Index

 16 May 2006

 
PDB triwulan I hanya tumbuh 4,59%, IHSG dan rupiah anjlok 
Bisnis

Kurs rupiah kemarin anjlok tajam, menyusul aksi beli US$ oleh investor asing seiring dengan kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta yang terpicu sentimen regional.

Dalam perdagangan di pasar Ja-karta kemarin, rupiah merosot tajam, sempat menyentuh level Rp9.170 per US$. Padahal pada penutupan perdagangan pekan lalu, rupiah masih bertengger di posisi Rp8.735 per US$.

Perkembangan di pasar valuta itu, sejalan dengan koreksi terhadap IHSG yang turun drastis 6,3% atau 96,238 poin hingga menyentuh level 1.429,542. Transaksi di BEJ berlangsung marak, dengan nilai transaksi mencapai Rp4,3 triliun, dua kali lipat dibandingkan dengan sebelumnya Rp2,3 triliun.

Investor asing diketahui melakukan transaksi jual sebesar Rp960,9 miliar dan transaksi beli Rp832 miliar, sehingga membukukan transaksi jual lebih besar ketimbang transaksi beli (net selling) Rp128,9 miliar.

Analis BNI Securities Rohma Fitri Murniawati mengatakan penurunan indeks disebabkan oleh setidaknya dua faktor. Pertama, pelemahan rupiah. Kedua, penurunan indeks regional menyusul penurunan indeks Dow Jones dan Hang Seng masing-masing 1% dan 2%.

Investor juga khawatir kenaikan suku bunga Federal Reserve akan berlanjut. "Prediksinya bahkan ada yang sampai 5,50%. Itu berarti inflasi di AS belum mereda setelah kenaikan kemarin [10 Mei]," tutur Rohma.

Direktur Currency Management Group Farial Anwar bahkan melihat telah terjadi aksi ambil untung besar-besaran di pasar modal yang memicu kejatuhan IHSG maupun rupiah.

Penggerak aksi ambil untung itu, menurut ekonom Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan, semata-mata adalah faktor regional. "Tetapi koreksi yang terjadi atas rupiah dan IHSG memang terlalu tajam. Sentimen investor asing memang lagi swing, dan Indonesia kena imbasnya karena penguatan sebelumnya terlalu cepat," ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Fauzi melihat adanya korelasi antara penurunan IHSG sampai 6,3% dan kejatuhan rupiah lebih dari 400 poin. Penurunan bursa regional, menurut dia, memicu investor asing menjual saham Indonesia dan buru-buru menubruk dolar AS, sehingga makin memperlemah rupiah.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto sependapat melemahnya rupiah dipicu faktor eksternal, di mana beberapa hedge fund di pasar global (Brasil dan Turki) mengalami kerugian cukup besar, sehingga berdampak pada anjloknya bursa regional.

Mengenai jatuhnya rupiah itu, Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah mengatakan bank sentral tidak akan membiarkan pelemahan rupiah berlanjut. Bank sentral akan tetap berada di pasar guna memonitor dan mengambil langkah untuk mengendalikan volatilitas nilai tukar. "Sejak pagi BI sudah ada di pasar."

PDB di bawah target

Dalam perkembangan lainnya, Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin mengumumkan PDB triwulan I yang ternyata hanya tumbuh 4,59% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan dengan triwulan I 2005. Secara kuartalan, ekonomi Indonesia hanya tumbuh 2,03%.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Slamet Sutomo mengemukakan pertumbuhan PDB pada triwulan I 2006 ditandai dengan nilai tukar rupiah yang tinggi, indeks harga saham gabungan menguat, dan inflasi terkendali. Ternyata sejumlah indikator itu belum mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada angka yang signifikan.

Slamet mengemukakan pertumbuhan PDB pada triwulan pertama biasanya mencapai angka tertinggi, di atas pencapaian rata-rata PDB se-tahun. Ini karena pada awal tahun ke-butuhan masyarakat cukup tinggi.

Pertumbuhan akan turun pada triwulan kedua dan ketiga. Namun, pada triwulan keempat pertumbuhan akan naik lagi.

Menanggapi data itu, Menkeu Sri Mulyani Indrawati optimistis pada semester II 2006 Indonesia bakal men-cetak pertumbuhan PDB lebih dari 7% agar laju ekonomi bisa memenuhi target APBN.

"Untuk kuartal pertama dan kedua, Indonesia tampaknya masih akan menghadapi pertumbuhan ekonomi di bawah target APBN, sehingga untuk mencapainya, pertumbuhan PDB pada semester kedua harus lebih dari 7%," kata Menkeu dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Jakarta, kemarin.

Kendati begitu, Menkeu Sri Mulyani Indrawati memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) realistis yang dicapai tahun ini hanya sekitar 5,9%. "Angka ini lebih rendah dari target APBN 2006 sebesar 6,2%," tuturnya.

Slamet menambahkan, pada triwulan I 2006, pertumbuhan sektor riil dan kondisi moneter sangat timpang. Kondisi ini terlihat dari tingginya dana asing yang masuk, namun pertumbuhan sektor riil masih rendah.

"Pemerintah harus segera menyelesaikan hambatan antara sektor moneter dan sektor riil," sambung Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS itu.

Dari sisi pengeluaran, lanjutnya, belanja terbesar pada laju pertum-buhan ekonomi periode ini adalah pemerintah yang mencapai 14,19% dari total pengeluaran.

Namun, pengeluaran pemerintah ternyata hanya mampu menyumbang 0,97% dari pertumbuhan PDB.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com