Borok Barito, Humpuss, dan Texmaco
Terlalu Besar untuk Diabaikan Pemerintah
JAKARTA:
Pemerintah kini bagai menghadapi buah
simalakama terhadap konglomerat Texmaco, Barito, dan Humpuss yang
telah menguras dana perbankan puluhan trilyun rupiah. Usaha
sebesar itu tidak mungkin "dimatikan" karena begitu
besar. Sementara untuk diambil alih pemerintah juga sangat berat
sebab boroknya sudah begitu besar. Namun, semua itu terlalu besar
pula untuk diabaikan. "Tidak ada jalan lain kecuali
menegakkan law enforcement untuk memberi pelajaran, baik
kepada pemberi kredit maupun pengusahanya," demikian pengamat
ekonomi yang juga pengajar program pascasarjana Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali di Jakarta, Jumat
(3/12).
Sementara itu, anggota Komisi IX
DPR Didi Supriyanto (Fraksi PDI Perjuangan) mengungkapkan, banyak
hal aneh yang terjadi saat debitor-debitor besar itu menerima
kredit mereka. Untuk itu, ujarnya, dengan menggunakan momentum
kasus Texmaco, Barito, dan Humpuss, seharusnya Kejaksaan Agung (Kejagung)
dan DPR lebih proaktif.
"Jaksa Agung harus secara
berkala membuat laporan transparan kepada masyarakat, apa saja
kasus besar yang menjadi prioritas dan bagaimana kondisinya.
Jangan tiba-tiba muncul surat perintah penghentian penyidikan
(SP3) kasus Soeharto misalnya, tanpa sepengetahuan rakyat,"
kata Didi.
Didi menambahkan, DPR juga harus
mulai memanggil para debitor kakap dan meminta keterangan mereka.
"PDI Perjuangan akan mengupayakan agar DPR mengagendakan
pemanggilan itu. Selama ini kita tidak ngerti
debitor-debitor besar itu ternyata busuk. Kelihatannya mereka itu
baik-baik, seperti Texmaco, yang setelah dibuka ternyata banyak
masalah. Tidak tertutup kemungkinan banyak perusahaan seperti itu,"
papar Didi.
Mengenai kelompok usaha Barito yang
tersangkut kredit macet Rp 9 trilyun lebih dengan BPPN, Didi
berpendapat seharusnya Kejagung langsung mencari informasi untuk
memanggil siapa saja orang-orang yang bertanggung jawab. "Kalau
BPPN dapat memberikan bukti-bukti tentang kasus Barito, sebaiknya
Kejagung langsung melaksanakan penyidikan, tidak perlu melakukan
penyelidikan lagi segala, karena itu hanya menghabiskan waktu,"
ujarnya.
Dengan syarat
Rhenald mengakui, mereka juga
harus diselamatkan karena telanjur menguras uang negara yang
terlalu besar. Akan tetapi, yang jauh lebih penting untuk masa
depan dunia usaha sendiri adalah penegakan law enforcement.
"Mereka harus diadili dan kalau terbukti bersalah, hukumlah
seberat-beratnya," ujarnya.
Penegakan hukum yang tegas
diperlukan untuk masa depan bangsa. Itu juga penting untuk memberi
pelajaran kepada para pemberi kredit, agar tidak sembarangan lagi
mengucurkan kredit.
Rhenald juga merasa heran terhadap
pandangan (Juan Felix Tampubolon yang mengatakan disposisi itu hal
yang biasa-Red) bahwa memo dianggap sesuatu hal yang biasa.
Kalau itu yang terjadi, berarti negara ini sudah menjadi kerajaan.
Semua pihak sempat bingung kalau melihat perkembangan Texmaco yang
begitu cepat. Texmaco tiba-tiba menjadi besar seperti kelebihan
duit, padahal perusahaan-perusahaan lain justru kekurangan duit.
Diakuinya, dalam membangun bangsa
diperlukan entrepreneurship. Namun, entrepreneurship
jenis Sinivasan (Texmaco) ini memang agak "gila". Dalam
waktu singkat, dia tiba-tiba melambung karena ada lingkungan yang
mendukungnya, yakni kebiasaan perbankan di masa lalu yang selalu
mempunyai entrepreneur binaan secara khusus. Orang-orang
itu kemudian menjadi semacam akses bagi pengusaha-pengusaha lain
memasuki perbankan.
"Pak, kalau perlu kredit, ayo
saya kenalkan kepada direktur banknya," ujarnya menirukan
pandangan para pengusaha saat itu. Karena sangat dekatnya hubungan
mereka, yang jadi pijakannya bukan lagi ekonomi atau bisnis yang
sehat dan prospektif. Dengan cara-cara seperti itu, maka
orang-orang yang menjadi nasabah bank adalah juga orang-orang yang
sama terus-menerus. Mereka menjadi besar dan semakin besar,
sementara penilaian perbankan dalam memberikan kredit, tidak lagi
didasarkan pada kelayakan ekonomi dan sistem manajemen perusahaan
penangguk kredit, hanya dilihat dari kertas berisi proposal.
Di kalangan pengusaha nonpri,
biasanya ada yang disebut white loan. Kalau mereka mau
pinjam uang ke bank, tidak pakai bukti hitam di atas putih, tidak
juga pakai proposal atau studi kelayakan karena sudah begitu
dipercaya bank. Begitu bank melihat seorang pengusaha bagus, lalu
ditawari kredit berdasarkan asas white loan itu, karena
sudah dianggap bisa dipercaya yang ternyata kemudian menjerat.
Karena sudah sangat dipercaya, segala macam jenis dan besaran
kredit diberikan tanpa prosedur yang cermat. "Sehingga tidak
mengherankan, jika yang berkembang adalah pengusaha yang itu-itu
saja."
"Kondisi itulah sebenarnya
musuh kita, sebab tidak ada analisis usahanya," katanya.
Semua lari ke atas, kalau atasan mengiyakan, walaupun secara
ekonomi tidak layak, kredit diberikan dengan mudahnya. Bawahan itu
hanya mencari adjustment-nya bahwa ini benar atau salah.
Pada masa Orde Baru,
pengusaha-pengusahanya muncul dari atas semua dengan kucuran
kredit yang sangat tidak rasional dengan usahanya. Umumnya mereka
tidak punya pengalaman bisnis tetapi memiliki fasilitas dan
mempunyai akses kepada penguasa.
Jangan ulangi
Sekarang, kata Rhenald, hal
seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Terbukti hal itu, hanya
memunculkan pengusaha karbitan, jago kandang, bisnisnya sangat
rapuh dan bermental bobrok. Ia berpendapat, sebaiknya pemerintah
mulai dengan mengembangkan kelas menengah. Sebab hampir semua
pengusaha yang berhasil keluar dari krisis ini adalah pengusaha
kelas menengah yang tidak memiliki utang ke bank. Mereka usahanya
tanpa kredit dan usahanya tumbuh dari bawah.
Ke depan, pemberian kredit
perbankan juga tidak boleh lagi berdasarkan cara-cara lama.
Pemberian kredit harus selektif terhadap usaha yang benar-benar
memiliki prospek yang baik. Pemerintah lebih baik berkonsentrasi
kepada pengusaha-pengusaha menengah yang bisnisnya Rp 2 milyar -Rp
3 milyar.
Di antara mereka juga muncul
pemain-pemain baru yang lahir dari persaingan. Mereka harus terus
dibina dan setelah diberi kredit mereka harus didampingi oleh
konsultan domestik. Kalau mungkin berikan saja konsultan ini
kepada kampus sehingga kalau kampus banyak membina mereka juga
mendapatkan fee, sebab kampus dasarnya moral. (dmu/fey)
|