Index

 24 August 2006

 
Di balik kegagalan transaksi Bumi-Borneo
Bisnis

Tak cocok soal harga akhirnya membuyarkan harapan pemegang saham minoritas PT Bumi Resources Tbk. Bumi ngotot pada nilai

divestasi US$3,25 miliar, sedangkan calon pembelinya PT Borneo Lumbung Energi dikabarkan meminta US$2,8 miliar.

Janji manis dividen yang ditunggu-tunggu pemegang saham minoritas Bumi sejak tiga bulan terakhir, akhirnya menguap tak

berbekas.

Tanpa duit dari hasil penjualan saham PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia, bagaimana Bumi membagikan dividen,

membeli kembali sahamnya, dan membeli saham Energi sebagai upaya merger? Di sisi lain, utang Bumi senilai US$800 juta yang

menganga minta dibiayai kembali.

Lima bulan lalu, sejak kesepakatan perjanjian jual beli bersyarat antara Bumi dan Borneo diteken, saham Bumi menjadi incaran

pemodal. Intinya hanya satu yaitu dengan diperolehnya kocek US$3,25 miliar dari hasil penjualan saham KPC dan Arutmin, Bumi

akan membagikan dividen sekitar Rp190 per saham.

Tak heran bila semua mata dan telinga memerhatikan pergerakan saham Bumi sekaligus penutupan leverage buyout terbesar di

Indonesia. Leverage buyout merupakan akuisisi yang dibiayai oleh utang dengan jaminan aset yang akan dibeli tersebut.

Meski dalam perjanjian jual beli saham itu Bumi dan Borneo sepakat menutup transaksi paling lambat pada 30 September 2006,

kedua pihak setuju membatalkan transaksi lebih awal. Hal itu kemungkinan karena kinerja aset yang akan diakuisisi tak sesuai

dengan asumsi semula.

Borneo mendapatkan komitmen pinjaman sindikasi US$1,6 miliar dari 34 kreditor, US$700 juta berupa obligasi konversi dan

US$500 juta berbentuk mezzanine, utang yunior, yang diatur oleh UOB Singapura. "Kami sudah mendapatkan komitmen pinjaman,"

ujar Arwan Ahimsa, Direktur Borneo.

Semula, closing juga diharapkan dapat dilakukan akhir Juni. Namun hingga pekan lalu, tanda-tanda penutupan transaksi leverage

buyout juga belum terlihat.

Bulan lalu, satu eksekutif yang mengetahui transaksi itu mengatakan persoalan yang masih mengganjal adalah perolehan consent

letter dari kontraktor KPC.

"Ada dua atau tiga kontraktor KPC yang sampai sekarang belum memberikan consent letter, salah satunya adalah Thiess

Contractor dan perusahaan pembiayaan dari Jepang Percuma saja consent itu dicari, toh kesepakatan jual beli itu dibatalkan

Bumi dan Borneo."

Dua pembeli

Sebelum mencapai kesepakatan jual beli akuisisi KPC dan Arutmin, lima investor diketahui juga mengincar tambang batu bara

milik Bumi tersebut.

Kelima investor itu adalah Texas Pacific Group, private equity AS, yang baru diketahui bermitra dengan hedge fund Farallon

Capital, BUMN dari Brasil yang bernama CVRD, J-Power dari Jepang, Tai Power dari Taiwan, dan Mitsubishi Jepang.

Eksekutif tadi mengatakan di antara lima investor tersebut, konsorsium Texas Pacific Group-Farallon dan Mitsubishi terlihat

mendekati pemilik tambang batu bara tersebut. "Dua pembeli raksasa itu sepertinya masih berminat mengakuisisi KPC dan

Arutmin," tutur eksekutif tadi.

Kabar terakhir menyebutkan Bumi tidak menjual seluruh saham KPC dan Arutmin, tetapi hanya 20% saham kepada calon pembeli dari

Jepang.

Bankir investasi asing yang mengetahui transaksi itu mengatakan KPC dan Arutmin tidak akan laku dijual kalau harganya US$3,25

miliar. "Siapa yang mau beli dengan US$3,25 miliar. Sulit laku kalau Bumi tetap ngotot.

Menurut dia, konsorsium TPG-Farallon sempat menawar tambang batu bara itu pada kisaran US$2,6 miliar di mana US$500 juta akan

disetorkan ke rekening penampungan. "Kalau dihitung bersih, TPG-Farallon hanya membayar U$2,1 miliar. Tapi, apakah Bumi

bersedia melepas aset utamanya?" katanya.

TPG-Farallon juga harus menjalani uji tuntas terhadap aset tersebut. "Apakah Bumi membolehkan calon pembeli due diligence KPC

dan Arutmin dengan harga penawaran yang lebih rendah."

Sumber yang tak mau disebutkan namanya seperti dikutip Bloomberg mengatakan laporan tengan tahunan Bumi menunjukkan biaya

produksi KPC dan Arutmin lebih tinggi dari yang anggaran yang diprediksi semula. Akibatnya Borneo meminta Bumi menurunkan

harga di mana kedua pihak itu gagal mencapai kesepakatan.

Eksekutif tadi menambahkan pembengkakan biaya produksi KPC dan Arutmin itu akibat stripping ratio, rasio antara tanah yang

diambil dan batu bara, yang semakin tinggi. Batu bara yang mudah ditambang, telah diambil sebelumnya sejak Bumi mengakuisisi

kedua tambang tersebut.

Pada 2001, Bumi membeli 80% Arutmin dari BHP Billiton senilai US$148,5 juta dan 20% dari Grup Bakrie sebesar US$37 juta. Dua

tahun kemudian, Bumi membeli KPC senilai US$500 juta dari BP Plc dan Rio Tinto Group.

"Semakin dalam batu bara di suatu tambang, biaya pengerukan tanah akan semakin bertambah. Meski cadangan KPC sangat besar,

tetapi biayanya meningkat terus karena semakin dalam."

Akibatnya EBITDA KPC per Juni 2006 diperkirakan tergerus oleh kenaikan biaya produksi.

Ketika dikonfirmasi, Sekretaris Perusahaan Bumi Geroad Jusuf mengatakan tidak dapat berkomentar sebelum paparan publik. "Jika

Bumi akan menjual dua tambang batu baranya, mungkin harus dilakukan pada harga yang lebih rendah. Pembeli dan kreditor

mungkin melihat laba dua tambang itu tidak meyakinkan," tutur Sebastian Tobing, analis saham PT Trimegah Securities, seperti

dikutip Bloomberg.

Tetap jalan

Terhadap berbagai spekulasi tersebut Direktur Utama Bumi Ari S. Hudaya tetap optimistis kalau sejumlah aksi korporasi yang

direncanakan itu tetap akan dilaksanakan. Menurut dia, Bumi akan menggunakan dana hasil divestasi anak usahanya, di samping

mencari pinjaman dari beberapa bank, untuk membeli kembali (buy back) sahamnya sebesar maksimal 10% dari jumlah saham

beredar.

Aksi pembelian kembali itu merupakan salah satu aksi korporasi yang akan tetap diambil, di samping tiga aksi lain yakni

divestasi anak usaha, pembagian dividen, dan merger dengan PT Energi Mega Persada Tbk.

Selain menggunakan dana hasil divestasi untuk membeli ulang sahamnya, Bumi juga akan menarik utang dari beberapa bank

investasi. Saat ini, proses penjajakan dengan beberapa bank itu masih berlangsung.

"Ada beberapa bank yang telah menawarkan dan kami sedang melihat mana yang lebih sesuai," tutur Ari kepada Bisnis, kemarin.

Meski demikian, ujar dia, dana buy back saham itu utamanya akan berasal dari hasil divestasi tersebut. "Nantinya sebagian

dana hasil divestasi itu untuk buy back saham."

Karena itu, lanjut dia, proses divestasi atas di PT Kaltim Prima Coal, PT Arutmin Indonesia, Indocoal Resources Cayment

Limited, Indocoal Kaltim Limited, dan Indocoal Kalsel Limited, akan dilanjutkan. Ary menepis kegagalan negosiasi itu dipicu

rendahnya pendapatan sebelum pajak (EBITDA) KPC.

"Tidak benar. Kami tak bicara itu. Sampai sekarang KPC beroperasi secara normal dan penjualan juga berjalan seperti biasa,"

jelasnya.

Dia juga menepis dugaan adanya penurunan nilai penjualan aset-aset anak usahanya menjadi sebesar US$2,8 miliar, dari

perkiraan semula US$3,2 miliar.

Kendati proses divestasi aset dengan Borneo tak diteruskan, namun perseroan akan memegang komitmen yang telah disetujui

pemegang saham yakni melanjutkan divestasi, membagi dividen, buy back saham, dan merger dengan PT Energi Mega Persada Tbk

(Energi).

"Bumi tetap berpegang teguh pada komitmen awal untuk melakukan serangkaian corporate action yang telah disetujui pemegang

saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB)," tuturnya.

Terlebih, lanjut dia, BUMI telah menerima tawaran-tawaran dari calon pembeli potensial lainnya termasuk investor asing. Para

investor tersebut bertujuan menjadi pemilik saham minoritas pada aset batu bara yang akan didivestasi, dan konsisten dengan

penghitungan nilai wajar. "Kalau soal nama, saya belum bisa men-disclose."

Di samping untuk melakukan buy back, dana hasil divestasi itu nantinya juga untuk membayar dividen. Dalam RUPSLB telah

diusulkan maksimum dividen adalah Rp190 per saham, namun perseroan memperkirakan besaran dividen itu kemungkinan belum bisa

mencapai angka maksimum.

Laba Bumi triwulan pertama anjlok 48% menjadi US$24,67 juta akibat biaya BBM yang lebih tinggi. Biaya produksi di unit

pertambangan Bumi naik 25% pada triwulan pertama karena harga BBM yang lebih tinggi di mana curah hujan yang tinggi

menyulitkan operasi.

Kedua tambang itu memprediksi dapat menghasilkan 51,2 juta ton baru bara tahun ini di mana 34 juta akan berasal dari KPC dan

selebihnya dari Arutmin. Kombinasi produksi gabungan tambang itu mencapai 44,4 juta ton tahun lalu, sepertiga dari produksi

batu bara Indonesia.

Tahun lalu, laba sebelum keuntungan atau beban pajak KPC merosot menjadi US$110,24 juta dari tahun sebelumnya US$160,96 juta.

Laba usaha KPC juga tergerus signifikan menjadi US$128,63 juta tahun lalu dari posisi 2004 yang masih mencapai US$184,9 juta

akibat akibat kenaikan biaya operasi.

Begitu juga dengan Arutmin Indonesia di mana laba sebelum keuntungan atau provisi terjungkal tahun lalu menjadi hanya US$5,75

juta dari posisi 2004 yang masih mencapai US$52,5 juta.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com