Index

 04 May 2006

 
Mahathir: Perlu nasionalisme di sektor energi 
Bisnis

Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menegaskan nasionalisme di sektor energi, yang dianggap sebagai sektor yang krusial bagi sebuah negara, masih diperlukan.

"Masih diperlukan nasionalisme atau supremasi pemerintah di sektor energi," ujarnya menjawab pertanyaan Bisnis seusai seminar bertema Nasionalisme di Era Globalisasi, di Jakarta, kemarin.

Mahathir melihat arah kebijakan nasionalisme di negara Amerika Latin saat ini adalah agar negara dapat menguasai sepenuhnya puncak kekayaan cadangan energinya karena memang terlalu besar.

Meski zaman sudah memasuki era globalisasi, lanjutnya, nasionalisme tetap diperlukan, khususnya bagi negara yang lemah. Dia melihat masih adanya tekanan negara-negara kaya terhadap negara-negara lemah (miskin).

Konsep globalisasi, menurut Mahathir, diciptakan negara-negara kaya untuk memberikan jalan bagi mereka guna mengeksploitasi negara lemah dengan tujuan memperkaya mereka.

"Globalisasi memungkinkan negara kaya semakin kaya dan negara miskin semakin miskin. Penjajah Eropa belum tukar [mengubah] tabiat mereka," tegasnya.

Baru-baru ini, pemerintah Bolivia melakukan nasionalisasi atas sektor energi di negara pemilik cadangan gas alam terbesar kedua di Amerika Selatan setelah Venezuela itu.

Namun, para analis mengatakan gerakan nasionalisasi seperti di Bolivia dikhawatirkan menghambat aliran dana investasi ke negara itu. Namun Mahathir yakin nasionalisme tetap memberikan peluang masuknya investasi.

Di Malaysia, menurut dia, keberpihakan pemerintah terhadap pengusaha nasional sangat besar, dan tetap bisa menarik masuk investor. Meski Malaysia bersikap keras terhadap kebijakan negara-negara Barat, lanjut mantan Perdana Menteri yang dikenal vokal itu, negara tersebut tetap bersikap akomodatif terhadap calon investor dengan menjamin keuntungan yang besar bagi mereka.

Sementara itu, mantan komisaris Bank Permata Ichsanuddin Noorsy mengemukakan apa yang dilakukan Bolivia bukan tindakan nasionalisme, justru lebih pada hitungan untung-rugi. Negara itu sedang memperbarui gerakan yang lebih adil atas komposisi sektor pertambangan, mulai dari eksplorasi sumber daya alam sampai penjualan hasilnya.

Ichsanuddin menilai pemerintah perlu mencontoh Bolivia sehingga manfaat pengelolaan sumber daya alam lebih dirasakan oleh masyarakat sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.

Direktur Center for Petroleum and Energy Economics Studies Kurtubi menilai pemerintah sudah saatnya mengganti kontrak kerja di sektor pertambangan menjadi kontraktor bagi hasil (Kontraktor Production Sharing).

Di bidang perminyakan, kontrak kerja sudah ditinggalkan sejak 1963 karena dinilai tidak adil bagi negara penghasil minyak.

Dia menilai kontrak kerja yang diterapkan pada produk pertambangan tidak adil, karena harga dan jumlah produk yang dijual semuanya dikendalikan oleh investor. Kondisi ini, menyebabkan pemerintah tidak bisa memberikan jaminan kepada rakyat bahwa apa yang diperoleh negara dari investor sudah maksimal.

Tenaga kerja

Mengenai persoalan tenaga kerja, Mahathir mengimbau pemerintah Indonesia agar memfokuskan pada pengembangan industri padat karya guna menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar.

Fokus pengembangan di industri jenis ini, menurut dia, dapat membantu pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah ketenagakerjaan. "Meski ini bukan jenis industri yang canggih, ternyata bisa membantu menyediakan lapangan kerja bagi rakyat Indonesia yang banyak jumlahnya."

Industri padat karya, kata Mahathir, dapat menjadi langkah awal bagi Indonesia, selain memupuk keahlian tenaga kerja untuk dapat memasuki industri berteknologi tinggi, yaitu industri yang berbasis pengetahuan (know-ledge-based industry).

Dalam merespons masalah ketenagakerjaan di Indonesia, mantan PM Malaysia itu mengingatkan tidak mungkin mementingkan kebutuhan dua pihak secara bersamaan. Ini karena di saat yang sama tidak akan ada buruh tanpa adanya pengusaha.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com