|
Harga bubur kertas (pulp) di pasar dunia bulan ini bergerak
di kisaran US$600-US$700 per ton akibat tren produksi perusahaan dunia
menurun.
Pada awal tahun harga pulp masih sekitar US$500 per ton.
Harga pulp di beberapa wilayah seperti Asia, Amerika Serikat, dan Eropa
masing-masing berkisar US$550 per ton, US$700 per ton dan US$650 per
ton dengan kenaikan US$10 per ton hingga US$30 per ton dibandingkan
April.
"Produksi pulp di Amerika Utara tersendat karena restrukturisasi
industri pulp dan kertas secara besar-besaran," ujar Ketua Umum
Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) M. Mansyur, pekan lalu.
Beban biaya produksi yang tinggi juga terjadi di Eropa, di mana pada
Januari-Februari 2006 naik 3,3% dibandingkan periode yang sama tahun
lalu.
Untuk Indonesia, kata dia, harga kertas akan merujuk pada harga yang
diberlakukan di pasar dunia. Saat ini harga kertas tulis mencapai
US$700 per ton hingga US$800 per ton. "Meskipun begitu kami optimistis
hal itu tidak menekan pola konsumsi masyarakat," paparnya.
Mansyur menyayangkan membaiknya harga kertas dunia ternyata tidak
mendorong masuknya investasi baru ke dalam negeri. Padahal Indonesia
kaya bahan baku dan memiliki iklim tropis sehingga kayu [bahan baku]
lebih cepat dipanen dibandingkan di Eropa dan Amerika Serikat.
Dia berharap pemerintah segera melakukan pembenahan agar modal asing
dapat mengalir ke dalam negeri, agar Indonesia tidak menjadi importir
kertas. "Ironis sekali jika hal itu terjadi."
Volume produksi kertas pada 2006 meningkat tipis dibandingkan 2005
yaitu hanya 2,5%. Kondisi ini dipicu oleh melemahnya pertumbuhan
ekonomi nasional. Hal yang sama juga terjadi untuk pulp yang hanya
tumbuh 2% dibandingkan tahun lalu.
Data Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menyebutkan volume
produksi pulp pada 2005 mencapai 5,4 juta ton, impor 0,2 juta ton,
ekspor 2,3 juta ton dan kebutuhan di pasar domestik 5,6 juta ton.
Secara keseluruhan kapasitas terpasang produksi pulp mencapai 6,4 juta
ton per tahun.
Sedangkan volume produksi untuk kertas pada tahun lalu tercatat 7,8
juta ton, impor 0,2 juta ton, ekspor 2,3 juta ton, konsumsi di pasar
dalam negeri 5,6 juta ton dengan kapasitas terpasang 10,7 juta ton.
|