Index

 18 May 2006

 
Jepang siap negosiasi ulang pembiayaan MRT 
Bisnis

Japan Bank for International Cooperation (JBIC) membuka kesempatan untuk menegosiasikan kembali skema pendanaan proyek mass rapid transit (MRT) di DKI Jakarta yang ditawarkan lembaga pembiayaan Jepang itu ke-pada pemerintah Indonesia.

Representative JBIC untuk Indonesia Takehito Yasui mengatakan perlu pembicaraan kembali antara pemerintah Jepang dan Indonesia karena adanya salah pengertian di kalangan pejabat dan laporan media massa mengenai skema pendanaan tersebut.

"Kami masih membuka pintu untuk berdiskusi kembali soal keterlibatan JBIC dalam proyek MRT karena selama ini telah terjadi salah pengertian. Kami menunggu permintaan resmi dari pemerintah Indonesia," kata Takehiro kepada Bisnis kemarin.

Pernyataan senada pernah disampaikan oleh Kuasa Usaha (Charge d'Affaires) Kedubes Jepang di Jakarta Masafumi Kuroki. Dia menegaskan Jepang tetap berniat melanjutkan diskusi dengan Indonesia mengenai pendanaan MRT melalui skema pinjaman ODA (Official Development Assistance).

"Ada kesalahpahaman mengenai posisi Jepang dan posisi ODA yang ditawarkan untuk mendanai proyek itu. Kami sebenarnya masih membuka diri untuk mendiskusikannya dengan pemerintah Indonesia," katanya beberapa waktu lalu.

Pemerintah memutuskan tidak menggunakan skema pin-jaman ODA yang disebut STEP (Special Terms for Economic Partnership) dari JBIC untuk proyek MRT. Pinjaman itu dinilai membatasi peranan sumber daya lokal karena bersifat mengikat (tied loan).

Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta sebelumnya mengatakan pemerintah Jepang melalui JBIC tidak bisa menerima tawaran Indonesia untuk mengubah sistem pinjaman dari tied menjadi untied (tidak mengikat). (Bisnis, 22 Maret)

Tak lama setelah keputusan itu, pemerintah langsung membentuk konsorsium 15 perusahaan lokal yang disebut Jakarta Metro System (JMS) untuk merealisasikan MRT. Wapres Jusuf Kalla bersama sejumlah menteri bahkan segera mencari alternatif pembiayaan dan teknologi dari China.

Tidak ketat

Menurut Takehiro, pada dasarnya skema pinjaman STEP untuk proyek MRT itu tidak seketat pinjaman bersyarat lainnya. Hal ini dilihat dari persyaratan yang disepakati sebelumnya dengan tim pemerintah, a.l. kontraktor dipilih melalui pelelangan oleh Indonesia, kandungan impor dari Jepang sekitar 30%, dan tidak ada perubahan persyaratan pinjaman STEP dari tahun lalu.

Secara keseluruhan proyek yang membentang dari Dukuh Atas sampai Lebak Bulus itu diperkirakan menelan biaya konstruksi US$870 juta, termasuk biaya desain dan lain-lain.

Pinjaman ODA melalui JBIC mencakup 85% dari total biaya proyek dengan suku bunga 0,4% dan jangka waktu pengembalian 40 tahun (termasuk 10 tahun masa tenggang).

"Tidak ada sumber pembiayaan lain yang dapat menawarkan pinjaman sebesar itu pada kondisi seperti sekarang," katanya.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com