Index

 16 November 2001

 

Golden Opportunity that always lost
Kompas Cybermedia (Bahasa Indonesia)

Perkembangan Sektor Riil pada Tahun 2002 Versi Econit

Kesempatan Emas yang Selalu Hilang

EKONOMI Indonesia seperti berada pada posisi, serta waktu yang tidak tepat. Setelah rupiah terdepresiasi secara hebat akibat krisis ekonomi pada tahun 1997 lampau, Indonesia sebetulnya mendapat cukup banyak kesempatan untuk segera bangkit dan memulihkan ekonomi. Akan tetapi, langkah yang ditempuh selalu kontradiktif terhadap kebijakan fiskal dan monoter, sehingga menghasilkan krisis yang bertambah parah.Kegagalan memanfaatkan peluang emas itu sebetulnya bukan hanya karena keteledoran pemerintah. Akan tetapi, juga akibat kesalahan kebijakan seperti yang disarankan oleh lembaga donor, antara lain Dana Moneter Internasional (IMF). Kondisi ini diperparah lagi dengan semakin beruntunnya kerusuhan sosial yang terjadi di hampir sebagian besar wilayah di Indonesia. Berbagai faktor itu turut mendorong ekonomi Indonesia masuk ke jurang yang sangat dalam. Bahkan, mengalami konstraksi lebih dari 13 persen pada tahun 1998, sehingga tidak dapat dijustifikasi oleh krisis keuangan regional waktu itu. Lalu, pertentangan dan transformasi politik, serta pengambilan keputusan yang lebih kompleks sebagai konsekuensi proses transisi demokrasi juga telah memakan biaya yang mahal. Akibatnya, pemulihan ekonomi Indonesia pun menjadi lebih lambat. Belum selesai persoalan dalam negeri, berbagai konflik internasional berkecamuk, terutama setelah Amerika Serikat mengalami pukulan teroris. Semua itu menambah ketidakpastian pemulihan ekonomi Indonesia. *** LANTAS bagaimana peluang pemulihan ekonomi Indonesia pada tahun 2002? Celah itu masih tetap ada. Peluang pemulihan ekonomi masih terbuka lebar di tahun 2002. Artinya, walaupun di tengah risiko dalam negeri yang tetap mengancam, risiko eksternal yang tetap besar, serta perlambatan ekonomi dunia yang terus berlangsung sejak pertengahan tahun 2000, ekonomi Indonesia masih memiliki potensi tumbuh cukup tinggi di tahun 2002. Sikap optimis masih memungkinkan terjadi, sepanjang ditopang kuat dengan kebijakan moneter dan fiskal yang cukup ekspansif, serta diikuti dengan kelonggaran dalam kebijakan perdagangan dan industri. Tanpa melakukan itu, peluang emas itu akan berubah menjadi lumpur. Sebab, dengan kebijakan fiskal tersebut diharapkan bisa secara cepat mendorong permintaan domestik tumbuh lebih tinggi lagi, sehingga mampu berperan dalam memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih besar. Sebaliknya juga, jika kebijakan moneter yang direncanakan Bank Indonesia tetap kontradiktif dan tidak segera diubah lebih akomodatif, tidak mustahil berpotensi menghambat laju ekspansi pertumbuhan domestik yang akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi pada tahun 2002. Jadi, berbagai langkah itu harus dilakukan agar potensi pertumbuhan tetap terjaga dan peluang emas bisa didulang di tahun 2002. Sebab, apa pun kenyataannya, pengetatan moneter berdampak buruk pada ekonomi Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari perjalanan historis di sektor moneter dalam tiga tahun terakhir ini. Di mana kondisi moneter yang memburuk, setelah pada akhir tahun 1999 inflasi mampu ditekan 1,9 persen dan pertumbuhan monetary base terkendali sekitar 15 persen per tahun, ternyata belum juga untuk dapat menjustifikasi pengetatan keuangan yang berlebihan oleh Bank Indonesia pada sisa tahun 2001, dan pada awal tahun 2002. Memang, inflasi historis Indonesia sebenarnya cukup moderat, yakni 8-10 persen. Hanya saja, untuk memangkas dalam waktu singkat, agak mustahil dan memakan biaya pengurangan output yang cukup besar. Sepanjang ekspektasi inflasi masyarakat masih tetap tinggi sebagai konsekuensi inersia inflasi dan perubahan kebijakan harga pemerintah, maka pengetatan ekspansi monetary base yang berlebihan jelas potensial berdampak kontradiktif pada ekonomi Indonesia pada tahun 2002. Hal lain yang juga patut diperhatikan, kemampuan kabinet Presiden Megawati Soekarnoputri melaksanakan reformasi hukum, politik, dan ekonomi sangat krusial bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik pada tahun 2002. Tanpa ada peningkatan penanaman modal asing secara langsung ke Indonesia, maka dalam jangka panjang pertumbuhan ekonomi Indonesia mungkin hanya berkisar empat sampai enam persen. Makin lama foreign direct investment (FDI) terhambat kembali ke Indonesia, makin lama waktu yang diperlukan Indonesia untuk kembali ke pertumbuhan prakrisis yang mencapai sekitar tujuh sampai delapan persen per tahun. Hal itu berarti akan semakin lama sustainability APBN, dan beban pembayaran utang membayang-bayangi prospek pemulihan ekonomi Indonesia di masa depan. *** Atas dasar berbagai langkah tersebut, Indonesia pada tahun 2002, diperkirakan potensial tumbuh 3,5 persen sampai empat persen. Pertumbuhan ini sebenarnya relatif tinggi, mengingat perlambatan ekonomi dunia sejak pertengahan 2000 masih berlangsung sampai sekarang, dan bahkan mungkin diperparah oleh serangan 11 September 2001. Pertumbuhan yang lebih tinggi ini dimungkinkan terutama karena beberapa hal. Pertama, pada waktu kinerja ekspor menurun, Indonesia masih tertolong oleh ekspansi permintaan domestik yang diperkirakan tetap tumbuh tinggi dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi tahun 2002. Kedua, momentum pemulihan ekonomi Indonesia masih tetap tinggi karena tahap pemulihan lebih lambat dibandingkan dengan negara krisis lainnya. Ruang ekspansi konsumsi swasta masih cukup besar pada tahun 2002 untuk mencapai level minimal mendekati tingkat konsumsi swasta sebelum krisis. Begitu juga dengan business fixed yang tetap tumbuh pada tahun 2001, diperkirakan masih memiliki ruang ekspansi pada tahun 2002. Hal itu terutama karena kapasitas terpakai industri yang makin tinggi, sehingga mulai memerlukan investasi perawatan dan peningkatan kapasitas yang lebih besar. Ketiga, exposure ekonomi Indonesia terhadap perdagangan dunia yang lebih rendah juga membuat dampak perlambatan ekonomi dunia relatif kecil, dibandingkan dengan negara krisis lainnya. Ekspor Indonesia yang sekitar 30 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) lebih kecil dibandingkan dengan Singapura atau Korea Selatan. Komposisi ekspor Indonesia yang didominasi oleh barang-barang primer juga membuat kinerja ekspor lebih tahan terhadap guncangan perlambatan ekonomi dan kontraksi industri berbasis teknologi informasi di AS. Secara khusus, proporsi ekspor barang elektronika Indonesia, terutama yang terkait dengan industri berbasis teknologi informasi, hanya sekitar 10 persen dari ekspor. Angka itu jauh lebih kecil dibandingkan dengan muatan ekspor berbasis teknologi informasi Singapura, Korea Selatan dan Malaysia. uuu JADI, apa pun kondisinya yang saat ini, kekuatan ekonomi Indonesia pada tahun 2002 diperkirakan akan ditopang sepenuhnya oleh ekspansi permintaan domestik. Permintaan pasar domestik ini diperkirakan akan tumbuh enam sampai tujuh persen. Konsumsi swasta yang menjadi komponen terbesar ekonomi Indonesia, diperkirakan akan tumbuh lima persen, serta investasi domestik bruto tumbuh 15-20 persen. Bersama-sama pengeluaran pemerintah, konsumsi swasta dan investasi bruto diperkirakan akan ekspansi tujuh sampai delapan persen pada 2002. Pertumbuhan ini masih lebih rendah dari ekspansi historisnya sebelum krisis yang mampu mencapai sembilan sampai 10 persen. Masalahnya, kemungkinan itu juga masih merupakan tanda tanya mengingat sampai tahun 2002 investasi asing yang masuk langsung ke Indonesia belum juga meningkat, padahal sektor ini diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2002 diperkirakan terpangkas menjadi sekitar tiga persen, terutama karena kinerja net-export yang tetap buruk sejalan dengan perlambatan ekonomi dunia yang diperkirakan masih akan terjadi pada tahun 2002. Demikian juga ekspor tahun 2002 diperkirakan akan mengalami perlambatan yang drastis, yakni hanya tumbuh lima persen pada tahun 2002, setelah sempat mencapai pertumbuhan 13 persen pada semester pertama tahun 2001. Pada sisi impor, juga menunjukkan tanda-tanda melambat sejak beberapa bulan lalu, sehingga diperkirakan hanya tumbuh sekitar 15 persen pada 2001 dan 2002. Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2002 yang tidak jauh berbeda dengan tahun 2001, maka ekspansi sektoral ekonomi pun mengalami hal yang sama dengan ekspansi sektoral tahun 2001. Seperti halnya tahun 2001, sektor perdagangan akan tetap tumbuh cukup tinggi sejalan dengan ekspansi ekonomi yang mencapai lima persen, lalu transportasi tumbuh enam persen, listrik, gas dan air tumbuh delapan persen, dan jasa-jasa tumbuh 1,5 persen pada tahun 2002. Namun, untuk sektor konstruksi relatif lebih lamban pada tahun 2002. sektor ini diperkirakan hanya tumbuh satu sampai dua persen, sejalan dengan perlambatan investasi residensial, dibandingkan dengan tahun 2001. Sedangkan sektor yang mengalami koreksi paling tajam adalah sektor manufaktur. Sektor ini pada tahun 2002 pertumbuhannya diperkirakan mencapai 3,5 persen, atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan tahun 2001 yang mampu mencapai empat persen. Perlambatan kinerja sektor manufaktur ini sejalan dengan penurunan kinerja ekspor nonmigas, terutama adalah barang-barang yang berbasis elektronik. *** NAMUN, sekalipun ekonomi Indonesia diperkirakan akan tumbuh sekitar tiga persen, tetap saja ketidakpastian domestik dan eksternal tetap membayang-bayangi ekonomi selama tahun 2002. Faktor di dalam negeri sendiri, seperti risiko ketidakpastian politik, ketidakmampuan pemerintahan Megawati, dan kebijakan moneter yang terlalu kontradiktif merupakan sumber ketidakpastian dan potensi terbesar penghambat pertumbuhan ekonomi. Faktor eksternal, terutama bersumber dari konflik AS-Afganistan pasca-WTC pada perdagangan dunia, serta capital flows ke negara-negara berkembang. Di sisi lain, ketidakpastian politik dan ancaman disintegrasi bangsa juga masih menjadi bayang-bayang suram yang tidak mudah penyelesaiannya. Walaupun banyak pihak meyakini hal itu bisa tertangani karena Megawati memiliki basis yang lebih luas di DPR dibanding Abdurrahman Wahid, sehingga diperkirakan mampu menciptakan kondisi politik yang lebih stabil dan kondusif bagi upaya pemulihan ekonomi pada tahun 2002. Namun, itu tetap belum cukup. Risiko ketidakpastian politik tetap harus diwaspadai dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Apalagi risiko disintegrasi bangsa sangatlah besar pengaruhnya bagi prospek pemulihan ekonomi. Sebab setiap ada pertentangan sosial yang cukup besar, berpotensi memangkas prospek pemulihan ekonomi satu sampai tiga persen, atau bahkan menjerumuskan ekonomi pada resesi seperti yang terjadi pada 1998 silam. Jadi, kunci keberhasilan itu adalah sangat tergantung pada kinerja Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dan privatisasi, serta penjadwalan utang. Dengan demikian, kemampuan pemerintahan Megawati untuk mengimplementasikan APBN 2002 dan melaksanakan reformasi seperti yang dijadwalkan, harus dibuktikan. Secara khusus, kemajuan BPPN dalam menjual kembali aset-aset yang dikelolanya, pelaksanaan privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan kemampuan tim ekonomi dalam menegosiasikan penjadwalan utang luar negeri menjadi kunci keberhasilan APBN 2002 sebagai stimulus pertumbuhan. Kemajuan reformasi seperti UU Pencucian Uang atau UU Kepailitan yang menjadi prasyarat pinjaman luar negeri, juga sangat penting untuk memungkinkan pemerintah memanfaatkan external financing yang tersedia. Kinerja kabinet ekonomi dalam mengimplementasikan APBN 2002 lalu menjadi sangat krusial penting. Sebab kenapa begitu, karena APBN tidak hanya diharapkan bisa menjadi stimulus ekonomi, tetapi juga karena substainability APBN sangat mempengaruhi persepsi investor pada iklim investasi di Indonesia secara umum. Selain mengupayakan ekspektasi positif dalam hal implementasi APBN, di sisi moneter juga tetap harus diikuti secara cermat. Sebab, dampak kontraktif kebijakan moneter yang berlebihan juga cukup berbahaya. Karena rencana ekspansi monetary base BI yang hanya 12-13 persen sampai Maret 2002 atau nol persen dari posisinya saat ini, potensial menghambat ekspansi ekonomi. Risiko kontraksi ini makin penting mengingat pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2002 dimotori oleh permintaan domestik, khususnya konsumsi swasta dan investasi domestik bruto. (Jannes Eudes Wawa)

 

Index

 
 
 

[Main Page] [Client Needs] [Global Presence ] [Country Focus ]
[Financial Services ][Confidentiality] [Management Team] [Investments ]
[Information System] [Site Map ][Contact Us ]

 

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com

\