|
India: Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Sarwono
mengatakan bank sentral kemungkinan akan menurunkan BI Rate sebesar 25
basis poin menjadi 12,50% dari posisi 12,75% setelah dipertahankan
dalam lima bulan terakhir.
"Ada optimisme, disebabkan turunnya inflasi bulan lalu dan membaiknya
nilai tukar rupiah," ujar Hartadi dalam pertemuan tahunan Asian
Development Bank di Hyderabad, India kemarin.
Selain itu, ujar Hartadi, penurunan suku bunga ditujukan guna mendorong
pertumbuhan ekonomi.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan inflasi April
mencapai 0,05% dengan inflasi tahunan 15,40%. BI menargetkan inflasi
akhir 2006 mampu mencapai 8%.
Rencananya, BI akan memutuskan penurunan BI Rate pada rapat dewan
gubernur pada 9 Mei mendatang, tepat sehari sebelum pertemuan U.S.
Federal Reserve (The Fed). Survei Bloomberg menyatakan, The Fed
kemungkinan akan menaikkan bunga dari 4,75% menjadi 5%.
Di Jakarta, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengatakan, berdasarkan
pantauan kondisi perekonomian yang dilakukan otoritas moneter itu, pada
bulan ini ruangan untuk menurunkan suku bunga semakin terbuka. "Sudah
cukup bagi kita untuk melihat kembali suku bunga yang 12,75% itu."
Namun, Burhanuddin menegaskan, BI akan tetap hati-hati dalam upaya
penurunan suku bunga agar tidak terjadi pembalikan tiba-tiba (sudden
reversal) dari dana-dana investasi jangka pendek yang saat ini
membanjiri pasar modal. Selain itu, BI akan tetap memantau gejolak
ekonomi eksternal, terutama harga minyak luar negeri yang tidak bisa
diramalkan.
Dia mengatakan, BI akan tetap menjaga agar dana-dana jangka pendek
dapat bertahan dan menjadi investasi langsung oleh asing. "Hot money
akan kita usahakan menjadi warm, dan kemudian menjadi cold."
Burhanuddin mengingatkan, bank sentral bukan satu-satunya lembaga yang
menentukan kebijakan ekonomi makro Indonesia. Di pihak lain, kata dia,
ada pemerintah yang memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus
diselesaikan guna meningkatkan iklim investasi dan mendorong kegairahan
dinamika ekonomi dalam negeri.
Analis Currency Management Group Farial Anwar Farial mengatakan,
langkah BI menurunkan suku bunga tidak akan membuat rupiah serta merta
beralih ke luar negeri. Indonesia, ujar Farial, merupakan negara yang
menjanjikan keuntungan paling tinggi di dunia, dengan suku bunga 12,75%
dibanding The Fed 4,75%.
"Kalau dana lari, mereka mau kemana return paling tinggi tetap di
Indonesia meskipun suku bunga nanti akan turun," ujar dia.
Direktur Bank Mandri, Sentot A. Sentausa mengatakan, langkah BI
menurunkan suku bunga akan menjadi sinyal positif bagi perbankan yang
dapat mendorong pertumbuhan ekspansi kredit. "Jika suku bunga turun,
ekspansi kredit tentu akan meningkat."
Sedangkan Ekonom BNI Ryan Kiryanto justru berpendapat, penurunan suku
bunga yang dilakukan BI harus secaraa bertahap. "Jangan terlalu tajam
penurunannya, maksimal 25 basis poin."
Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan justru mengatakan BI sebaiknya
tetap mempertahankan BI Rate, seiring niat The Fed menaikkan suku bunga
pekan depan. Selain itu, BI sebaiknya menunggu hingga inflasi mencapi
posisi satu digit.
Menurut Fauzi, suku bunga The Fed baru akan stabil setelah naik sekali
lagi mencapai 5%. "Setelah mencapai 5%, The Fed baru akan menghentikan
kenaikan suku bunga.".
|