Index

 7 August 2001

 
IBRA still the majority stockholder of Bank Bali
Kompas Cybermedia (Bahasa Indonesia only)

BPPN Masih Pemegang Saham Mayoritas Bank Bali

Jakarta, Selasa

Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) hingga akhir Juli lalu masih merupakan pemegang saham mayoritas PT Bank Bali Tbk.

Demikian diungkapkan Dirut Bank Bali Dradjat B Prasetyo, di Jakarta, Selasa (7/8).

Menurutnya, berdasarkan daftar pemegang saham dari Biro Administrasi Efek PT Blue Chip Mulia dan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), komposisi kepemilikan saham Bank Bali, 98,23 persen dari total 67.200.583.300 saham dimiliki BPPN.

Selebihnya, 1,77 persen atau sebanyak 1.189.247.383 saham dikuasai masyarakat. "Komposisi kepemilikan saham tersebut tidak mengalami perubahan dari posisi 29 Juni 2001 lalu," ungkapnya. (Ant/ima)

 

Index

 
Korea Gas will run "Due Dilligence" to Arun
Kompas Cybermedia (Bahasa Indonesia only)

Kogas Lakukan "Due Diligence" terhadap Arun

Jakarta, Senin

Importir gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Indonesia dari Korsel, Korea Gas Corp (Kogas), akan melakukan due diligence (pemeriksaan secara tuntas) terhadap kemampuan kilang LNG Arun di Aceh untuk kembali memasok LNG ke Kogas, akhir Agustus ini. Seorang pejabat Kogas dikutip Dow Jones, Senin (6/8), menyebutkan, pihak Kogas akan berkunjung ke lapangan Arun untuk melihat sendiri apakah kondisi di wilayah itu aman dan produksi bisa berjalan, guna mendapatkan kepastian mengenai jaminan kelanjutan pasok LNG dari kilang Arun ke Korsel.

Sejumlah utusan Kogas pekan lalu sudah berkunjung ke Jakarta untuk mendiskusikan dengan Pertamina mengenai kepastian kapan kilang Arun bisa memasok kembali LNG ke Kogas. Namun, sejauh ini belum dicapai kesepakatan kapan pasok sesuai kontrak yang ditandatangani kedua pihak akan dilanjutkan. Mulai Oktober Pihak Pertamina sendiri dilaporkan telah meminta Kogas untuk mengimpor LNG dari Arun mulai Agustus ini, namun Kogas mengatakan pihaknya tidak mempunyai tempat untuk menampung LNG dari Arun, sebelum Oktober.

Sejak terganggunya produksi di lapangan gas ExxonMobil Oil bulan Maret, yang kemudian membuat pasok LNG dari kilang Arun ke Korsel terputus, Kogas berusaha memenuhi kebutuhannya dari sumber-sumber lain, termasuk Malaysia, Brunei, dan Qatar. Juru bicara Pertamina pekan lalu mengatakan, Pertamina memperkirakan akan ada ekses kapasitas produksi LNG hingga 750.000-875.000 metrik ton di Arun hingga September, karena Kogas sudah telanjur menutup kebutuhannya selama periode tersebut dari sumber-sumber lain. Kelebihan produksi ini oleh Pertamina dilemparkan ke pasar spot.

"Diharapkan, Kogas akan mulai menyerap kembali LNG dari Arun mulai Oktober," ujarnya. Indonesia merupakan pemasok LNG terbesar Korsel. Kogas sebagai pengimpor tunggal LNG dari Korsel, telah menandatangani kontrak LNG jangka panjang untuk pasokan sebesar 5,3 juta ton per tahun dengan Pertamina. Selain dari Indonesia, Kogas juga mengimpor 11,56 juta ton LNG per tahun dari pemasok lain, yakni Malaysia, Qatar, Oman, dan Brunei. (Dow Jones/tat)

 

Index

 
 
 

[Main Page] [Client Needs] [Global Presence ] [Country Focus ]
[Financial Services ][Confidentiality] [Management Team]
[Information System] [Site Map ][Contact Us ]

 

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com