Index

 09 September 2006

 
46% Utang bermasalah
Bisnis

Sekitar US$7 miliar atau 46,67% dari total utang pinjaman luar negeri sedang dalam pengerjaan (on going) bermasalah, dari sisi penyerapan anggaran. Total pinjaman pemerintah on going saat ini mencapai US$15 miliar.

Di sisi lain, realisasi komitmen sejumlah negara kreditor pada Paris Club I dan II untuk mengalihkan pinjaman dari proyek yang tidak berjalan ke proyek baru (debt swap) masih sangat rendah.

Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengatakan hasil evaluasi terakhir, pihaknya menemukan keterlambatan penyerapan sekitar US$7 miliar pinjaman luar negeri yang on going.

"Tapi angka ini akan terus berubah, kami melakukan evaluasi setiap tiga bulan sekali," jelasnya, seusai diskusi Falsafah dan Strategi Pembangunan Nasional, di Jakarta, kemarin.

Sementara itu, jelasnya, jumlah total pinjaman luar negeri saat ini, termasuk pinjaman berjalan mencapai US$67 miliar. Utang tersebut merupakan proyek yang masuk ke dalam APBN atau di luar pinjaman terhadap IMF yang digunakan untuk menyeimbangkan cadangan devisa.

Permasalahan lambatnya penyerapan anggaran tersebut, jelasnya, pada umumnya berbeda dari setiap proyek. Mulai dari perencanaan proyek, pelaksanaan proyek bahkan dari masyarakat di sekitar proyek.

Jika Kementerian dan Lembaga Negara (KLN) penanggung jawab proyek dinilai tidak bisa merealisasikan proyek tersebut sampai tenggat waktu yang diberikan, jelasnya, dana pinjaman akan dikembalikan atau direlokasi untuk proyek lain. Jika memungkinkan, pemerintah akan mengupayakan debt swap.

Hal ini, untuk mengurangi beban utang luar negeri dan biaya komitmen yang harus dibayarkan pemerintah.

Debt swap

Terkait upaya debt swap, di tempat berbeda Deputi Menko Perekonomian Mahendra Siregar mengatakan realisasi komitmen kreditor melakukan debt swap terhadap pinjaman Indonesia yang tidak terserap sangat rendah.

Sumber pinjaman pemerintah terbesar meliputi Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Prancis, Inggris, Australia, Belanda, Austria, Spanyol, dan Kanada. Sampai saat ini, negara yang mau memberikan debt swap hanya Jerman, Italia, dan Inggris.

"Pada umumnya negara yang sudah menyatakan kemungkinan debt swap pada Paris Club, tidak merespons ketika pernyataan itu ditindaklanjuti pemerintah."

Lebih jauh, Paskah mengemukakan dari US$7 miliar pinjaman proyek on going yang masih bermasalah itu, telah dikembalikan sebesar US$250 juta, salah satunya untuk mendanai proyek pembangunan penanggulangan banjir Cisadane yang dikerjakan Departemen Pekerjaan Umum.

Proyek Cisadane tidak jadi dikerjakan, karena adanya penolakan dari masyarakat sekitar sungai Cisadane.

Hasil kajian Koalisi Anti Utang yang diperoleh Bisnis menyebutkan sejak 1967 sampai 2005, jumlah komitmen pinjaman luar negeri mencapai US$365,88 miliar. Dari jumlah tersebut pemerintah hanya mencairkan sebesar US$162,13 miliar.

Sedangkan sebanyak US$203,75 miliar belum dicairkan dan Indonesia dikenakan biaya bunga komitmen setiap tahun. Minimnya penyerapan utang luar negeri membuat negara tiap tahun harus menanggung kerugian hingga Rp18 triliun dari beban bunga komitmen utang yang tidak digunakan sama sekali.

Sampai saat ini pemerintah juga tidak mampu menyerap komitmen utang untuk kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi Nanggroe Aceh Darussallam dan Nias yang mencapai US$66,6 juta.

Data Direktorat Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan yang diperoleh Bisnis menyebutkan sampai kuartal keempat 2005, jumlah utang luar negeri pemerintah mencapai US$66,53 miliar. Jumlah ini sebesar 49,8% dari total utang luar negeri Indonesia yang mencapai US$133,54 miliar.

Dari total pinjaman luar negeri itu, sebanyak US$60,87 miliar merupakan pinjaman antarpemerintah, melalui kerja sama bilateral maupun melalui lembaga pembiayaan multilateral. Sisanya, US$5,66 miliar berasal dari swasta asing.

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com