Sudah Muncul 20 Investor
Anggota DPR Tuduh Oknum "Bermain"
Soal Astra
JAKARTA: Anggota DPR menuduh masih ada
oknum-oknum dari era Orde Baru yang "bermain" dalam
penjualan saham PT Astra International. Dikatakan, tercium gelagat
yang kuat dalam kehebohan soal rencana penjualan 40 saham Astra yang
dipegang BPPN ke konsorsium Newbridge Capital-Gilbert Global Equity
Partners. Demikian Wakil Ketua Kelompok Komisi (Poksi) IX DPR asal
Fraksi PDI Perjuangan Theo F Toemion, kepada pers di Jakarta, Rabu
(2/2). Pernyataan itu muncul menyusul batalnya perjanjian antara Badan
Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan Gilbert Global Equity
Partners dan Newbridge Capital, menyangkut pembelian 40 persen saham
PT Astra International Tbk.
Dia juga menuduh hal itu sebagai akibat
ulah pimpinan PT Astra International Tbk yang sengaja menghambat dan
melawan program pengembalian aset nasional melalui BPPN. "Kekisruhan
penjualan saham PT Astra International Tbk diakibatkan masih adanya
orang-orang besar dan kuat, pengusaha dan sisa-sisa Orde Baru yang
masih ingin ikut campur dan mempertahankan perusahaan tersebut,"
katanya.
Sehari sebelumnya Dirut PT Astra
International Rini Soewandi mengatakan, tak menentang BPPN, malah
mendukung tindakan BPPN. Namun, Rini mengatakan, yang terbaik tentunya
jika ada kompetisi antara investor dalam membeli saham Astra yang
lebih menguntungkan negara.
Selama dua pekan ini, soal rencana
penjualan saham Astra yang dimiliki BPPN menjadi berita. Namun,
sejumlah pengamat bursa dan pengamat hukum pasar modal telah
menyatakan, heboh soal penjualan saham Astra tidak ada kaitan dengan
keberadaan orang-orang di balik kehebohan itu.
"Mudah saja untuk mengatakan ada
indikasi kurang transparannya BPPN dalam menjual saham Astra karena
munculnya status preferred bidder untuk Newbridge-Gilbert.
Status preferred bidder itu sangat kontradiktif dengan
mekanisme tender offer. Bagaimana kita bisa dikatakan telah
melakukan tender offer secara benar-benar transparan dan tidak
berpihak, jika status preferred bidder masih ada. Status itu
menunjukkan keberpihakan, bukan perlakuan yang sama," ujar ekonom
Pradjoto.
"Persoalannya terletak di situ,
bukan pada siapa yang hendak masuk atau bermain di balik rencana
penjualan itu. Heboh soal Astra terletak pada transparansi, itu saja.
Bukan faktor lainnya," kata Pradjoto.
"Memang saya juga mendengar
gelagat adanya orang lama di Indonesia ini, yang asetnya diserahkan ke
BPPN sebagai jaminan atas kredit macet perusahaannya, tetapi ikut main
dalam rencana penjualan saham PT Astra," tambah Pradjoto.
Akan tetapi, posisi mereka itu
diuntungkan oleh salahnya BPPN sejak awal dalam merencanakan penjualan
saham Astra. "Saya setuju transparansi dilakukan. Namun demikian,
kita juga harus jeli terutama BPPN jangan tertipu oleh nama asing yang
masuk ke Astra, yang kemungkinan adalah mewakili pengusaha yang punya
duit lebih untuk membeli saham Astra. Itu artinya, utangnya di BPPN
belum diselesaikan tetapi dia tampil sebagai pemilik Astra. Itu sangat
ironis, dan sakit hati ini," kata Pradjoto.
Sementara itu Toemion mengatakan,
"Ibarat gadis cantik, Astra itu masih diminati. Bukan hanya oleh
investor-investor asing dan baru, tetapi juga oleh 'kekasih' lamanya.
Ada orang besar dan kuat, pengusaha dan sisa-sisa Orde Baru yang masih
ingin terus mempertahankan bisnisnya di Astra dan ikut campur dalam
kekisruhan Astra," ujarnya.
Toemion mengaku, mencium gelagat adanya
perlawanan dan usaha menghambat proses penjualan saham Astra selama
ini. Dalam kesempatan itu, Toemion juga memberikan kronologi proses
penjualan saham Astra kepada wartawan.
Meskipun tidak menyebut nama-nama siapa
orang kuat dan sisa-sisa Orde Baru itu, namun Toemion menyebut nama
sebuah perusahan, yaitu PT W. "Akan tetapi, siapa yang punya itu.
Kalian cari," tambahnya. Ketika disebut nama BH, Toemion balik
menimpali, "Itu Anda sendiri yang menyebut," katanya.
Menurut Toemion, proses penjualan saham
PT Astra sebetulnya sudah bisa diselesaikan sejak lama, jika tidak
terjadi perlawanan dan sejumlah hambatan, yang mengakibatkan
perjanjian antara BPPN dengan dua calon investor dari Amerika Serikat
tersebut, berakhir karena batas waktu.
20 investor
Sementara itu, Wakil Kepala Badan
Penyehatan Perbankan Nasional Arwin Rasyid kepada pers mengatakan,
hingga saat ini BPPN sudah mengundang lebih dari 20 calon investor
untuk mengajukan penawaran atas saham Astra. Dari jumlah tersebut,
tambahnya, antara tiga hingga lima investor sudah menunjukkan indikasi
serius.
"Namun demikian, jumlahnya dari
hari ke hari, angka itu berubah terus, karena kita harus bergerak
cepat. Sebab Februari ini kita harus sudah dapat me-nentukan
investor-investor terpilih untuk melakukan bidding terakhir,"
kata Arwin.
Arwin tidak bersedia menyebut nama
calon-calon investor tersebut. Namun, dia mengatakan, Newbridge-Gilbert
masih dapat menjadi bidder tetapi tidak dengan status preferred
bidder.
Batalnya perjanjian BPPN dengan
Newbridge-Gilbert, Arwin mengatakan, penyebabnya adalah Newbridge-Gilbert
tidak berhasil merampungkan due diligence terhadap PT AI, serta
tidak terpenuhinya syarat dalam definitive agreement antara
BPPN dengan Newbridge-Gilbert tersebut.
"Sekarang kita memulai sale
process (proses penjualan). Penjualan saham Astra itu tetap
merupakan sasaran kita yang harus dicapai pada kuartal pertama tahun
ini. Waktu adalah musuh utama kita, tetapi mudah-mudahan semuanya
dapat tercapai menjelang akhir Maret 2000 ini," kata Arwin. (fey/mon/har) |