| |
Newbridge
Consortium confident their presence in Astra is
Favorable
Kompas
Cybermedia
(Bahasa Indonesia Only) |
Konsorsium
Newbridge Yakin Kehadirannya di Astra
Menguntungkan
JAKARTA:
Konsorsium internasional yang terdiri dari
Newbridge Asia II, Gilbert Global Equity
Partners, Chase Asia Equity Partners, dan
Saratoga Investama Sedaya, yakin pembelian saham
PT Astra International Tbk (AI) yang dikuasai
Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) akan
sangat menguntungkan. Konsorsium itu menamakan
diri sebagai International Investment
Partnership (IIP).
Demikian
keterangan pers konsorsium itu yang dikirimkan
konsultan public relation DMG, Sebastian
Guinnes, yang diterima Minggu (19/3) di Jakarta.
Di samping IIP, peminat saham PT AI yang
dikuasai BPPN adalah konsorsium Lazard Freres
dari Perancis, serta konsorsium Cycle &
Carriage Limited dengan Batavia Investment
Management dan JP Morgan Capital.
Berdasarkan
beberapa alasan, IIP yakin penjualbelian saham
PT AI memberikan keuntungan yang signifikan
kepada berbagai pihak yang terlibat dalam
transaksi itu. Alasan-alasan tersebut, antara
lain bahwa penjualbelian saham PT AI dipastikan
akan diikuti kepercayaan atas keseriusan
pemerintahan baru dalam mengatasi persoalan
ekonomi.
Penjualbelian
saham PT AI itu juga secara signifikan
menguntungkan Indonesia dalam hal pembaruan
tingkat pemeringkatan (credit ratings),
dan mempengaruhi investor untuk berinvestasi.
Sebagai contoh dikatakan, saham PT AI melonjak
drastis dari Rp 2.500-Rp 3.000 per lembar saham
menjadi sekitar Rp 3.000 ketika keterlibatan IIP
diketahui khalayak ramai.
Alasan lain
adalah anggota-anggota IIP memiliki pengalaman
yang saling melengkapi dan beberapa kualifikasi
untuk menyukseskan penjualbelian saham PT AI.
Tiga investor besar yang bergabung dalam IIP
mempunyai akses pada modal para penawar (bidders)
di seluruh dunia yang mencapai lebih dari 29
milyar dollar AS.
IIP, berkebalikan
dengan dua konsorsium lain yang juga tertarik
membeli saham PT AI, berniat membangun kembali
PT AI dengan mempertahankan dan melayani
pelanggan dan perusahaan pengecer domestik yang
ada. Sementara dua investor lainnya dikatakan
bermaksud "mempersempit" perusahaan
dan mengurangi karakter ke-Indonesia-an. Dengan
menjalin transaksi dengan IIP, pelanggan PT AI
dikatakan akan mendapat kepercayaan dan
perlindungan baru.
Di samping itu,
IIP juga tertarik melakukan investasi di
sektor-sektor lain di Indonesia. Saat ini IIP
tengah mengevaluasi beberapa kemungkinan untuk
melakukan investasi di Indonesia.
Disebutkan pula,
penjualan saham PT AI merupakan tolok ukur
penting dalam pemulihan perekonomian Indonesia.
Penjualan saham PT AI akan menopang APBN 2000,
sekaligus menandakan kembalinya kepercayaan
investor asing kepada Indonesia.
Bagi PT AI
sendiri, IIP akan membantu menjaga status
perusahaan itu sebagai perusahaan konglomerasi
Indonesia dengan keunikan identitas nasional,
merek, budaya, dan tradisi. Selain itu, masuknya
IIP dikatakan akan meningkatkan nilai pemegang
saham dengan mendayagunakan sumber-sumber
tambahan PT AI, dan seiring dengan itu persepsi
buruk seputar PT AI akan berkurang. (*/mon/fey)
|
| |
Index
|
|
| |
IBRA's
APBN (National Budget) Pay In should be Cash
Kompas
Cybermedia
(Bahasa Indonesia Only) |
Setoran
BPPN untuk APBN Harus Tunai
JAKARTA: Setoran
penerimaan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)
sebesar Rp 17 trilyun sebagai kontribusi kepada
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
1999/2000 harus dalam bentuk tunai, dan tidak
boleh dalam bentuk obligasi pemerintah yang
ditarik kembali dari bank-bank peserta
rekapitalisasi. Hal itu ditegaskan Menko Ekuin
Kwik Kian Gie, Jumat (19/3), di Jakarta.
"Target Rp
17 trilyun itu harus dipenuhi dalam bentuk cash
(tunai), karena dana Rp 17 trilyun itu
dimaksudkan untuk menopang APBN. Yang dibutuhkan
pemerintah untuk pembiayaan APBN adalah mesti
uang tunai, karena kita tidak bisa membayar gaji
dengan obligasi," kata Kwik.
Dua pekan lalu
Kepala BPPN Cacuk Sudarijanto mengemukakan,
target penerimaan APBN 1999/2000 sebesar Rp 17
trilyun yang dibebankan kepada BPPN, dapat
dicapai dalam bentuk tunai dan obligasi
pemerintah yang ditarik kembali dari bank-bank
peserta program rekapitalisasi.
Ketika itu
dijelaskan oleh Cacuk, penerimaan BPPN sudah
mencapai Rp 10,531 trilyun, dan pada akhir Maret
akan bertambah Rp 8,6 trilyun, sehingga total
penerimaan BPPN diperkirakan melebihi Rp 19
trilyun, atau melampaui target.
Dipaparkan,
jumlah penerimaan BPPN Rp 10,531 trilyun itu
bersumber dari penerimaan Asset Management
Investment (AMI) BPPN Rp 3,665 trilyun,
penerimaan Asset Management Credit (AMC) BPPN Rp
5,509 trilyun, premi penjaminan bank Rp 863
milyar, dan bunga deposito serta obligasi
pemerintah yang ditarik kembali Rp 494 milyar.
Sampai dengan
akhir Maret, demikian Cacuk, penerimaan BPPN
akan bertambah Rp 8,606 trilyun. Angka itu
berasal dari bertambahnya penerimaan AMI Rp 3,5
trilyun, penagihan AMC Rp 600 milyar, penjualan
aset dengan nilai Rp 30 trilyun sebesar Rp 1,88
trilyun, pengembalian obligasi pemerintah dari
bank-bank peserta program rekapitalisasi Rp
1,893 trilyun, dan penerimaan lain-lain yang
mencapai Rp 733 milyar.
Dengan demikian,
jumlah pengembalian obligasi pemerintah dari
bank-bank peserta rekapitalisasi secara
keseluruhan mencapai Rp 2,387 trilyun.
Kwik, yang juga
menjabat Ketua Komite Kebijakan Sektor Keuangan/KKSK
(lembaga pelindung dan pengawas BPPN) menegaskan,
setoran penerimaan BPPN untuk APBN 1999/ 2000
tidak bisa dalam bentuk obligasi pemerintah yang
ditarik kembali. "Obligasi itu harus laku
dijual dulu. Setoran BPPN ke APBN harus dalam
bentuk cash," tegasnya. (fey)
|
| |
Index
|
|
| |
|
'Texmaco
credits should refer to asset valuation' Bisnis
Indonesia
|
JAKARTA: The extra US$16 million per month
credit disbursements to the Texmaco Group, must
refer to the general valuation of the group's
assets.
Economic observer
Sjahrir said that one must pay attention to
whether the facility given by BI to Texmaco is
in accordance with Bank Negara Indonesia's (BNI)
claim.
Most important is
how to valuate the submitted assets, he added.
"My biggest concern is that credit
allocation has to refer to Texmaco's asset
valuation," he said last week.
Sjahrir further
questioned, how could BI channel a credit line
to Texmaco when the valuation of the credits
that were handed over to IBRA has never even
been conducted.
Sjahrir does not
believe that the asset valuation can be carried
out in one day. It would be difficult for IBRA
to say in one day that asset valuation on the
Texmaco was correct. He further added that Bank
Mandiri should not go through the same thing.
According to him,
the asset handover from private and state owned
banks are the same. IBRA has to valuate the
assets very carefully. Sjahrir further suspected
an irregularity on the handover of Texmaco's non
performing loans from Bank BNI to IBRA because
the process to becoming a BDP bank and healthy
again is like only a matter of performance.
Meanwhile,
economic observer Pande Radja Silalahi said in
the Texmaco case, the company signed an
agreement with IBRA as the foundation for
further credit disbursements.
The credit
disbursement procedure may be regular or may
also be irregular, but the public had already
showed their suspicious.
Although IBRA
already owns Texmaco, the legal procedure must
be continued. If the company was proven to have
violated the law, it must be punished. "But
if possible, the government should help the
employees," he said. (msw)
©COPYRIGHT
1998 BISNIS INDONESIA
PT Jurnalindo Aksara Grafika
|
| |
Index
|
|
| |
|
|
|
|