|
Kurs rupiah kemarin anjlok tajam, menyusul aksi beli US$ oleh
investor asing seiring dengan kejatuhan indeks harga saham gabungan
(IHSG) di Bursa Efek Jakarta yang terpicu sentimen regional.
Dalam perdagangan di pasar Ja-karta kemarin, rupiah merosot tajam,
sempat menyentuh level Rp9.170 per US$. Padahal pada penutupan
perdagangan pekan lalu, rupiah masih bertengger di posisi Rp8.735 per
US$.
Perkembangan di pasar valuta itu, sejalan dengan koreksi terhadap IHSG
yang turun drastis 6,3% atau 96,238 poin hingga menyentuh level
1.429,542. Transaksi di BEJ berlangsung marak, dengan nilai transaksi
mencapai Rp4,3 triliun, dua kali lipat dibandingkan dengan sebelumnya
Rp2,3 triliun.
Investor asing diketahui melakukan transaksi jual sebesar Rp960,9
miliar dan transaksi beli Rp832 miliar, sehingga membukukan transaksi
jual lebih besar ketimbang transaksi beli (net selling) Rp128,9 miliar.
Analis BNI Securities Rohma Fitri Murniawati mengatakan penurunan
indeks disebabkan oleh setidaknya dua faktor. Pertama, pelemahan
rupiah. Kedua, penurunan indeks regional menyusul penurunan indeks Dow
Jones dan Hang Seng masing-masing 1% dan 2%.
Investor juga khawatir kenaikan suku bunga Federal Reserve akan
berlanjut. "Prediksinya bahkan ada yang sampai 5,50%. Itu berarti
inflasi di AS belum mereda setelah kenaikan kemarin [10 Mei]," tutur
Rohma.
Direktur Currency Management Group Farial Anwar bahkan melihat telah
terjadi aksi ambil untung besar-besaran di pasar modal yang memicu
kejatuhan IHSG maupun rupiah.
Penggerak aksi ambil untung itu, menurut ekonom Standard Chartered Bank
Fauzi Ichsan, semata-mata adalah faktor regional. "Tetapi koreksi yang
terjadi atas rupiah dan IHSG memang terlalu tajam. Sentimen investor
asing memang lagi swing, dan Indonesia kena imbasnya karena penguatan
sebelumnya terlalu cepat," ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Fauzi melihat adanya korelasi antara penurunan IHSG sampai 6,3% dan
kejatuhan rupiah lebih dari 400 poin. Penurunan bursa regional, menurut
dia, memicu investor asing menjual saham Indonesia dan buru-buru
menubruk dolar AS, sehingga makin memperlemah rupiah.
Ekonom BNI Ryan Kiryanto sependapat melemahnya rupiah dipicu faktor
eksternal, di mana beberapa hedge fund di pasar global (Brasil dan
Turki) mengalami kerugian cukup besar, sehingga berdampak pada
anjloknya bursa regional.
Mengenai jatuhnya rupiah itu, Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin
Abdullah mengatakan bank sentral tidak akan membiarkan pelemahan rupiah
berlanjut. Bank sentral akan tetap berada di pasar guna memonitor dan
mengambil langkah untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar. "Sejak
pagi BI sudah ada di pasar."
PDB di
bawah target
Dalam perkembangan lainnya, Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin
mengumumkan PDB triwulan I yang ternyata hanya tumbuh 4,59% secara
tahunan (year-on-year) dibandingkan dengan triwulan I 2005. Secara
kuartalan, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2,03%.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Slamet Sutomo
mengemukakan pertumbuhan PDB pada triwulan I 2006 ditandai dengan nilai
tukar rupiah yang tinggi, indeks harga saham gabungan menguat, dan
inflasi terkendali. Ternyata sejumlah indikator itu belum mampu
meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada angka yang signifikan.
Slamet mengemukakan pertumbuhan PDB pada triwulan pertama biasanya
mencapai angka tertinggi, di atas pencapaian rata-rata PDB se-tahun.
Ini karena pada awal tahun ke-butuhan masyarakat cukup tinggi.
Pertumbuhan akan turun pada triwulan kedua dan ketiga. Namun, pada
triwulan keempat pertumbuhan akan naik lagi.
Menanggapi data itu, Menkeu Sri Mulyani Indrawati optimistis pada
semester II 2006 Indonesia bakal men-cetak pertumbuhan PDB lebih dari
7% agar laju ekonomi bisa memenuhi target APBN.
"Untuk kuartal pertama dan kedua, Indonesia tampaknya masih akan
menghadapi pertumbuhan ekonomi di bawah target APBN, sehingga untuk
mencapainya, pertumbuhan PDB pada semester kedua harus lebih dari 7%,"
kata Menkeu dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, kemarin.
Kendati begitu, Menkeu Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan
produk domestik bruto (PDB) realistis yang dicapai tahun ini hanya
sekitar 5,9%. "Angka ini lebih rendah dari target APBN 2006 sebesar
6,2%," tuturnya.
Slamet menambahkan, pada triwulan I 2006, pertumbuhan sektor riil dan
kondisi moneter sangat timpang. Kondisi ini terlihat dari tingginya
dana asing yang masuk, namun pertumbuhan sektor riil masih rendah.
"Pemerintah harus segera menyelesaikan hambatan antara sektor moneter
dan sektor riil," sambung Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik
BPS itu.
Dari sisi pengeluaran, lanjutnya, belanja terbesar pada laju
pertum-buhan ekonomi periode ini adalah pemerintah yang mencapai 14,19%
dari total pengeluaran.
Namun, pengeluaran pemerintah ternyata hanya mampu menyumbang 0,97%
dari pertumbuhan PDB.
|