Index

 11 May 2006

 
Menneg BUMN minta 'jatah' 14% saham SG 
Bisnis

Menneg BUMN Sugiharto dikabarkan meminta PT Rajawali Corporation mengalihkan 14% saham PT Semen Gresik Tbk ke perusahaan daerah dan Semen Gresik, jika perusahaan itu jadi membeli saham dari Cemex Asia Holding Ltd. sebesar 24,9%.

Sumber Bisnis mengatakan dari 14% saham tersebut, Menneg BUMN akan membagikan masing-masing 9% ke perusahaan daerah dan sisanya kepada Semen Gresik.

"Namun, Rajawali menolak keinginan Sugiharto tersebut," ungkap sumber tadi yang mengetahui pembicaraan antara Menteri Sugiharto dan direksi Rajawali Corp di Kantor Menneg BUMN kemarin.

Menneg BUMN pekan ini harus menjawab surat Cemex yang berisi keputusan pemerintah menggunakan hak penolakan (refusal right) menyangkut surat pembe-ritahuan Cemex pada 5 Mei 2006 yang sudah memiliki pembeli serius dan telah menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (conditional sale and purchase agreement) dengan Rajawali.

Apabila hak tersebut digunakan, pemerintah harus membeli saham Semen Gresik milik Cemex pada harga yang sama dengan penawaran Rajawali, yaitu Rp20.500 per saham. Jika pemerintah tidak menggunakan hak tersebut berarti Rajawali adalah pembeli definitif. Rajawali mempunyai waktu 30 hari untuk melunasi pembayarannya.

Cemex mengirim surat pemberitahuan pertama kepada pemerintah yang berisi keinginannya menjual saham Semen Gresik pada 13 Februari 2006. Cemex berharap pemerintah tidak menggunakan refusal right. Namun dalam surat No. S-87/MBU/2006 tanggal 22 Februari 2006, Sugiharto meminta waktu kepada Cemex untuk mengambil keputusan.

Bertemu Sugiharto

Kemarin siang pemilik Rajawali Corp Peter Sondakh menemui Menneg BUMN Sugiharto sehubungan dengan rencana pembelian Semen Gresik. Namun, Peter tidak memberikan pernyataan seusai pertemuan tersebut.

Managing Director/Chief of Business Development Rajawali Corp Darjoto Setyawan, yang ikut dalam rombongan itu, mengatakan transaksi pembelian 24,9% saham Semen Gresik yang dimiliki Cemex belum dapat dituntaskan, meskipun CSPA sudah disepakati dan ditandatangani.

"Ada beberapa hal yang perlu diselesaikan seperti persetujuan dari pemerintah dan penyelesaian pembayaran. Transaksi akan terjadi sesudah sejumlah hal tersebut diselesaikan."

Darjoto menjelaskan Rajawali menggunakan sumber dana eksternal dan internal untuk membeli 24,9% saham Semen Gresik. Sumber dana eksternal, menurut dia, akan diperoleh dari lembaga pembiayaan non-bank dari luar negeri.

Pembelian saham itu akan dilakukan oleh anak perusahaan Grup Rajawali. "Kami memiliki banyak anak perusahaan, sehingga pembelian saham tersebut akan dilakukan melalui anak perusahaan Grup Rajawali. Kalau soal pertemuan, ya... saya pikir sifatnya kenalan saja dengan pemegang saham mayoritas," tuturnya.

Menjawab pertanyaan mengenai hasil pertemuan dengan Grup Rajawali, Menteri Sugiharto mengatakan itu merupakan pertemuan biasa.

"[Pertemuan] itu sifatnya courtesy call saja. Kami memanfaatkan waktu sepuluh hari untuk mengkaji sejumlah opsi dalam penjualan saham Cemex di Semen Gresik."

Sementara itu, Sekretaris Menneg BUMN M. Said Didu menjelaskan secara hukum keputusan penjualan saham tersebut berada di tangan Cemex. "Posisi pemerintah sudah jelas, hak istimewa yang ada pada saham Semen Gresik yang dimiliki Cemex harus dihapuskan. Harus dilakukan melalui RUPS untuk mengubah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga agar dapat menghapus hak istimewa tersebut," tuturnya kepada Bisnis.

Dia mengatakan pemerintah sedang mengkaji keinginan PT Andalas Tuah Sakato untuk membeli saham Semen Gresik yang dimiliki Cemex. "Kami sedang kaji opsi-opsi tersebut dan hasilnya tentu disampaikan kepada pihak-pihak yang bertransaksi. Sampai saat ini belum ada keputusan."

Ketua Komisi VI DPR Didik J. Rachbini meminta pemerintah segera merestui transaksi penjualan saham milik Cemex di Semen Gresik kepada Grup Rajawali, guna menyudahi persoalan yang terjadi selama ini.

Masuknya Grup Rajawali menjadi pemegang saham baru di Semen Gresik juga dinilai dapat mencegah munculnya praktik kartel pema-saran semen di negeri ini.

Didik mengatakan pemerintah sepertinya sulit membeli kembali (buyback) saham Cemex di Semen Gresik, karena negara tidak memiliki dana.

Karena itu, menurut dia, beri saja kesempatan kepada investor lokal yang memiliki dana dan kemampuan. "Saat ini sudah ada kesepakatan transaksi antara Cemex dan Rajawali. Pemerintah sebaiknya segera merestui transaksi tersebut," ujarnya, kemarin.

Didik mengatakan industri semen di beberapa negara, seperti Filipina, Afrika, dan Eropa Timur sudah dikuasai kartel. Ini karena industri semen dikuasai oleh investor asing. Bahkan karena sudah begitu kuatnya kartel semen di Filipina, harga komoditas itu pernah melonjak dua kali lipat.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com