Index

 31 August 2001

 
Needs Alternative, If LoI Target not accomplished
Kompas Cybermedia (Bahasa Indonesla only)

Perlu Alternatif, jika Target LoI Tak Tercapai

Jakarta, Kompas

Pemerintah harus menyiapkan langkah alternatif, jika target restrukturisasi aset di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebesar Rp 27 trilyun dan privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebesar Rp 6,5 trilyun sebagaimana disepakati dalam letter of intent (LoI) dengan Dana Moneter Internasional (IMF), tidak tercapai. Demikian diungkapkan oleh pengamat ekonomi dari Indef Didik J Rachbini dan Umar Juoro di Jakarta, Kamis (28/8).

Menurut Umar, hingga kini pemerintah belum memberikan jawaban bagaimana menutupi lubang APBN yang terjadi akibat kegagalan mencapai target itu. Pemerintah hanya memiliki skenario target, tanpa mempersiapkan jawaban dan alternatif jika terjadi kegagalan pencapaian target. Apalagi pemerintah kelihatannya sulit bekerja sama dengan DPR. Untuk itu, perlu dicari solusi yang secara politis dapat diterima dan tetap memberikan implikasi positif kepada pasar. "Pemerintah maunya apa, harus dijelaskan. Supaya pelaku ekonomi mengerti, karena itu juga berkaitan dengan anggaran dan kepentingan rakyat," kata Umar.

"Perlu diingat, pemenuhan target Rp 27 trilyun dan Rp 6,5 trilyun itu termasuk dalam Undang-undang (UU), karena tercantum dalam APBN. APBN itu UU yang harus dicapai. Kalau tidak tercapai, apa alternatifnya, karena target itu tetap harus tercapai. Apakah akan di-carry over ke APBN 2002 atau apa?," kata Umar. Umar sendiri menilai sangat sulit untuk mencapai target-target tersebut. Namun, kalau target itu diturunkan menjadi Rp 24 trilyun dan Rp 4 trilyun, masih mungkin tercapai. Diingatkan, target LoI sangat krusial dan akan memunculkan implikasi negatif jika tidak tercapai.

Untuk itu, pemerintah harus fokus dalam mengejar target dimaksud. Pendapat senada diungkapkan Didik. Menurut dia, kesepakatan dengan IMF itu perlu segera dilaksanakan, namun caranya tetap harus berhati-hati. Pemerintah perlu membuat program yang layak dari segi momentum dan kesiapan lainnya. "Dividen untuk pemerintah diperbanyak, tidak perlu menggenjot investasi, atau cukup memelihara yang ada," cetus Didik. Jalan terbaik privatisasi, menurut Didik, tetaplah go public. Namun, perlu diperhatikan momentum pasar modal saat ini belum terlalu tinggi, tercermin dari angka indeks harga saham gabungan yang belum mencapai 600-700-an. Oleh karena itu, target privatisasi harus realistis dan jangan terlalu muluk.(tia)

 

Index

 
 
 

[Main Page] [Client Needs] [Global Presence ] [Country Focus ]
[Financial Services ][Confidentiality] [Management Team]
[Information System] [Site Map ][Contact Us ]

 

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com