Index

 05 July 2006

 
Pasar seluler nasional akan capai Rp45 triliun 
Bisnis

Nilai bisnis telekomunikasi seluler di Indonesia tahun ini diproyeksikan mencapai Rp45 triliun, meningkat 30% dibandingkan tahun lalu sebesar Rp35 triliun, dipicu oleh peningkatan jumlah pelanggan dan kebutuhan suara.

Sekjen Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Rudiantara mengatakan proyeksi akhir tahun tersebut belum mencakup telepon saluran tetap nirkabel (fixed wireless access/FWA).

"Adanya fenomena calling card dan kartu hangus akibat registrasi prabayar tidak akan memengaruhi nilai bisnis seluler dan diperdiksi akan terus meningkat sekitar 30% setiap tahun hingga mencapai Rp45 triliun pada akhir tahun ini," ujarnya pada pembukaan Indonesia Cellular Show 2006, kemarin.

Menurut Rudi, kenaikan jumlah pelanggan pada 2006 bisa mencapai 50% dibandingkan akhir tahun lalu, namun diimbangi dengan penurunan produktivitas atau average revenue per user (ARPU).

Kenaikan tersebut juga dipicu adanya registrasi sehingga pemilik kartu seluler tidak akan mudah membuang nomornya yang sudah teregistrasi.

Berdasarkan data Ditjen Postel, saat ini jumlah pelanggan seluler secara nasional lebih dari 53 juta nomor.

ATSI mencatat nilai ARPU tahun lalu sekitar Rp60.000 sampai Rp70.000, namun tahun ini diprediksi berkisar Rp50.000 hingga Rp60.000.

Data ATSI juga mengungkapkan kontribusi layanan suara terhadap bisnis seluler mencapai 70%, sementara sisanya datang dari layanan data. Sedangkan dari kontribusi 30% tersebut, 50% di antaranya merupakan layanan tambahan bernilai (value added service).

Rudiantara melanjutkan, investasi yang berputar di industri telekomunikasi seluler tahun ini mencapai US$2 miliar yang berasal dari rencana belanja modal seluruh operator, naik dibandingkan tahun lalu US$1,8 miliar.

Proyeksi Kadin

Sebelumnya Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan total bisnis telekomunikasi nasional tahun ini mencapai Rp40 triliun, sementara kontribusi industri dalam negeri hanya berkisar 3%.

Dari jumlah 3% tersebut yang merupakan produk asli nasional hanya sekitar 0,1% sampai 0,7%.

Berdasarkan hal tersebut, Kadin menilai pertumbuhan infrastruktur yang pesat belum memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan industri manufaktur lokal.

Pada 2009, Kadin memperkirakan bisnis telekomunikasi akan mencapai Rp111 triliun, di mana segmen pasar perangkat telekomunikasi akan mencapai Rp50 triliun.

Nilai tersebut didapat dari infrastruktur komunikasi tetap Rp15 triliun, komunikasi bergerak Rp24,5 triliun, multimedia Rp5,5 triliun, dan customer premises equipment (CPE) senilai Rp6 triliun.

Pasar perangkat infrastruktur tersebut didapat Kadin dari 40% dari pendapatan operator telekomunikasi.

Di tempat yang sama, Menkominfo Sofyan A. Djalil mengungkapkan pemerintah akan memperbesar porsi kandungan lokal dalam industri telekomunikasi, terutama dalam hal konten.

"Pemerintah juga akan berusaha mengembangkan pitalebar (broadband) melalui pembangunan Palapa O2 Ring agar penetrasi di sektor telekomunikasi dan teknologi informasi dapat lebih teratasi," tuturnya.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com