Index

 06 May 2006

 
Kurtubi: Asumsi harga minyak US$65 per barel 
Bisnis

Direktur Center for Petroleum and Energy Economics Studies Kurtubi menilai asumsi harga minyak pada APBN-P 2006 yang ideal untuk mengatasi lonjakan harga minyak mentah dunia adalah pada angka US$65 per barel.

Kurtubi mengemukakan harga minyak mentah dunia diperkirakan rata-rata US$70/barel pada 2006 sampai 2007. Dia menilai untuk menjaga keseimba-ngan fiskal nasional, angka US$65/barel pada asumsi makro pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2006 cukup tajam dan aman sampai 2007.

"Kalau ingin aman dan asumsi tajam, ubah asumsi harga minyak menjadi US$65 per barel. Karena harga minyak akan terus naik," ujarnya di Jakarta, pekan ini.

Asumsi harga minyak pada angka US$63/barel juga masih memungkinkan digunakan, tapi sangat konservatif dan masih berisiko pada akhir tahun. Sedang asumsi di bawah US$63/barel akan sangat rentan dan harus diubah lagi.

Sementara itu, Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta menargetkan maksimal defisit APBN pada 2006 tidak melebihi 1,3% dari produk domestik bruto sebagai antisipasi naiknya harga minyak dunia.

Dengan berubahnya sejumlah asumsi makro pada RKP 2006, dia tetap optimistis petumbuhan ekonomi 6,2% akan tercapai.

Paskah mengemukakan pihaknya masih melakukan seumlah pembahasan terhadap asumsi makro ini. Sebelumnya pihaknya memperkirakan asumsi harga minyak sekitar US$60/barel. Namun dari perkembangan harga minyak mentah dunia dan penguatan rupiah, kemungkinan asumsi makro pada APBN-P 2006 sekitar US$62/barel.

Dengan perubahan asumsi harga minyak mentah dari US$57/barel menjadi US$62/barel, pemerintah harus menyediakan dana subsidi tambahan sebesar Rp21 triliun pada APBN Perubahan 2006. Pada RKP 2006, jelasnya, pemerintah merencanakan impor mi-nyak sebanyak 59,4 juta kilo liter senilai Rp54 triliun.

Jika tidak ada penambahan dana impor minyak, atau anggaran impor minyak tetap Rp54 triliun, maka jumlah minyak yang dimpor hanya sekitar 50 juta kilo liter. Sehingga ada pengurangan impor minyak pada 2006 sebanyak 9,4 juta kilo liter.

"Nah kalau tidak mau menambah uang untuk impor minyak, harus dilakukan upaya penghematan dengan membatasi penggunaan. Mekanismenya sudah disusun, nanti terserah kabinet dan DPR. Yang pasti saya tidak mau utang lagi," ujar Paskah seusai acara Nasionalisme di Era Globalisasi, di Jakarta, kemarin.

Selain upaya penghematan dari sisi konsumsi, Paskah mengemukakan pihak-nya sedang membahas pergeseran alokasi belanja APBN dari sektor-sektor tidak prioritas kepada sektor yang butuh subsidi, seperti pupuk, subsidi langsung tunai dan tarif dasar listrik (TDL) yang direncanakan Rp18 triliun. Uang yang akan digeser, jelasnya, diperkirakan sebesar Rp16 triliun.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com