|
Rencana merger PT Bumi Resources Tbk dan PT Energi Mega
Persada Tbk diundur dari jadwal semula karena valuasi ulang yang harus
dilakukan menyusul batalnya divestasi PT Kaltim Prima Coal (KPC) dan PT
Arutmin Indonesia.
Direktur Keuangan Bumi Eddie Soebari mengatakan rapat umum pemegang
saham luar biasa (RUPSLB) Bumi, yang dijadwalkan pada 19 September
tentang merger dengan Energi Mega, akan diundur.
"Saya perkirakan mundur [RUPSLB]. Kami memerlukan waktu untuk
revaluasi. Saya masih berharap masih tahun ini, tetapi kapan saya belum
mengetahui," tuturnya seusai paparan publik kedua perusahaan itu
kemarin.
Rencana semula, penggabungan usaha antara Bumi dan Energi menggunakan
rasio satu saham energi dengan satu saham Bumi.
Menurut Eddie, valuasi merger tentu harus ada perubahan, karena
perhitungan yang lalu tentu tidak valid lagi. "Jika revaluasi
memerlukan waktu satu bulan, merger diperkirakan rampung
November-Desember."
Kepala Biro Penilaian Keuangan Sektor Riil Bapepam-LK Nurhaida
mengatakan otoritas pasar modal juga akan meminta agar ada penilaian
ulang terhadap saham karena gagalnya divestasi tersebut akan
memengaruhi harga.
Menurut dia, pelaksanaan merger bisa ditunda dari yang ditetapkan,
karena Bapepam tentunya akan meminta dokumen lainnya, khususnya terkait
dengan penilaian saham.
Pada Maret lalu, Bumi dan Borneo meneken kesepakatan perjanjian jual
beli KPC dan Arutmin dengan harga US$3,25 miliar. Kemudian transaksi
itu batal karena keduanya tidak sepakat soal harga.
Kinerja buruk
Direktur Utama Bumi Ary S. Hudaya membantah KPC dan Arutmin memiliki
kinerja buruk hingga menurunkan nilai jual kedua perusahaan itu. "Saya
percaya diri dengan kondisi perusahaan sekarang," tuturnya seusai
paparan publik, kemarin.
Dia menjelaskan anak usahanya itu masih memiliki resource batu bara
dalam jumlah besar, yakni melampaui lima miliar ton, sehingga nilai
jualnya masih sangat besar.
Ary Hudaya juga menolak isu kedua anak usahanya itu mengalami gagal
bayar (default). Buktinya, kata dia, bank-bank selama ini masih mau
mengucurkan dana bagi usahanya.
Sementara itu, manajemen Bumi juga menolak berkomentar ketika ditanya
soal Borneo yang meminta penurunan harga pembelian dari semula US$3,25
miliar.
Bahkan Eddie tidak bersedia menanggapi soal pembiayaan Borneo.
Presdir Renaissance Capital dan Presdir Borneo Samin Tan menegaskan tak
ada masalah dengan pendanaan. "Kami hanya tidak sepakat masalah working
capital," tegasnya kepada Bisnis.
|