|
Nilai bisnis telekomunikasi seluler di Indonesia tahun ini
diproyeksikan mencapai Rp45 triliun, meningkat 30% dibandingkan tahun
lalu sebesar Rp35 triliun, dipicu oleh peningkatan jumlah pelanggan dan
kebutuhan suara.
Sekjen Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Rudiantara
mengatakan proyeksi akhir tahun tersebut belum mencakup telepon saluran
tetap nirkabel (fixed wireless access/FWA).
"Adanya fenomena calling card dan kartu hangus akibat registrasi
prabayar tidak akan memengaruhi nilai bisnis seluler dan diperdiksi
akan terus meningkat sekitar 30% setiap tahun hingga mencapai Rp45
triliun pada akhir tahun ini," ujarnya pada pembukaan Indonesia
Cellular Show 2006, kemarin.
Menurut Rudi, kenaikan jumlah pelanggan pada 2006 bisa mencapai 50%
dibandingkan akhir tahun lalu, namun diimbangi dengan penurunan
produktivitas atau average revenue per user (ARPU).
Kenaikan tersebut juga dipicu adanya registrasi sehingga pemilik kartu
seluler tidak akan mudah membuang nomornya yang sudah teregistrasi.
Berdasarkan data Ditjen Postel, saat ini jumlah pelanggan seluler
secara nasional lebih dari 53 juta nomor.
ATSI mencatat nilai ARPU tahun lalu sekitar Rp60.000 sampai Rp70.000,
namun tahun ini diprediksi berkisar Rp50.000 hingga Rp60.000.
Data ATSI juga mengungkapkan kontribusi layanan suara terhadap bisnis
seluler mencapai 70%, sementara sisanya datang dari layanan data.
Sedangkan dari kontribusi 30% tersebut, 50% di antaranya merupakan
layanan tambahan bernilai (value added service).
Rudiantara melanjutkan, investasi yang berputar di industri
telekomunikasi seluler tahun ini mencapai US$2 miliar yang berasal dari
rencana belanja modal seluruh operator, naik dibandingkan tahun lalu
US$1,8 miliar.
Proyeksi Kadin
Sebelumnya Kamar dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan
total bisnis telekomunikasi nasional tahun ini mencapai Rp40 triliun,
sementara kontribusi industri dalam negeri hanya berkisar 3%.
Dari jumlah 3% tersebut yang merupakan produk asli nasional hanya
sekitar 0,1% sampai 0,7%.
Berdasarkan hal tersebut, Kadin menilai pertumbuhan infrastruktur yang
pesat belum memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan industri
manufaktur lokal.
Pada 2009, Kadin memperkirakan bisnis telekomunikasi akan mencapai
Rp111 triliun, di mana segmen pasar perangkat telekomunikasi akan
mencapai Rp50 triliun.
Nilai tersebut didapat dari infrastruktur komunikasi tetap Rp15
triliun, komunikasi bergerak Rp24,5 triliun, multimedia Rp5,5 triliun,
dan customer premises equipment (CPE) senilai Rp6 triliun.
Pasar perangkat infrastruktur tersebut didapat Kadin dari 40% dari
pendapatan operator telekomunikasi.
Di tempat yang sama, Menkominfo Sofyan A. Djalil mengungkapkan
pemerintah akan memperbesar porsi kandungan lokal dalam industri
telekomunikasi, terutama dalam hal konten.
"Pemerintah juga akan berusaha mengembangkan pitalebar (broadband)
melalui pembangunan Palapa O2 Ring agar penetrasi di sektor
telekomunikasi dan teknologi informasi dapat lebih teratasi," tuturnya.
|