Index

 19 July 2006

 
Investor kembali ke Batam 
Bisnis

Sedikitnya delapan perusahaan asal Singapura segera menanamkan modal di Batam dan Bintan, menyusul kesepakatan pada 25 Juni 2006 antara pemerintah Indonesia dan Singapura untuk membentuk kawasan ekonomi khusus (KEK) di daerah itu.

Kembalinya investor ke Batam memberikan angin segar bagi iklim investasi di pulau kawasan industri yang mulai ditinggalkan sejumlah perusahaan itu akibat ketidakpastian payung hukum bagi kawasan perdagangan bebas serta pemberlakuan kembali pajak pertambahan nilai (PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) sejak 2004.

Gubernur Kepulauan Riau Ismeth Abdullah mengungkapkan delapan perusahaan asal Singapura segera merealisasikan investasi sekitar US$31,6 juta dengan rencana penyerapan tenaga kerja 2.000 orang.

"Kami akan menandatangani memorandum of understanding dengan investor itu pada 1 Agustus. Kami menilai ini merupakan langkah awal yang sangat baik bagi pembentukan kawasan ekonomi khusus dan perkembangan investasi di Batam ke depan," katanya di Batam kemarin.

Menurut Ismeth, tujuh perusahaan akan menanamkan modal mereka di Batam senilai US$18,3 juta (sekitar Sin$30 juta). Perusahaan itu antara lain akan membuka usaha angkutan penyeberangan serta pembuatan dan perbaikan kapal.

Satu investor lainnya, yakni Tiong Won, akan membangun pabrikasi anjungan lepas pantai dengan investasi Sin$20 juta (US$13,3 juta) di Bintan. "Mereka diharapkan segera beroperasi, sebab perizinan sudah tidak ada masalah, sekarang semua perizinan ditangani oleh daerah."

Ismeth mengatakan pemprov segera melakukan uji coba perizinan melalui kantor pelayanan satu atap (one stop service) di Batam, Bintan, dan Karimun mulai 25 Juli. "Uji coba itu dimulai bertepatan dengan pertemuan joint working group KEK di Batam."

Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri Daerah Batam, selama 2004-2005 terjadi sejumlah penutupan dan relokasi pabrik di sektor manufaktur, seperti di kawasan industri Sekupang, Batamindo Industrial Park, Megacipta Industrial Park, Malindo Industrial Park, Walakaka Industrial Park.

Sedikitnya delapan perusahaan dilaporkan telah menutup usaha dan 10 pabrik lainnya direlokasi ke negara lain dan Jakarta.

Proyek infrastruktur

Mengantisipasi masuknya kembali investor ke Batam dan sekitarnya, kata Ismeth, mulai tahun ini Pemprov Kepri memulai sejumlah proyek infrastruktur, seperti listrik, air minum, jalan, dan transportasi.

Menurut dia, pemprov akan menambah pasokan gas ke Batam dan melalui pipanisasi akan dialirkan ke Bintan dan Karimun. "Kami bekerja sama dengan Perusahaan Gas Negara untuk merealisasikan proyek yang diharapkan selesai dalam satu tahun ke depan itu."

Ismeth mengatakan kapasitas pembangkit listrik di Batam saat ini sekitar 400 MW yang berbahan bakar minyak. "Ke depan bahan bakar pembangkit akan diganti semua dengan gas. Pembangkit baru berkapasitas 2 x 25 MW juga segera diselesaikan, sementara kekurangan listrik di Bintan akan diinterkoneksi dari Batam."

Menurut dia, pemprov sudah menandatangani MoU dengan PLN untuk pembangunan sejumlah pembangkit di Bintan.

Selain listrik, kata Ismeth, arus barang dan penumpang juga akan ditingkatkan. "Kami akan memperluas pelabuhan kargo di Batam, Bintan, dan Karimun. Landasan Bandara Tanjung Pinang juga akan diperpanjang dari 1.800 meter menjadi 2.200 meter, sehingga bisa didarati pesawat berbadan lebar, seperti Boeing 737."

Dia mengatakan proyek perluasan bandara itu segera dilakukan tahun ini dengan dana APBD. "Bandara Karimun juga ditambah landas pacunya dari 800 meter menjadi 1.600 meter dengan menggunakan dana APBN dan APBD."

Pemprov Kepri juga akan menyubsidi penerbangan berjadwal ke Kabupaten Lingga dan Natuna. "Tendernya sedang berlangsung yang diikuti oleh sejumlah operator yang akan mengoperasikan pesawat baling-baling."

Untuk transportasi laut, menurut dia, mulai tahun ini pemprov menyewa dua kapal cepat untuk memperpendek waktu tembuh antarpulau. Mulai Agustus, jadwal penyeberangan antarpulau akan bertambah dari 12 hari sekali menjadi empat hari sekali dari sejumlah pulau ke Batam. "Kami menenderkan ke swasta untuk menyediakan kapal berkapasitas 200 penumpang ditambah kargo."

Gubernur mengharapkan investasi dan pembangunan infrastruktur di Batam dapat meningkatkan perekonomian daerah-daerah di luar Batam, mengingat kesenjangan ekonomi yang masih tinggi.

Saat ini pendapatan per kapita di Kepri sekitar US$1.500, terutama disumbang oleh pendapatan Batam yang mencapai US$2.500, sedangkan di pulau-pulau lain sekitar US$600 per kapita per tahun.

Ismeth memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Batam akan mencapai 8,2% pada 2007. Tahun lalu Batam mencatat pertumbuhan 7,8%, sementara daerah di luar Batam kurang dari 6%.

"Kami berharap pertumbuhan ekonomi Batam sekitar 8,2%-8,5% pada 2007, sementara Kepri secara keseluruhan diharapkan mencapai 6,5%.".

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com