|
Tingginya prospek pertumbuhan ekonomi Asia membuat jumlah
investasi dari pemodal AS ke bursa saham Asia, termasuk Indonesia
semakin meningkat.
Analis Credit Lyonnaise Securities Ltd. (CLSA) Christopher Wood, yang
baru saja menyelesaikan perjalanannya selama dua pekan mengunjungi para
investor AS, mengatakan hal itu pada akhir pekan lalu.
"Mungkin akan ada pasang surut, tapi trennya adalah dana masuk ke Asia
akan berlanjut karena Asia adalah tempat di mana pertumbuhan jangka
panjang terjadi dan AS mulai menyadari hal itu," ujar Wood seperti
dikutip dari Bloomberg.
Kenaikan tingkat suku bunga di AS, yang merupakan pasar ekspor terbesar
Asia, sepertinya tidak akan memengaruhi kebijakan investasi para
manajer investasi.
"Saham-saham Asia akan terus mencatatkan keuntungan karena akan semakin
banyak investor AS yang tergoda dengan prospek pertumbuhan ekonomi
regional," katanya.
Sementara itu, kenaikan biaya bunga di AS sempat dikhawatirkan
memengaruhi permintaan barang-barang produksi Asia dan membuat indeks
Morgan Stanley Capital International (MSCI) Asia Pasifik menurun.
Pekan lalu, bank sentral AS menaikkan tingkat suku bunga untuk ke-16
kalinya secara berturut-turut ke level 5% dan membuka peluang terus
naik.
Kendati indeks MSCI dipangkas 0,2% pekan lalu, terburuk sejak 14 April
2006, Wood yakin indeks tersebut akan naik 15% tahun ini.
"Kenaikan tingkat suku bunga AS tidak akan menghentikan tren kenaikan
itu karena orang akan melihat kinerja saham-saham Asia yang lebih
baik," kata Wood.
Berdasarkan data PT Bursa Efek Jakarta (BEJ), sepanjang pekan lalu
investor asing membukukan total nilai transaksi beli hingga Rp4,25
triliun dan transaksi jual Rp3,36 triliun.
Meskipun total nilai transaksi beli investor asing sepanjang pekan lalu
turun dari Rp4,58 triliun pada pekan sebelumnya, investor asing itu
membukukan total transaksi beli bersih yang lebih besar yaitu Rp890
miliar dari Rp288,92 miliar.
Total nilai transaksi di BEJ sepanjang pekan lalu juga naik menjadi
Rp15,02 triliun dari Rp13,57 triliun pada pekan pertama bulan ini.
Turun
Sementara indeks harga saham gabungan (IHSG) pada akhir pekan lalu
ditutup turun 27,28 poin (1,8%) menjadi 1.525,78 dari level tertinggi
di 1.553,06 pada hari sebelumnya.
Pada perdagangan akhir pekan lalu investor asing melakukan aksi ambil
untung dengan mengantongi total nilai transaksi jual yang lebih besar
yaitu Rp550,17 miliar dibandingkan total nilai transaksi beli Rp465,71
miliar.
"Indeks naik terlalu cepat dan itu membuat investor merealisasikan
keuntungannya," ujar Cholis Baidowi dari PT Trimegah Securities Tbk.
Sejumlah saham yang mengalami penurunan pada perdagangan akhir pekan
lalu adalah saham Bank Central Asia yang turun Rp175 (3,7%) menjadi
Rp4.500 dan saham Bank Danamon turun Rp100 (1,8%) menjadi Rp5.600.
Saham Batubara Bukit Asam juga turun Rp100 (2,5%) menjadi Rp3.900,
saham United Tractors turun Rp200 (3,3%) menjadi Rp5.900, dan saham
Telkom turun Rp50 (0,6%) menjadi Rp8.250.
|