|
Sedikitnya delapan perusahaan asal Singapura segera
menanamkan modal di Batam dan Bintan, menyusul kesepakatan pada 25 Juni
2006 antara pemerintah Indonesia dan Singapura untuk membentuk kawasan
ekonomi khusus (KEK) di daerah itu.
Kembalinya investor ke Batam memberikan angin segar bagi iklim
investasi di pulau kawasan industri yang mulai ditinggalkan sejumlah
perusahaan itu akibat ketidakpastian payung hukum bagi kawasan
perdagangan bebas serta pemberlakuan kembali pajak pertambahan nilai
(PPN) dan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) sejak 2004.
Gubernur Kepulauan Riau Ismeth Abdullah mengungkapkan delapan
perusahaan asal Singapura segera merealisasikan investasi sekitar
US$31,6 juta dengan rencana penyerapan tenaga kerja 2.000 orang.
"Kami akan menandatangani memorandum of understanding dengan investor
itu pada 1 Agustus. Kami menilai ini merupakan langkah awal yang sangat
baik bagi pembentukan kawasan ekonomi khusus dan perkembangan investasi
di Batam ke depan," katanya di Batam kemarin.
Menurut Ismeth, tujuh perusahaan akan menanamkan modal mereka di Batam
senilai US$18,3 juta (sekitar Sin$30 juta). Perusahaan itu antara lain
akan membuka usaha angkutan penyeberangan serta pembuatan dan perbaikan
kapal.
Satu investor lainnya, yakni Tiong Won, akan membangun pabrikasi
anjungan lepas pantai dengan investasi Sin$20 juta (US$13,3 juta) di
Bintan. "Mereka diharapkan segera beroperasi, sebab perizinan sudah
tidak ada masalah, sekarang semua perizinan ditangani oleh daerah."
Ismeth mengatakan pemprov segera melakukan uji coba perizinan melalui
kantor pelayanan satu atap (one stop service) di Batam, Bintan, dan
Karimun mulai 25 Juli. "Uji coba itu dimulai bertepatan dengan
pertemuan joint working group KEK di Batam."
Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri Daerah Batam, selama
2004-2005 terjadi sejumlah penutupan dan relokasi pabrik di sektor
manufaktur, seperti di kawasan industri Sekupang, Batamindo Industrial
Park, Megacipta Industrial Park, Malindo Industrial Park, Walakaka
Industrial Park.
Sedikitnya delapan perusahaan dilaporkan telah menutup usaha dan 10
pabrik lainnya direlokasi ke negara lain dan Jakarta.
Proyek infrastruktur
Mengantisipasi masuknya kembali investor ke Batam dan sekitarnya, kata
Ismeth, mulai tahun ini Pemprov Kepri memulai sejumlah proyek
infrastruktur, seperti listrik, air minum, jalan, dan transportasi.
Menurut dia, pemprov akan menambah pasokan gas ke Batam dan melalui
pipanisasi akan dialirkan ke Bintan dan Karimun. "Kami bekerja sama
dengan Perusahaan Gas Negara untuk merealisasikan proyek yang
diharapkan selesai dalam satu tahun ke depan itu."
Ismeth mengatakan kapasitas pembangkit listrik di Batam saat ini
sekitar 400 MW yang berbahan bakar minyak. "Ke depan bahan bakar
pembangkit akan diganti semua dengan gas. Pembangkit baru berkapasitas
2 x 25 MW juga segera diselesaikan, sementara kekurangan listrik di
Bintan akan diinterkoneksi dari Batam."
Menurut dia, pemprov sudah menandatangani MoU dengan PLN untuk
pembangunan sejumlah pembangkit di Bintan.
Selain listrik, kata Ismeth, arus barang dan penumpang juga akan
ditingkatkan. "Kami akan memperluas pelabuhan kargo di Batam, Bintan,
dan Karimun. Landasan Bandara Tanjung Pinang juga akan diperpanjang
dari 1.800 meter menjadi 2.200 meter, sehingga bisa didarati pesawat
berbadan lebar, seperti Boeing 737."
Dia mengatakan proyek perluasan bandara itu segera dilakukan tahun ini
dengan dana APBD. "Bandara Karimun juga ditambah landas pacunya dari
800 meter menjadi 1.600 meter dengan menggunakan dana APBN dan APBD."
Pemprov Kepri juga akan menyubsidi penerbangan berjadwal ke Kabupaten
Lingga dan Natuna. "Tendernya sedang berlangsung yang diikuti oleh
sejumlah operator yang akan mengoperasikan pesawat baling-baling."
Untuk transportasi laut, menurut dia, mulai tahun ini pemprov menyewa
dua kapal cepat untuk memperpendek waktu tembuh antarpulau. Mulai
Agustus, jadwal penyeberangan antarpulau akan bertambah dari 12 hari
sekali menjadi empat hari sekali dari sejumlah pulau ke Batam. "Kami
menenderkan ke swasta untuk menyediakan kapal berkapasitas 200
penumpang ditambah kargo."
Gubernur mengharapkan investasi dan pembangunan infrastruktur di Batam
dapat meningkatkan perekonomian daerah-daerah di luar Batam, mengingat
kesenjangan ekonomi yang masih tinggi.
Saat ini pendapatan per kapita di Kepri sekitar US$1.500, terutama
disumbang oleh pendapatan Batam yang mencapai US$2.500, sedangkan di
pulau-pulau lain sekitar US$600 per kapita per tahun.
Ismeth memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Batam akan mencapai 8,2% pada
2007. Tahun lalu Batam mencatat pertumbuhan 7,8%, sementara daerah di
luar Batam kurang dari 6%.
"Kami berharap pertumbuhan ekonomi Batam sekitar 8,2%-8,5% pada 2007,
sementara Kepri secara keseluruhan diharapkan mencapai 6,5%.".
|