|
PT Bakrie Sumatera Plantations (BSP) Tbk berencana menjual
obligasi sebesar US$120 juta pada akhir September untuk membangun
pabrik biodiesel dan membiayai kembali (refinancing) utang.
Jumlah utang yang di-refinancing adalah US$69 juta yang semula
diperoleh BSP dari RZB-Austria, Barclays Bank Plc, ICICI Bank Ltd, West
LB AG, RHB Bank (L) Ltd, dan Moscow Narodny Bank Ltd. Selain itu, BSP
menyediakan dana sebesar US$25 juta untuk membangun pabrik diesel.
Komisaris BSP Yuanita Rohali mengatakan obligasi yang diterbitkan
mempunyai tenor selama lima tahun.
"Kami mempunyai harapan tingkat imbal hasil yang ditawarkan berkisar
10,5% namun ini tergantung dengan kondisi pasar,"ujarnya, kemarin.
Dia menjelaskan dengan refinancing utang yang didapatkan dari RZB,
perseroan bisa tumbuh lebih leluasa dengan menggunakan dana dari
penerbitan obligasi. "Kalau perusahaan punya investment loan dari RZB
harus di-refinancing supaya bisa lebih ekspansif. Sisa dana dari
penerbitan obligasi yang sebesar US$26 juta digunakan untuk ekspansi
usaha baik akuisisi lahan.
Yuanita menuturkan penerbitan obligasi ini tidak dijamin dengan aktiva
perusahaan, sehingga tidak diperlukan persetujuan rapat umum pemegang
saham (RUPS).
Ekspektasi kinerja BSP
* Penjualan meningkat 12% menjadi US$101,9 juta tahun
ini
* Produksi CPO bertambah 24% tahun ini
* BSP mampu memproduksi 200.000 ton CPO pada 2008
Sumber : Bloomberg, diolah
Dari target penambahan lahan 100.000 hektare hingga 2007, BSP
menargetkan bisa merealisasikan pengembangan lahan baru seluas 10.000
hektare pada tahun ini di dua lokasi, yakni 6.000 hektare di Jambi dan
4.000 hektare di Kalteng
Penambahan lahan seluas 10.000 hektare itu bakal menggunakan sisa dana
refinancing tahun lalu yang jumlahnya US$15 juta. Sedangkan penambahan
lahan berikutnya dari hasil emisi obligasi dalam dolar Amerika Serikat
tersebut.
Investasi US$25 juta
Saat ini, BSP bekerja sama dengan PT Rekayasa Industri membangun pabrik
biodiesel berkapasitas 60.000 ton hingga 100.000 ton dengan investasi
sebesar US$25 juta dan dijadwalkan mulai berproduksi pertengahan 2008.
Saham yang dimiliki oleh BSP dalam perusahaan patungan itu mencapai 70%.
Analis DBS Vickers Securities Herry Dion Mahargono mengatakan BSP
merupakan perusahaan perkebunan yang terkecil di antara PT Astra Agro
Lestari Tbk dan PT London Sumatera Tbk sehingga perlu memperbesar
kapasitasnya untuk tumbuh.
"Kami melihat industri perkebunan sedang positif, apalagi posisi BSP di
antara Lonsum dan Astra Agro sehingga pilihan untuk tumbuh adalah
melalui akuisisi dengan catatan harganya cocok dan lahan yang baik,"
ujarnya.
Artinya, tambah dia, kalau perusahaan ingin berkembang, maka harus
mendapatkan sumber pendanaan yang sangat dimungkinkan dari penerbitan
obligasi karena debt to equity ratio BSP baru mencapai satu kali.
"Kalau ada ruang untuk mendapatkan utang, lebih baik keluarkan obligasi
dibandingkan rights issue sehingga bisa maksimumkan nilai saham."
Dia merekomendasikan investor untuk membeli saham BSP karena price to
earning ratio (PER) masih kecil dibandingkan perusahaan perkebunan lain
seperti Astra Agro maupun Lonsum. "PER BSP yang sebesar sepuluh kali
masih murah dibandingkan Astra Agro yang mencapai 16 kali, Lonsum 15
kali dan rata-rata pasar yang mencapai 15 kali. Target harga BSP adalah
sebesar Rp1.250 per lembar."
Herry mengatakan penurunan harga saham BSP di pasar lebih disebabkan
sentimen negatif pelaku pasar terhadap masalah Lapindo yang menimpa
anak perusahaan yang terafiliasi dengan keluarga Bakrie.
Pada semester I tahun ini, laba bersih perusahaan naik dua kali lipat
menjadi Rp80,94 miliar dengan penjualan tumbuh sebesar 34%.
|