|
Nilai wajar saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN)
diperkirakan mencapai Rp18.000 per saham. Pemerintah berencana melepas
5,31% saham BUMN itu pada kuartal keempat tahun ini.
Menneg BUMN Sugiharto mengatakan pemerintah sedang menunggu momentum
yang tepat karena pricing, sizing, dan timing merupakan tiga hal yang
harus menjadi perhatian utama sebelum melepaskan saham ke pasar.
"Harga saham PGN saat ini kan cenderung turun ke posisi Rp12.000 dari
posisi Rp14.000 per saham. Menurut beberapa analis, nilai wajar saham
PGN, kalau saya tidak salah, berada pada posisi Rp18.000. Jadi saya
kira kami menunggu momentum," ujarnya kemarin.
Dia memastikan akan melepaskan kepemilikan saham pemerintah pada empat
bulan terakhir tahun ini yaitu pada periode September-Desember 2006.
Sugiharto enggan untuk menyebutkan berapa jumlah saham yang akan
dilepas karena masih dihitung dan terkait juga dengan rencana untuk
konversi saham dari target pemerintah yang ada dalam prospektus yang
saat ini secara paralel sedang diajukan ke Menkeu Sri Mulyani Indrawati.
"Berapa besarnya yang akan dilaksanakan masih dihitung karena ada
rencana untuk konversi saham, jadi belum selesai dilakukan."
Berkaitan dengan penasihat keuangan yang akan ditunjuk, Menneg BUMN
mengatakan pertimbangan utama tentunya akan didasarkan pada penawar
tertinggi.
Sugiharto mengatakan Kantor Menneg BUMN akan berkonsultasi dengan
Komite Privatisasi yang dibentuk oleh Menko Perekonomian Boediono
berkaitan dengan metode pelepasan saham yang akan pergunakan.
"Saya akan lihat opsi yang paling baik. Saya tidak menentukan preferred
option dan yang paling penting memenuhi target pemerintah,
syukur-syukur melebihi," ujarnya.
Harga saham perusahaan yang berkode PGAS kemarin ditutup pada posisi
Rp12.550 per saham, naik dibandingkan penutupan Selasa yaitu pada
posisi Rp12.500 per saham.
Naik tiga kali
Laba bersih PGN semester pertama tahun ini naik tiga kali lipat karena
BUMN itu menjual gas lebih banyak pada harga yang lebih tinggi.
Dalam pernyataan resmi seperti dikutip Bloomberg, Direktur Keuangan PGN
Djoko Pramono mengatakan laba bersih naik ke Rp1,09 triliun dari hanya
Rp347 miliar pada semester pertama tahun lalu. Pendapatan dari
penjualan gas dan biaya transmisi naik ke Rp3,37 triliun dari Rp2,53
triliun.
Perusahaan itu mendapatkan keuntungan valas Rp111 miliar pada enam
bulan pertama 2006 dibandingkan rugi kurs Rp80 miliar.
Dalam risetnya CLSA Asia-Pacific Markets yang dirilis awal bulan ini,
sebutkan PGN masih berada dalam jajaran perusahaan kelas atas dengan
pertumbuhan terbaik di Asia Tenggara. CLSA merupakan perusahaan
penyedia jasa pialang dan bank investasi terkemuka di Asia Pasifik.
Tahun ini, CLSA memproyeksikan laba PGN akan berkurang 11%, sebagai
akibat berkurangnya volume distribusi gas sebesar 25% dan asumsi biaya
gas yang lebih tinggi 9%.
"Hal itu merupakan 6% dan 14% di bawah perkiraan PGN, sebagai cermin
dari keterlambatan penyaluran gas melalui pipa transmisi Sumatra
Selatan-Jawa Barat dari akhir 2006 menjadi triwulan II/2007," kata
analis CLSA Angus Graham dalam risetnya (Bisnis, 8 Agustus).
|