Index

 08 May 2006

 
BI Rate akan turun 25 basis poin 
Bisnis

India: Deputi Gubernur Bank Indonesia Hartadi Sarwono mengatakan bank sentral kemungkinan akan menurunkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 12,50% dari posisi 12,75% setelah dipertahankan dalam lima bulan terakhir.

"Ada optimisme, disebabkan turunnya inflasi bulan lalu dan membaiknya nilai tukar rupiah," ujar Hartadi dalam pertemuan tahunan Asian Development Bank di Hyderabad, India kemarin.

Selain itu, ujar Hartadi, penurunan suku bunga ditujukan guna mendorong pertumbuhan ekonomi.

Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mengumumkan inflasi April mencapai 0,05% dengan inflasi tahunan 15,40%. BI menargetkan inflasi akhir 2006 mampu mencapai 8%.

Rencananya, BI akan memutuskan penurunan BI Rate pada rapat dewan gubernur pada 9 Mei mendatang, tepat sehari sebelum pertemuan U.S. Federal Reserve (The Fed). Survei Bloomberg menyatakan, The Fed kemungkinan akan menaikkan bunga dari 4,75% menjadi 5%.

Di Jakarta, Gubernur BI Burhanuddin Abdullah mengatakan, berdasarkan pantauan kondisi perekonomian yang dilakukan otoritas moneter itu, pada bulan ini ruangan untuk menurunkan suku bunga semakin terbuka. "Sudah cukup bagi kita untuk melihat kembali suku bunga yang 12,75% itu."

Namun, Burhanuddin menegaskan, BI akan tetap hati-hati dalam upaya penurunan suku bunga agar tidak terjadi pembalikan tiba-tiba (sudden reversal) dari dana-dana investasi jangka pendek yang saat ini membanjiri pasar modal. Selain itu, BI akan tetap memantau gejolak ekonomi eksternal, terutama harga minyak luar negeri yang tidak bisa diramalkan.

Dia mengatakan, BI akan tetap menjaga agar dana-dana jangka pendek dapat bertahan dan menjadi investasi langsung oleh asing. "Hot money akan kita usahakan menjadi warm, dan kemudian menjadi cold."

Burhanuddin mengingatkan, bank sentral bukan satu-satunya lembaga yang menentukan kebijakan ekonomi makro Indonesia. Di pihak lain, kata dia, ada pemerintah yang memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan guna meningkatkan iklim investasi dan mendorong kegairahan dinamika ekonomi dalam negeri.

Analis Currency Management Group Farial Anwar Farial mengatakan, langkah BI menurunkan suku bunga tidak akan membuat rupiah serta merta beralih ke luar negeri. Indonesia, ujar Farial, merupakan negara yang menjanjikan keuntungan paling tinggi di dunia, dengan suku bunga 12,75% dibanding The Fed 4,75%.

"Kalau dana lari, mereka mau kemana return paling tinggi tetap di Indonesia meskipun suku bunga nanti akan turun," ujar dia.

Direktur Bank Mandri, Sentot A. Sentausa mengatakan, langkah BI menurunkan suku bunga akan menjadi sinyal positif bagi perbankan yang dapat mendorong pertumbuhan ekspansi kredit. "Jika suku bunga turun, ekspansi kredit tentu akan meningkat."

Sedangkan Ekonom BNI Ryan Kiryanto justru berpendapat, penurunan suku bunga yang dilakukan BI harus secaraa bertahap. "Jangan terlalu tajam penurunannya, maksimal 25 basis poin."

Ekonom Standard Chartered Fauzi Ichsan justru mengatakan BI sebaiknya tetap mempertahankan BI Rate, seiring niat The Fed menaikkan suku bunga pekan depan. Selain itu, BI sebaiknya menunggu hingga inflasi mencapi posisi satu digit.

Menurut Fauzi, suku bunga The Fed baru akan stabil setelah naik sekali lagi mencapai 5%. "Setelah mencapai 5%, The Fed baru akan menghentikan kenaikan suku bunga.".

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com