ saat seorang pria berjaket merah tak henti-hentinya berteriak, "Bakar SBY...Bakar JK..." ke arah buruh yang ada di bawah. Tapi, si pria berkaus biru hanya melirik si jaket merah itu. Sementara yang di bawah sana selalu menyambut dengan teriakan "Huuuuuu !!! "

Provokasi terhadap buruh itu tak mempan. Pasalnya buruh sadar betul kalau mereka makin tampak 'seksi' di mata para 'penunggang'.

Setidaknya, begitu yang dirasakan Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Sjukur Sarto yang akan menggelar aksi buruh hari ini dengan kekuatan 60.000 buruh.

Dia bilang, penunggang itu kebanyakan dari partai politik. "Jujur, banyak yang mendekati kami untuk memasukkan agenda jatuhkan SBY dan JK dalam muatan aksi kami. Kami tidak mau, itu bukan tuntutan kami."

Dia bilang, sejak unjuk rasa 5 April-saat dia dan 12 perwakilan buruh KSPSI diterima JK di istananya-'hawa' itu sudah mulai terasa.

"Saat itu JK mencari simpati dengan menawarkan untuk memveto amendemen lewat Fraksi Golkar di DPR. Dan, lihat yang terjadi di daerah-daerah kemarin [1 Mei], PDIP kelihatan sekali mendekati buruh dengan menyiapkan pasukan pengamanan, spanduk. Juga, truk-truk."

Pada pawai keriaan Hari Buruh Sedunia kemarin, Bandung dan beberapa daerah lainnya memang tampak dijubeli dengan iring-iringan merah. Bendera Banteng Gemuk ada di mana-mana. Layaknya masa kampanyelah.

Meski begitu, kata dia, saat ini posisi parpol masih main pinggir. "Tapi, bisa saja sudah mau ambil porsi lebih. Pernyataan Ribka menunjukkan itu. PKS menunjukkan sikap simpatik dengan pertemuan Ketua MPR Hidayat Nur Wahid pada serial unjuk rasa kami. Tapi, Ribka dan PDIP-nya tampil agresif. Kami harus hati-hati. Golkar juga 'mengintai'."

Ya, saat buruh masuk ke gedung wakil rakyat itu, semua fraksi memang mengamini tuntutan buruh untuk menolak amendemen, namun posisi Ribka Tjiptaning tampil menonjol. Keputusan Ribka yang orang PDIP juga Ketua Komisi IX yang membidangi Ketenagakerjaan, lagi memotori keputusan kontroversial itu, dua hari belakangan justru membuat buruh bertanya-tanya.

Akankah DPR memegang komitmennya? Atau hanya angin surga yang selintas ditiupkan? Atau adakah konsekuensi agenda politis yang akan ditempelkan ke aksi buruh untuk 'membayar' itu?

"Mulai 5 April, buruh betul-betul merasa mulai dimainkan oleh tangan-tangan politik. Tapi, kami bertahan berjuang untuk nasib kami. Kami tidak akan masuk dalam arena permainan politik. Kami akan jaga itu," begitu kata Ketua Serikat Pekerja Nasional Bambang Wirahyoso.

Bambang yang memimpin aksi 100.000 buruh pada May Day lalu juga punya pandangan buruh sebagai floating mass memang 'menggiurkan' untuk dimintai pengaruhnya.

Harapan buruh hanya satu: RI-1 cepat pulang dari lawatannya ke Timur Tengah hingga tetek bengek ini masih tetap soal hubungan industrial dan tidak tergiring ke arah politis.

"Kami tidak akan bergantung pada PDIP. Juga Golkar yang kuat. Yang bisa saja tahu-tahu memutuskan untuk berhenti di tengah jalan dan menggagalkan amendemen. Apa pun itu, kami tidak mau masuk dalam pertentangan itu. SBY harus meresapi situasi ini dan tegas. Ini betul-betul berbahaya."

Sementara, tegas-tegas pula PDIP sudah menunjukkan sikap berseberangan dengan posisi eksekutif dalam amendemen UU Ketenagakerjaan itu.

Jusuf Kalla yang menanggapi 'dingin' pernyataan Ribka itu balik dituding punya kepentingan lain.

"Saya pribadi dan PDIP dan semua fraksi Dewan sudah menolak. Kalau JK tetap berkeras, itu berarti JK adalah kaki tangan investor asing. Lihat dong, bagaimana gejolak tuntutan buruh itu. Cari cara lainlah untuk pancing investasi," ujar Ribka dengan nada tinggi.

Mennakertrans Erman Suparno bahkan sampai menggelar konferensi pers untuk menanggapi pernyataan sikap Ribka itu. Dia mengaku terheran-heran dengan 'mekanisme' baru DPR yang diterapkan mitra kerjanya itu.

Tanpa lewat mekanisme prolegnas (program legislasi nasional), pembahasan, dan paripurna tahu-tahu Ribka mengeluarkan pernyataan menolak amendemen UU kontroversial itu dengan mengatasnamakan DPR.

Menanggapi tudingan adanya parpol yang hendak menunggangi buruh, Ribka berujar, "Lho, siapa yang menunggangi buruh? Mereka datang ke DPR dan kami membuat sikap. kok malah begitu?"

Soal arak-arakan disertai bendera PDIP, dia menilai itu wajar saja.

"Kami hanya mau ikut merayakan Hari Buruh. Lagipula Ibu Megawati mengeluarkan surat edaran untuk mengamankan May Day. Jadi, tidak betul kekhawatiran itu. PDIP tak akan menunggangi," kata Ribka tegas.

Harapan Apindo

Sekjen Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto pun berkomentar, "Apa pun itu, saya tidak berharap buruh main di genderang partai politik. Saya ingin ini tetap dalam koridor hubungan industrial. Bukan soal politik. Meski saya tahu buruh selalu didekati. Buruh kan wong cilik. Seksi sekali itu. Tapi, jangan numpang kendaraanlah."

Carut-marut amendemen ini agaknya tak ada habis-habisnya. Ada saja cabang-cabang baru yang bisa membelokkan arah urusan pengusaha dan buruh ini. Jumat pekan lalu saja buruh menerima selebaran gelap Mari Bergabung dalam Gerakan 1 Mei. Buruh Tertindas, Buruh Bersatu yang tertulis di atas kertas bergambar palu arit. Buruh pun sempat ketar-ketir, takut dicap 'yang tidak-tidak'.

Siapa pun yang menyebarkan selebaran gelap itu, dia pasti sadar sedang mengarahkan angin politik pada mendung di dunia ketenagakerjaan ini.

Milik siapa terang itu bila mendung tak lagi bergelayut akibat angin politik? Milik siapa pun itu, pria berkaus biru menyembul itu akan tetap berjaga dan terus berharap untuk mengucap, "Aman, Ndan...".

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com