| |
Head
of IBRA and "His Way"
Kompas
Cybermedia
(Bahasa Indonesia Only) |
Kepala
BPPN "Jalan Sendiri"
JAKARTA:
Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)
Cacuk Sudarijanto mengakui "jalan sendiri"
dalam merestrukturisasi kredit macet 20 obligor
terbesar BPPN yang mencapai Rp 68,781 trilyun.
Terhadap obligor-obligor besar itu, Cacuk
seorang dirilah yang melakukan dan menentukan
mekanisme restrukturisasi kredit macet.
"Saya turun
langsung merestrukturisasi obligor. Semuanya
diprioritaskan," kata Cacuk menjawab pers,
usai menghadiri pembahasan review letter of
intentDana Moneter Internasional (IMF), Rabu
(5/4) di Gedung Bappenas Jakarta.
Pada kesempatan
itu, Cacuk juga membantah informasi yang
mengatakan dirinya mempunyai perjanjian khusus
dengan pengusaha Peter Sondakh, pemilik kelompok
usaha Rajawali. Grup Rajawali merupakan salah
satu 20 obligor terbesar BPPN, dengan kredit
macet Rp 2,13 trilyun.
Cacuk
disebut-sebut bersedia secepatnya
merestrukturisasi kredit macet Grup Rajawali,
asalkan dirinya dipertemukan secara pribadi
dengan seorang pemimpin sebuah partai politik
terbesar. Mengenai hal tersebut, dengan tegas
Cacuk membantah, "Nggak ada! Nggakada,
nggakada urusan."
Mengenai Cacuk
yang kerap menemui sendiri debitor kakap BPPN,
sumber Kompasdi BPPN yang bertanggung
jawab langsung terhadap restrukturisasi kredit
macet mengatakan, apa saja bisa terjadi antara
Cacuk dengan para debitor besar itu.
"Apakah di
situ ada perjanjian yang menguntungkan si
debitor dan Cacuk pribadi, ataukah perjanjian
itu baik untuk BPPN, hanya Cacuk yang tahu,"
katanya.
Ketika masalah
ini dikonfirmaskan kepada Menko Ekuin, selaku
Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan (KKSK),
hal seperti itu tidak mungkin terjadi. "Tidak
akan ada restrukturisasi yang bisa berlangsung,
lewat pertemuan pribadi. Soalnya, kita sudah
punya pendekatan bahwa penyelesaian atas utang
debitor di atas Rp 1 trilyun, harus lewat KKSK,"
katanya. (fey)
20 Obligor
Terbesar BPPN
| No
| Obligor
| Pemilik
| Kredit
macet
(trilyun)
|
| 1. |
Barito |
Prajogo
Pangestu |
Rp |
9,4 |
| 2. |
Humpuss |
Hutomo
Mandala Putra |
Rp |
5,7 |
| 3. |
PSP |
Keluarga
Gondokusumo |
Rp |
5,1 |
| 4. |
Nusamba |
Mohamad
"Bob" Hasan |
Rp |
4,6 |
| 5. |
Bakrie |
Aburizal
Bakrie |
Rp |
4,3 |
| 6. |
Gunungsewu |
Keluarga
Angkosubroto |
Rp |
3,7 |
| 7. |
Tirtamas |
Hashim S
Djojohadikusumo |
Rp |
3,6 |
| 8. |
Bimantara |
Bambang
Trihatmodjo |
Rp |
3,4 |
| 9. |
Napan |
Sudwikatmono,
Pieter F Gontha |
Rp |
2,98 |
| 10. |
Bentala |
Usman
Atmadjaja |
Rp |
2,98 |
| 11. |
Tirtobumi |
Moertomo
Basuki |
Rp |
2,89 |
| 12. |
Djajanti |
Burhan
Uray |
Rp |
2,865 |
| 13. |
Ongko |
Kaharudin
Ongko |
Rp |
2,614 |
| 14. |
Dharmala |
Keluarga
Gondokusumo |
Rp |
2,6 |
| 15. |
Argo
Manunggal |
The Nin
King |
Rp |
2,538 |
| 16. |
Sekar |
Keluarga
Hary |
Rp |
2,33 |
| 17. |
Rajawali |
Peter
Sondakh, Claudia Sondakh |
Rp |
2,13 |
| 18. |
Kodel |
Soegeng
Surjadi, Fahmi Idris |
Rp |
2,014 |
| 19. |
Nugra
Santana |
Ibnu
Sutowo |
Rp |
2 |
| 20. |
Bahana |
Pemerintah,
Bank Indonesia |
Rp |
1,04 |
Sumber: BPPN
Catatan: Belum termasuk Grup Texmaco, dengan
kredit macet Rp 15 trilyun dialihkan ke BPPN
pada Maret 2000.
|
| |
Index
|
|
| |
IBRA:
Bank Niaga's Recap at the latest should be next
week
Bisnis
Indonesia (Bahasa Indonesia Only) |
BPPN:
Rekap Bank Niaga paling lambat pekan depan
JAKARTA (Bisnis):
Pelaksanaan penerbitan obligasi untuk mere-kapitalisasi
Bank Niaga diperkirakan paling lambat pekan
depan, sementara fit & proper test untuk
calon direksi dan komisaris BTN dan BRI yang
berjumlah 35 orang selesai pekan ini atau paling
lambat pekan depan.
Deputi Ketua
Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Jerry
Ng mengatakan pelaksanaan rekapitalisasi Bank
Niaga akan bersamaan dengan proses
rekapitalisasi Bank BNI.
"Kalau BNI
nanti malam [Rabu 5 April], Bank Niaga juga bisa
nanti malam dong. Tetapi Nggak lah, saya rasa
lebih realistis kalau tidak Jumat ini [7 April]
ya minggu depanlah," kata Jerry usai
mengikuti rapat kaji ulang (review) letter of
intent di Gedung Bappenas Jakarta Rabu.
Hadir pada kaji
ulang itu Menkumdang Yusril Ihza Mahendra, Jaksa
Agung Marzuki Darusman, Deputi Gubernur Senior
BI An-war Nasution, Menkeu Bambang Sudibyo,
Menperindag Yusuf Kalla, Menneg Penanaman Modal
dan Pembinaan BUMN/Ketua Satgas Prakarsa Jakarta
Laksamana Sukardi, dan Ketua BPPN Cacuk
Sudarijanto.
Menurut Jerry,
penerbitan obligasi untuk merekapitalisasi Bank
Niaga diharapkan selesai sebelum target yang
ditetapkan IMF. "Yang penting akan selesai
sebelum tanggal 15 April [2000]."
Menurut dia,
dibutuhkan waktu yang cukup untuk
merekapitalisasi Bank Niaga karena untuk
mengeluarkan dana sebesar Rp 8,7 triliun tidak
semudah dana yang berjumlah sedikit.
Calon direksi
BRI
Deputi Gubernur
Senior BI Anwar Nasution mengatakan fit and
proper test untuk calon direksi BRI dan BTN
selesain pekan ini atau paling lambat minggu
depan.
BI mengusulkan
sedikitnya 35 orang, tetapi siapa yang akan
dipilih tergantung kepada menteri keuangan.
Mereka itu ada yang berasal dari dalam dan dari
luar bank yang bersangkutan.
Nasution menolak
menyebutkan muka lama nama-nama calon direksi
dan komisaris. "Nanti heboh lagi,"
katanya.
Untuk Bank
Mandiri, penyerahannya kembali ke BI sudah
dilakukan, kata Nasution. Peraturan BI yang
menyangkut pengalihan kredit macet bank tersebut
sudah dilakukan pada pekan lalu.
Menyinggung
penilaian IMF terhadap kemajuan dari
program-program yang harus diselesaikan BPPN
dalam letter of intent, menurut Jerry, sudah
bagus.
Beberapa hal yang
sudah diselesaikan adalah proses klaim antarbank,
rekapitalisasi Bank Niaga, sementara Bank
Danamon dan BCA sudah pada jalur yang benar.
Jerry mengatakan
sambutan IMF terhadap restrukturisasi perbankan
dan komitmen pemerintah untuk melaksanakan LoI
sudah luar biasa. "Meeting-nya sangat
produktif. BPPN tadi 15 menit saja sudah selesai,"
katanya. (msw)
©COPYRIGHT
1998 BISNIS INDONESIA
PT Jurnalindo Aksara Grafika
|
| |
Index
|
|
| |
Fuad
deemed IBRA have failed to meet their target Bisnis
Indonesia (Bahasa Indonesia Only) |
Fuad
nilai BPPN gagal penuhi target
JAKARTA
(Bisnis): Mantan Menkeu Fuad Bawazier menilai
setoran obligasi oleh Badan Penyehatan Perbankan
Nasional (BPPN) ke APBN 1999/2000 menunjukkan
kegagalan lembaga itu memenuhi target.
Fuad mengatakan
tugas utama BPPN adalah menjual aset dan bukan
menarik lagi obligasi yang telah disuntikkan ke
bank-bank rekapitalisasi. Tapi karena hasil
penjualan aset di bawah target yang telah
ditentukan dalam letter of intent sebesar Rp 17
triliun, BPPN hanya sanggup menyetor Rp 14,27
triliun.
"Akui saja
secara gentlement bahwa BPPN tidak sanggup
menjual aset untuk mencapai target Rp 17 triliun,"
ujarnya kepada Bisnis awal pekan ini.
Fuad menjelaskan
kalau tahun depan BPPN tidak sanggup mencapai
target lagi, maka akan ada pembenaran bagi
lembaga itu untuk menarik obligasi lagi. Jika
demikian berapa ratus triliun juga BPPN sanggup
menyetor ke APBN, ini membahayakan APBN dan bank
yang direka-pitalisasi.
"Jadi Cacuk
sudah gagal, sejak semula apa yang dikerjakan
tidak ada hasil apapun."
Fuad mengatakan
dampak penyetoran obligasi terhadap anggaran
saat ini memang tidak signifikan. Karena secara
riil APBN sudah aman dengan adanya penerimaan
pajak sebesar Rp 17 triliun, belum lagi
penerimaan kenaikan harga minyak internasional.
Jangankan setoran obligasi, penundaan pinjaman
Dana Moneter Internasional (IMF) saja tidak
mengganggu anggaran.
Sementara
pengamat perbankan Elvyn G. Masassya berpendapat
setoran obligasi sebesar Rp 4,2 triliun untuk
menutup kekurangan target hanyalah untuk
menyelamatkan muka BPPN di bawah kepemimpinan
Cacuk Sudarijanto.
"Cara itu
tidak mencerdaskan masyarakat, kalau cuma
sanggup menyetor Rp 14,27 triliun katakan saja
apa adanya."
Elvyn menganggap
kinerja BPPN tidak perform dengan kegagalannya
mencapai target. Anehnya orang mengangggap
setoran sebagai satu-satunya ukuran kinerja. (dj)
©COPYRIGHT
1998 BISNIS INDONESIA
PT Jurnalindo Aksara Grafika
|
|
|
| |
|
|
|
|