Index

 11 July 2006

 
Memimpikan perlindungan katastropik nasional 
Bisnis

Semua pasti sepakat jika asuransi merupakan jalan keluar paling efektif mengatasi risiko bencana alam di negeri ini. Apalagi jika mengetahui kenyataan bahwa Nusantara berdiri di jajaran gunung api, dan tumbukan tiga lempeng yang sewaktu-waktu bisa menyebabkan gempa.

Ingin tahu besarnya risiko bencana alam di Indonesia? Mohan Sharma, Head of Catasthrope Modelling and Analytical Services Aon Re Asia, tahu betul jawabannya. Melihat peta geologis Nusantara, secara tegas dia mengatakan bangsa kita hidup di atas cincin api (ring of fire).

Konsekuensinya, sekali gempa terjadi korban jiwa pun berjatuhan dan pemerintah harus merogoh kocek triliunan rupiah merehabilitasi kerusakan. Gempa berke-kuatan 5,9 skala richter, misalnya, me-maksa pemerintah menganggarkan Rp5 triliun untuk merehabilitasi kawasan itu.

Angka itu, setara dengan realisasi penerimaan BPHTB (bea perolehan hak atas tanah dan bangunan) dalam APBN 2006 yang susah payah dikumpulkan dari seluruh penjuru Indonesia.

Kepala Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Isa Rachmatarwata mengakui itu di tengah-tengah sambutannya dalam seminar Insurance and Risk Management in The Face of Catasthrope.

"Setiap terjadi gempa di satu kota, se-perti di Yogyakarta, pemerintah harus mengeluarkan triliunan rupiah. Dan asuransi, merupakan solusi efektif untuk mengatasi permasalahan ini."

Pada titik ini, kesepemahaman antara pelaku usaha dan pemerintah telah tercapai. Namun pada titik selanjutnya yakni menciptakan kondisi di mana asuransi dapat menjadi andalan melindungi bangsa ini dari risiko bencana alam, tampaknya pemerintah masih berpikir ulang.

Pada ujung sambutannya, Isa mengemukakan kenyataan pahit itu. Ketika penutupan risiko katastropik (gempa bumi, tanah longsor, atau banjir) masih membutuhkan kapasitas modal sangat besar dari sisi pelaku industri, permintaan pe-nutupan risiko di Indonesia justru masih sangat rendah dari sisi masyarakat.

"Misalnya Yogyakarta kemarin. Korban yang memiliki perlindungan risiko gempa bumi ternyata jumlahnya sangat kecil."

Memang benar. Sangat jarang masya-rakat di Yogyakarta-dan di wilayah lain di Indonesia-yang memiliki proteksi properti yang komplit, termasuk penutupan risiko gempa. Dari sekitar 300-an polis properti yang ditutup Asuransi Bintang di wilayah Yogyakarta, hanya sekitar 50-70 polis yang memiliki penutupan gempa bumi.

Kondisi serupa juga nampaknya terjadi di perusahaan asuransi lainnya. Mengapa begitu? Satu petugas asuransi menya-takan,"Masyarakat beranggapan buat apa buang-buang premi untuk risiko yang jarang seperti gempa?"

Artinya, percuma jika modal industri asuransi digenjot habis-habisan tapi ma-syarakat tak berminat membeli perlin-dungan. Demikian juga sebaliknya, percuma jika masyarakat sadar membeli asuransi jika akhirnya hanya mampu 'memimpikan klaimnya' karena perusahaan asuransi dalam negeri tak memiliki kapasitas cukup menahan risiko itu.

Telur dan ayam

Di mata kalangan industri perasuransian, situasi kompleks itu menjadi ham-batan utama pengembangan industri penutupan risiko bencana alam di negeri ini.

Direktur Utama PT Reasuransi Nasional Indonesia (Nasional Re) Harry Kaporo mengibaratkan kondisi tersebut seperti sebuah teka-teki lingkaran setan yang sering kita dengar.

"Ini mirip telur dan ayam. Karena harus seimbang antara pemahaman asuransi di masyarakat dan kemampuan penutupan risiko gempa kalangan asuransi yang berujung juga pada premi," ujarnya.

Meski demikian, kata dia, minimal kalangan industri asuransi sudah berusaha bekerja di dua sisi. Pertama dari sisi modal mereka berusaha memperkuat kapasitas penahanan risikonya, sedangkan dari sisi sosialisasi mereka membuat agenda sosialisasi tahunan yakni insurance day.

Di tengah situasi sulit itu, jelas dia, jika pemerintah memiliki political will maka jalan keluar bisa dicapai dengan mudah.

Persoalan political will ini mengingat-kan saya pada pepatah yang pernah disampaikan seorang kawan, "Jangan mencari cincin yang hilang hanya di tempat terang, tapi carilah juga di tempat gelap."

Pepatah itu ditarik dari kisah Abunawas yang merasa kehilangan cincinnya di jalan yang gelap, tapi memilih mencarinya di bawah lampu jalan yang terang. Kisah tersebut menunjukkan betapa manusia cenderung memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan sederhana yang 'terang' dan terukur.

Belajar dari itu, untuk menggapai perlindungan katastropik nasional, pemerintah dan pelaku usaha asuransi perlu memutuskan sikap untuk 'menembus wilayah gelap' untuk memutus lingkaran setan asuransi gempa bumi nasional.

Meminjam ungkapan Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Frans Y. Sahusilawane, kini saatnya pemerintah memilih bagian mana dulu yang diperbaiki untuk merealisasikan perlindungan katastropik secara nasional.

"Mau telur dulu yang dipecahkan atau ayamnya yang diternakkan, pemerintah harus memutuskan mana dulu yang dipilih! Jangan ikut berputar-putar. Tentukan sikap, dan kami akan ikut di belakang," tuturnya.

Dan solusi untuk itu sangat luas. Direktur PT Asuransi Bintang Tbk, Muhaimin Iqbal menawarkan konsep takaful untuk menggarap perlindungan katastropik nasional dengan pemerintah me-nyediakan talangan dana tabarru' jika penutupan klaim masih kurang.

Ada juga konsep Cat Bond (catastropic bond) yakni obligasi negara seperti di AS, atau compulsory insurance seperti di Turki dengan pemerintah memberikan subsidi untuk meringankan harga premi.

Pilihan itu ada, lalu mengapa tak kunjung diambil? Bisa jadi karena kita keasyikan menjadi Abunawas yang memilih mencari jawaban di tempat terang saja.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com