Index

 03 September 2006

 
Bakrie Sumatera emisi obligasi US$120 juta
Bisnis

PT Bakrie Sumatera Plantations (BSP) Tbk berencana menjual obligasi sebesar US$120 juta pada akhir September untuk membangun pabrik biodiesel dan membiayai kembali (refinancing) utang.

Jumlah utang yang di-refinancing adalah US$69 juta yang semula diperoleh BSP dari RZB-Austria, Barclays Bank Plc, ICICI Bank Ltd, West LB AG, RHB Bank (L) Ltd, dan Moscow Narodny Bank Ltd. Selain itu, BSP menyediakan dana sebesar US$25 juta untuk membangun pabrik diesel.

Komisaris BSP Yuanita Rohali mengatakan obligasi yang diterbitkan mempunyai tenor selama lima tahun.

"Kami mempunyai harapan tingkat imbal hasil yang ditawarkan berkisar 10,5% namun ini tergantung dengan kondisi pasar,"ujarnya, kemarin.

Dia menjelaskan dengan refinancing utang yang didapatkan dari RZB, perseroan bisa tumbuh lebih leluasa dengan menggunakan dana dari penerbitan obligasi. "Kalau perusahaan punya investment loan dari RZB harus di-refinancing supaya bisa lebih ekspansif. Sisa dana dari penerbitan obligasi yang sebesar US$26 juta digunakan untuk ekspansi usaha baik akuisisi lahan.

Yuanita menuturkan penerbitan obligasi ini tidak dijamin dengan aktiva perusahaan, sehingga tidak diperlukan persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS).

Ekspektasi kinerja BSP
*    Penjualan meningkat 12% menjadi US$101,9 juta tahun ini
*    Produksi CPO bertambah 24% tahun ini
*    BSP mampu memproduksi 200.000 ton CPO pada 2008
Sumber : Bloomberg, diolah

Dari target penambahan lahan 100.000 hektare hingga 2007, BSP menargetkan bisa merealisasikan pengembangan lahan baru seluas 10.000 hektare pada tahun ini di dua lokasi, yakni 6.000 hektare di Jambi dan 4.000 hektare di Kalteng

Penambahan lahan seluas 10.000 hektare itu bakal menggunakan sisa dana refinancing tahun lalu yang jumlahnya US$15 juta. Sedangkan penambahan lahan berikutnya dari hasil emisi obligasi dalam dolar Amerika Serikat tersebut.

Investasi US$25 juta

Saat ini, BSP bekerja sama dengan PT Rekayasa Industri membangun pabrik biodiesel berkapasitas 60.000 ton hingga 100.000 ton dengan investasi sebesar US$25 juta dan dijadwalkan mulai berproduksi pertengahan 2008. Saham yang dimiliki oleh BSP dalam perusahaan patungan itu mencapai 70%.

Analis DBS Vickers Securities Herry Dion Mahargono mengatakan BSP merupakan perusahaan perkebunan yang terkecil di antara PT Astra Agro Lestari Tbk dan PT London Sumatera Tbk sehingga perlu memperbesar kapasitasnya untuk tumbuh.

"Kami melihat industri perkebunan sedang positif, apalagi posisi BSP di antara Lonsum dan Astra Agro sehingga pilihan untuk tumbuh adalah melalui akuisisi dengan catatan harganya cocok dan lahan yang baik," ujarnya.

Artinya, tambah dia, kalau perusahaan ingin berkembang, maka harus mendapatkan sumber pendanaan yang sangat dimungkinkan dari penerbitan obligasi karena debt to equity ratio BSP baru mencapai satu kali.

"Kalau ada ruang untuk mendapatkan utang, lebih baik keluarkan obligasi dibandingkan rights issue sehingga bisa maksimumkan nilai saham."

Dia merekomendasikan investor untuk membeli saham BSP karena price to earning ratio (PER) masih kecil dibandingkan perusahaan perkebunan lain seperti Astra Agro maupun Lonsum. "PER BSP yang sebesar sepuluh kali masih murah dibandingkan Astra Agro yang mencapai 16 kali, Lonsum 15 kali dan rata-rata pasar yang mencapai 15 kali. Target harga BSP adalah sebesar Rp1.250 per lembar."

Herry mengatakan penurunan harga saham BSP di pasar lebih disebabkan sentimen negatif pelaku pasar terhadap masalah Lapindo yang menimpa anak perusahaan yang terafiliasi dengan keluarga Bakrie.

Pada semester I tahun ini, laba bersih perusahaan naik dua kali lipat menjadi Rp80,94 miliar dengan penjualan tumbuh sebesar 34%.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com