Index

 3 March 2000

 
Rajawali Group Restructuring Development (Part I)
Debt is Loaded with Peter Sondakh's Personal Guarantees
Kompas Cybermedia (Bahasa Indonesia Only)
Perkembangan Restrukturisasi Grup Rajawali (Bagian I)
Utangnya Sarat dengan Jaminan Pribadi Peter Sondakh

BERIKUT adalah perkembangan restrukturisasi Grup Rajawali, yang anak perusahaannya memroduksi rokok Bentoel. Saham kelompok perusahaan itu antara lain dimiliki oleh Peter Sondakh. Peter sendiri menempati posisi komisaris utama di sebagian besar perusahaan itu. Demikian pula utang-utangnya, sarat dengan jaminan pribadi (personal guarantee). Berikut uraian Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

PT Rajawali Corporation

PT Rajawali Corporation (PT RC) merupakan holding company (perusahaan induk) dari Grup Rajawali dengan kepemilikan oleh PT Danaswara Utama 99,99 persen dan Peter Sondakh 0,01 persen. Saham PT Danaswara Utama sendiri dimiliki oleh Peter Sondakh 63,4 persen dan Claudia 36,6 persen. Manajemen dipegang oleh Peter Sondakh selaku presiden direktur dan Tan Tjoe Liang sebagai direktur.

PT RC membawahi anak-anak perusahaan yang bergerak di bidang industri rokok, gedung perkantoran, hotel, pariwisata, telekomunikasi dan media, jasa keuangan (bank, multifinance) dan transportasi.

Aset PT RC (nonkonsolidasi) berdasarkan laporan keuangan internal per posisi 31 Juli 1999 adalah Rp 1,6 trilyun dengan total kewajiban di bank kurang lebih Rp 1,4 trilyun dan equity (modal) negatif mencapai kurang lebih Rp 395 milyar.

Kredit bermasalah hingga macet (nonperforming loan) disebabkan oleh anak-anak perusahaan di bawah RC mengalami kesulitan sehingga tidak mampu memberikan deviden. Kewajiban kepada bank sangat besar per posisi Juli 1999 mencapai kurang lebih Rp 1,4 trilyun. Krisis ekonomi yang terjadi yang mengakibatkan suku bunga perbankan menjadi sangat tinggi akhirnya menjadi beban sangat berat bagi RC untuk memenuhi kewajibannya.

Pinjaman-pinjaman yang dialihkan ke BPPN keseluruhan berjumlah Rp 66,7 milyar dan RC memberikan corporate guarantee (jaminan perusahaan) kepada sebagian besar loan anak-anak perusahaan.

Kondisi penanganannya sejauh ini adalah, debitur telah menandatangani surat kesanggupan menjalankan restrukturisasi perusahaan sesuai dengan arahan BPPN- letter of commitment and understanding (LoC&U) pada tanggal 23 Juli 1999 dan dikategorikan sebagai debitur kooperatif oleh BPPN.

PT Rajawali Corporation telah menunjuk Ernst & Young sebagai akuntan independen dan diperkirakan akan dapat diselesaikan selambat-lambatnya bulan Maret 2000.

Telah ditunjuk Kusnandar & Co untuk melakukan legal due diligence (pemeriksaan mendalam dan menyeluruh mengenai berbagai aspek) untuk Grup Rajawali secara keseluruhan.

Penanganan PT Rajawali Cor-poration pada prinsipnya akan digabung dengan PT Telekomindo Primabhakti dan perusahaan-perusahaan lainnya dalam grup seperti PT Express Transindo Utama, PT Kinasih Pratama, PT Wahana Lestari Sukses Jaya, PT Perkasamas Agung Sentosa dan PT Anggun Taxi Surya.

Bentuk restrukturisasi saat ini sedang dibicarakan dan diperkirakan akan diselesaikan dengan melakukan divestasi dari anak perusahaan yang ada.


PT Bentoel Prima dan anak perusahaan

PT Bentoel Prima, pernah memiliki nama PT Pabrik Rokok Tjap Bentoel (PR TB), yang berdiri tahun 1930. Pada bulan Juli 1991, PR TB menetapkan untuk menunda pembayaran pokok atas pokok utang dan bunga atas utang bank yang dimilikinya sebagai suatu alternatif penyelesaian atas kesulitan keuangan yang dihadapainya.

Pada tahun 1991, dewan komisaris PRTB memutuskan untuk mengganti susunan manajemennya dan Grup Rajawali diminta bantuan untuk melakukan restrukturisasi utang PRTB.

Berdasarkan laporan audit KPMG per 31 Oktober 1991, kewajiban PRTB adalah kurang lebih setara Rp 687,7 milyar (terdiri dari 255.417.000 dollar AS, 59.217.000 mark Jerman, 2.112.000 poundsterling Ingris, Rp 104.729.000.000).

PT Bentoel Prima (PT BP) didirikan pada tanggal 7 Februari 1992, namun PT BP ini belum mempunyai aktivitas sampai dengan tahun 1995.

Pada bulan Maret-April 1995 Bentoel (PRTB) menandatangani kesepakatan restrukturisasi dengan BRI dan BBD untuk fasilitas grup I, dan pada tahun 1996 PT Bentoel Prima mengambil alih seluruh saham anak-anak perusahaan PRTB.

Pada bulan Maret 1997 Bentoel menandatangani kesepakatan restrukturisasi pinjaman dengan sisa kreditur grup I (Sindikasi BRI) dan grup II. Pada bulan Juni 1997 restrukturisasi selesai dilakukan dan PT BP mengambil alih aset dan kewajiban PT PRTB. PT BP saat ini dimiliki oleh PT Rajawali Corporation 70 persen dan PRTB 30 persen.

Manajemen dikelola oleh profesional di antaranya Darjoto Setyawan sebagai direktur utama dibantu tujuh orang direktur lainnya, sedangkan komisaris utama dipegang oleh Peter Sondakh.

Berdasarkan Laporan Ernst & Young per 31 Juni 1999 PT Bentoel Prima dan anak-anak perusahaan memiliki aset kurang lebih Rp 972,9 milyar dengan modal positif kurang lebih Rp 92,5 milyar. Perusahaan saat ini mempunyai tenaga kerja kurang lebih 12.000 orang.


PT Tresno

PT Tresno didirikan pada tanggal 26 Mei 1955 merupakan anak perusahaan BP yang memroduksi rokok dengan merek Country (rokok putih). Peme-gang saham PT Tresno adalah BP sebesar 99,99 persen dan RC sebesar 0,01 persen. Daryoto Setiawan duduk sebagai direktur utama dan Peter Sondakh sebagai komisaris utama.

Pada tahun 1994 Tresno memegang lisensi dari Philip Mor-ris Indonesia (PMI) untuk memroduksi rokok merek Marlboro. Pada bulan November 1998, PMI memutuskan untuk memroduksi sendiri rokok Marlboro dan membeli mesin-mesin dari Tresno dan menyewa bangunan pabrik.

Non-performing loan (NPL) Bentoel Prima dan anak-anak perusahaan disebabkan oleh, mismanagement oleh pemilik Grup Bentoel sebelumnya, di mana fasilitas pinjaman dari kreditur-krediturnya tidak sepenuhnya dipergunakan untuk kepentingan operasional perusahaan.

Pada saat PRTB diambil alih oleh Grup Rajawali, mempunyai kewajiban yang cukup besar, yaitu total utang bank Rp 396,3 milyar dan berdasarkan perhitungan per posisi 30 Juni 1997 terdapat selisih antara total aktiva dengan total kewajiban Rp 323 milyar, di mana nilai aset hanya Rp 279 milyar sedangkan kewajiban Rp 602 milyar. Selisih ini dianggap sebagai utang PRTB kepada BP, namun karena PRTB tidak mampu membayar, maka utang tersebut ditanggung oleh RC.

Pada saat BP sedang berupaya meningkatkan kinerja usaha, terjadi krisis ekonomi di tahun 1997, sehingga recovery belum sempat tercapai dan akhirnya anak-anak perusahaan BP yaitu Amiseta dan Tresno tidak mampu memenuhi kewajiban kepada krediturnya.

Namun demikian BP sendiri pada dasarnya tetap dapat memenuhi kewajiban kepada para krediturnya, sesuai perjanjian kredit semula. Pinjaman-pinjaman yang dialihkan ke BPPN keseluruhan berjumlah Rp 297,7 milyar dan RC memberikan corporate guarantee atas sebagian besar pinjaman anak-anak per-usahaan.

Kondisi penanganan di BPPN adalah sebagai berikut. Nota kesepakatan restrukturisasi BP telah ditandatangani pada tanggal 1 Februari 2000, dan diperkirakan selambatnya di bulan Maret 2000 dapat dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian kredit restrukturisasi.

Debitur telah menandatangani LoC&U pada tanggal 16 Juni 1999 dan BPPN memberi status sebagai debitur kooperatif. Debitur telah menunjuk Hongkong & Shanghai Banking Corporation (HSBC) sebagai penasihat untuk melakukan penghitungan kebutuhan modal kerja untuk pembelian bahan baku tembakau dan cengkeh dan telah diserahkan laporan final pada bulan Desember 1999.

Debitur telah menunjuk akuntan independen HTM-Deloitte Touche Tohmatsu untuk melakukan due diligence dan saat ini laporannya sedang dalam tahap finalisasi. Kewajiban anak perusahaan yaitu PT Amiseta di Bank POS telah dilunasi bulan Desember 1999.

Kewajiban PT Tresno minimal sebesar pokok pinjaman akan dilunasi selambatnya akhir Februari 2000. BPPN telah menyetujui masuknya investor untuk memberikan tambahan dana dan diperkirakan pada bulan Februari 2000 ini investor akan menyuntikkan dananya ke BP.

 


PT Rajawali Adiwisma

PT Rajawali Adiwisma (PT RAW) didirikan tanggal 24 Maret 1990, merupakan salah satu perusahaan yang tergabung dalam Grup Rajawali dengan bidang usaha memiliki dan menyewakan gedung perkantoran. PT RAW memperoleh penghasilan dari menyewakan ruangan perkantoran bernama Menara Rajawali.

Saham PT RAW dimiliki oleh PT Rajawali Corporation 99,99 persen dan Peter Sondakh 0,01 persen. Manajemen dikelola oleh profesional, yaitu Anisa Himawan sebagai presiden direktur dan Erwinaryo serta Sugianto Himawan sebagai direktur.

Menara Rajawali secara komersial beroperasi sejak awal tahun 1998 dan penyewa mayoritas adalah perusahaan terkait dengan Grup Rajawali. Tingkat hunian per Agustus 1999 adalah 77 persen.

Berdasarkan laporan akuntan Drs Matias Zakaria, per posisi 31 Desember 1998 PT RAW memiliki aset kurang lebih Rp 131,9 milyar dengan modal positif kurang lebih Rp 38,4 milyar.

Secara operasional, PT RAW masih rugi kurang lebih Rp 1,2 milyar di tahun 1998 dan secara kumulatif kerugian telah mencapai kurang lebih Rp 21,6 milyar sampai dengan 31 Desember 1998.

Non-performing loan karena Menara Rajawali baru beroperasi secara komersil di awal tahun 1998 pada saat krisis ekonomi telah terjadi, sehingga sebagian calon penyewa membatalkan rencana menyewa ruang kantor di Mena-ra Rajawali ini.

Suku bunga Bank yang tinggi dan cashflow yang terbatas ka-rena tingkat hunian tidak maksimum mengakibatkan PT RAW mengalami kesulitan dalam membayar kewajiban kepada para krediturnya.

PT RAW telah menyerahkan LoC&U pada tanggal 16 Juni 1999 dan BPPN memasukkan ke dalam kategori debitur kooperatif.

BPPN telah melakukan pertemuan dengan investor yang berminat untuk membeli aset PT RAW di bulan Oktober 1999 dan diteruskan dengan pertemuan-pertemuan lanjutan untuk merealisasikan rencana jual beli aset tersebut, untuk melunasi seluruh pokok pinjaman.

Semula penjualan aset RAW ke investor direncanakan akan dapat dilakukan akhir bulan Desember 1999, namun mengingat dokumen-dokumen yang diperlukan untuk proses transaksi jual beli aset ini masih tertahan di bank-bank asal kredit, maka sampai saat ini transaksi belum dapat direalisasikan.

Pada tanggal 7 Februari 2000 BPPN menerima dokumen-do-kumen asli dari bank asal pinjaman dan diharapkan proses transaksi jual beli aset PT RAW ke investor dapat dilanjutkan dan dapat terealisir selambatnya di bulan Februari 2000.

 


PT Amiseta

PT Amiseta didirikan bulan November 1956, merupakan anak perusahaan BP yang khusus dibentuk untuk mendistribusikan seluruh rokok yang diproduksi Grup Bentoel, dan Amiseta memperoleh fee dari pendistribusian rokok-rokok tersebut.

Kepemilikan BP di Amiseta adalah melalui PT Subur Aman, yaitu PT Ami-seta dimiliki oleh PT Subur Aman 99,99 persen dan PT Rajawali Corporation 0,01 persen. (fey/mon)

 

Index

 
  
 

[Main Page] [Client Needs] [Country Focus] [Financial Services]
[Confidentiality] [Management Team] [Information System]
[Site Map] [Contact Us]

 

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com