|
Tak cocok soal harga akhirnya membuyarkan harapan pemegang
saham minoritas PT Bumi Resources Tbk. Bumi ngotot pada nilai
divestasi US$3,25 miliar, sedangkan calon pembelinya PT Borneo Lumbung
Energi dikabarkan meminta US$2,8 miliar.
Janji manis dividen yang ditunggu-tunggu pemegang saham minoritas Bumi
sejak tiga bulan terakhir, akhirnya menguap tak
berbekas.
Tanpa duit dari hasil penjualan saham PT Kaltim Prima Coal dan PT
Arutmin Indonesia, bagaimana Bumi membagikan dividen,
membeli kembali sahamnya, dan membeli saham Energi sebagai upaya
merger? Di sisi lain, utang Bumi senilai US$800 juta yang
menganga minta dibiayai kembali.
Lima bulan lalu, sejak kesepakatan perjanjian jual beli bersyarat
antara Bumi dan Borneo diteken, saham Bumi menjadi incaran
pemodal. Intinya hanya satu yaitu dengan diperolehnya kocek US$3,25
miliar dari hasil penjualan saham KPC dan Arutmin, Bumi
akan membagikan dividen sekitar Rp190 per saham.
Tak heran bila semua mata dan telinga memerhatikan pergerakan saham
Bumi sekaligus penutupan leverage buyout terbesar di
Indonesia. Leverage buyout merupakan akuisisi yang dibiayai oleh utang
dengan jaminan aset yang akan dibeli tersebut.
Meski dalam perjanjian jual beli saham itu Bumi dan Borneo sepakat
menutup transaksi paling lambat pada 30 September 2006,
kedua pihak setuju membatalkan transaksi lebih awal. Hal itu
kemungkinan karena kinerja aset yang akan diakuisisi tak sesuai
dengan asumsi semula.
Borneo mendapatkan komitmen pinjaman sindikasi US$1,6 miliar dari 34
kreditor, US$700 juta berupa obligasi konversi dan
US$500 juta berbentuk mezzanine, utang yunior, yang diatur oleh UOB
Singapura. "Kami sudah mendapatkan komitmen pinjaman,"
ujar Arwan Ahimsa, Direktur Borneo.
Semula, closing juga diharapkan dapat dilakukan akhir Juni. Namun
hingga pekan lalu, tanda-tanda penutupan transaksi leverage
buyout juga belum terlihat.
Bulan lalu, satu eksekutif yang mengetahui transaksi itu mengatakan
persoalan yang masih mengganjal adalah perolehan consent
letter dari kontraktor KPC.
"Ada dua atau tiga kontraktor KPC yang sampai sekarang belum memberikan
consent letter, salah satunya adalah Thiess
Contractor dan perusahaan pembiayaan dari Jepang Percuma saja consent
itu dicari, toh kesepakatan jual beli itu dibatalkan
Bumi dan Borneo."
Dua pembeli
Sebelum mencapai kesepakatan jual beli akuisisi KPC dan Arutmin, lima
investor diketahui juga mengincar tambang batu bara
milik Bumi tersebut.
Kelima investor itu adalah Texas Pacific Group, private equity AS, yang
baru diketahui bermitra dengan hedge fund Farallon
Capital, BUMN dari Brasil yang bernama CVRD, J-Power dari Jepang, Tai
Power dari Taiwan, dan Mitsubishi Jepang.
Eksekutif tadi mengatakan di antara lima investor tersebut, konsorsium
Texas Pacific Group-Farallon dan Mitsubishi terlihat
mendekati pemilik tambang batu bara tersebut. "Dua pembeli raksasa itu
sepertinya masih berminat mengakuisisi KPC dan
Arutmin," tutur eksekutif tadi.
Kabar terakhir menyebutkan Bumi tidak menjual seluruh saham KPC dan
Arutmin, tetapi hanya 20% saham kepada calon pembeli dari
Jepang.
Bankir investasi asing yang mengetahui transaksi itu mengatakan KPC dan
Arutmin tidak akan laku dijual kalau harganya US$3,25
miliar. "Siapa yang mau beli dengan US$3,25 miliar. Sulit laku kalau
Bumi tetap ngotot.
Menurut dia, konsorsium TPG-Farallon sempat menawar tambang batu bara
itu pada kisaran US$2,6 miliar di mana US$500 juta akan
disetorkan ke rekening penampungan. "Kalau dihitung bersih,
TPG-Farallon hanya membayar U$2,1 miliar. Tapi, apakah Bumi
bersedia melepas aset utamanya?" katanya.
TPG-Farallon juga harus menjalani uji tuntas terhadap aset tersebut.
"Apakah Bumi membolehkan calon pembeli due diligence KPC
dan Arutmin dengan harga penawaran yang lebih rendah."
Sumber yang tak mau disebutkan namanya seperti dikutip Bloomberg
mengatakan laporan tengan tahunan Bumi menunjukkan biaya
produksi KPC dan Arutmin lebih tinggi dari yang anggaran yang
diprediksi semula. Akibatnya Borneo meminta Bumi menurunkan
harga di mana kedua pihak itu gagal mencapai kesepakatan.
Eksekutif tadi menambahkan pembengkakan biaya produksi KPC dan Arutmin
itu akibat stripping ratio, rasio antara tanah yang
diambil dan batu bara, yang semakin tinggi. Batu bara yang mudah
ditambang, telah diambil sebelumnya sejak Bumi mengakuisisi
kedua tambang tersebut.
Pada 2001, Bumi membeli 80% Arutmin dari BHP Billiton senilai US$148,5
juta dan 20% dari Grup Bakrie sebesar US$37 juta. Dua
tahun kemudian, Bumi membeli KPC senilai US$500 juta dari BP Plc dan
Rio Tinto Group.
"Semakin dalam batu bara di suatu tambang, biaya pengerukan tanah akan
semakin bertambah. Meski cadangan KPC sangat besar,
tetapi biayanya meningkat terus karena semakin dalam."
Akibatnya EBITDA KPC per Juni 2006 diperkirakan tergerus oleh kenaikan
biaya produksi.
Ketika dikonfirmasi, Sekretaris Perusahaan Bumi Geroad Jusuf mengatakan
tidak dapat berkomentar sebelum paparan publik. "Jika
Bumi akan menjual dua tambang batu baranya, mungkin harus dilakukan
pada harga yang lebih rendah. Pembeli dan kreditor
mungkin melihat laba dua tambang itu tidak meyakinkan," tutur Sebastian
Tobing, analis saham PT Trimegah Securities, seperti
dikutip Bloomberg.
Tetap jalan
Terhadap berbagai spekulasi tersebut Direktur Utama Bumi Ari S. Hudaya
tetap optimistis kalau sejumlah aksi korporasi yang
direncanakan itu tetap akan dilaksanakan. Menurut dia, Bumi akan
menggunakan dana hasil divestasi anak usahanya, di samping
mencari pinjaman dari beberapa bank, untuk membeli kembali (buy back)
sahamnya sebesar maksimal 10% dari jumlah saham
beredar.
Aksi pembelian kembali itu merupakan salah satu aksi korporasi yang
akan tetap diambil, di samping tiga aksi lain yakni
divestasi anak usaha, pembagian dividen, dan merger dengan PT Energi
Mega Persada Tbk.
Selain menggunakan dana hasil divestasi untuk membeli ulang sahamnya,
Bumi juga akan menarik utang dari beberapa bank
investasi. Saat ini, proses penjajakan dengan beberapa bank itu masih
berlangsung.
"Ada beberapa bank yang telah menawarkan dan kami sedang melihat mana
yang lebih sesuai," tutur Ari kepada Bisnis, kemarin.
Meski demikian, ujar dia, dana buy back saham itu utamanya akan berasal
dari hasil divestasi tersebut. "Nantinya sebagian
dana hasil divestasi itu untuk buy back saham."
Karena itu, lanjut dia, proses divestasi atas di PT Kaltim Prima Coal,
PT Arutmin Indonesia, Indocoal Resources Cayment
Limited, Indocoal Kaltim Limited, dan Indocoal Kalsel Limited, akan
dilanjutkan. Ary menepis kegagalan negosiasi itu dipicu
rendahnya pendapatan sebelum pajak (EBITDA) KPC.
"Tidak benar. Kami tak bicara itu. Sampai sekarang KPC beroperasi
secara normal dan penjualan juga berjalan seperti biasa,"
jelasnya.
Dia juga menepis dugaan adanya penurunan nilai penjualan aset-aset anak
usahanya menjadi sebesar US$2,8 miliar, dari
perkiraan semula US$3,2 miliar.
Kendati proses divestasi aset dengan Borneo tak diteruskan, namun
perseroan akan memegang komitmen yang telah disetujui
pemegang saham yakni melanjutkan divestasi, membagi dividen, buy back
saham, dan merger dengan PT Energi Mega Persada Tbk
(Energi).
"Bumi tetap berpegang teguh pada komitmen awal untuk melakukan
serangkaian corporate action yang telah disetujui pemegang
saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB)," tuturnya.
Terlebih, lanjut dia, BUMI telah menerima tawaran-tawaran dari calon
pembeli potensial lainnya termasuk investor asing. Para
investor tersebut bertujuan menjadi pemilik saham minoritas pada aset
batu bara yang akan didivestasi, dan konsisten dengan
penghitungan nilai wajar. "Kalau soal nama, saya belum bisa
men-disclose."
Di samping untuk melakukan buy back, dana hasil divestasi itu nantinya
juga untuk membayar dividen. Dalam RUPSLB telah
diusulkan maksimum dividen adalah Rp190 per saham, namun perseroan
memperkirakan besaran dividen itu kemungkinan belum bisa
mencapai angka maksimum.
Laba Bumi triwulan pertama anjlok 48% menjadi US$24,67 juta akibat
biaya BBM yang lebih tinggi. Biaya produksi di unit
pertambangan Bumi naik 25% pada triwulan pertama karena harga BBM yang
lebih tinggi di mana curah hujan yang tinggi
menyulitkan operasi.
Kedua tambang itu memprediksi dapat menghasilkan 51,2 juta ton baru
bara tahun ini di mana 34 juta akan berasal dari KPC dan
selebihnya dari Arutmin. Kombinasi produksi gabungan tambang itu
mencapai 44,4 juta ton tahun lalu, sepertiga dari produksi
batu bara Indonesia.
Tahun lalu, laba sebelum keuntungan atau beban pajak KPC merosot
menjadi US$110,24 juta dari tahun sebelumnya US$160,96 juta.
Laba usaha KPC juga tergerus signifikan menjadi US$128,63 juta tahun
lalu dari posisi 2004 yang masih mencapai US$184,9 juta
akibat akibat kenaikan biaya operasi.
Begitu juga dengan Arutmin Indonesia di mana laba sebelum keuntungan
atau provisi terjungkal tahun lalu menjadi hanya US$5,75
juta dari posisi 2004 yang masih mencapai US$52,5 juta.
|