| |
BII Additional Fund IDR 2 Trillion is still
under recapitalization
Bisnis
Indonesia online
(Bahasa Indonesia) |
|
Dana
tambahan BII Rp2 triliun masih underrecapitalization
JAKARTA
(Bisnis):
Pengamat perbankan Marjanto Danusaputro mengatakan
pemerintah 'tersandera ' dalam upaya penyehatan
BII, sementara BII menilai dana tambahan Rp2
triliun masih underrecapitalization dibandingkan
bank-bank rekap lain. "Dengan membiarkan BII
tetap bertahan dan menggagalkan akuisisi oleh
Bank Mandiri, pemerintah menganggap BII merupakan
permasalahan besar," tegas Marjanto di sini
kemarin. Artinya, kata dia, pemerintah tidak
bisa melikuidasi BII karena biayanya terlalu
besar. Demikian pula dengan akuisisi, kemungkinan
biayanya lebih besar dari obligasi yang akan
disuntikkan ke BII. Pemerintah akan menyuntikkan
dana sekitar Rp2 triliun-Rp3 triliun kepada
BII untuk mengatasi masalah interbank klaim
dan differed tax. Keputusan itu berarti menggagalkan
opsi akuisisi oleh Bank Mandiri yang sudah diputuskan
pemerintah Juli 2001 lalu. Dengan suntikan dana
dalam bentuk obligasi itu, BII diharapkan menjadi
lebih sehat sehingga bisa didivestasi. Koordinator
Tim Pengelola BII Cholil Hasan menganggap dengan
dana tambahan sekitar Rp2 triliun itu masih
underrecapitalization jika dibandingkan dengan
bank-bank rekapitalisasi lainnya. Rencana pemerintah
untuk menyuntik lagi obligasi sebesar Rp2 triliun,
menyebabkan total dana rekapitalisasi yang diterima
BII menjadi Rp8,46 triliun. "Pada posisi Maret
2001, dana rekapitalisasi yang diterima BII
sebesar Rp6,46 triliun atau hanya 17,3% dari
total aset Rp37,380 triliun. Bank Lippo dengan
total aset Rp23,85 triliun menerima dana rekapitalisasi
Rp5,859 triliun atau 25% ," jelas Cholil kepada
Bisnis pekan ini.. Selain itu, lanjutnya, BII
sebenarnya sudah mengembalikan dana rekapitalisasi
kepada pemerintah sebesar Rp2 triliun pada pertengahan
tahun ini. Awalnya dana rekapitalisasi BII yang
diterima sebesar Rp8 triliun lebih. Kami termasuk
paling rendah Cholil mengakui belum mempunyai
langkah-langkah lanjutan setelah keputusan pemerintah
tersebut. "Saya tinggal menunggu instruksi dari
pemerintah mengenai kelanjukannya." katanya.
Namun apakah nanti setelah sehat, BII tetap
berstatus sebagai Bank Dalam Penyehatan (BDP)
atau tidak. Sementara itu pengamat perbankan
Elvyn G. Masassya mengatakan kalau rencana akuisisi
BII oleh Bank Mandiri hanya alat saja. Sedangkan
tujuan utamanya tak lain menyelamatkan bank
mantan milik kelompok Sinar Mas itu. "Sejak
awal, ketika diumumkan Bank Mandiri akan mengakuisisi
BII, upaya itu hanyalah cara lain pemerintah
untuk menyelamatkan BII. Meski proses akuisisi
gagal namun proses penyelamatan terus berlangsung
yaitu dengan memindahkan NPL ke BPPN, memberikan
recycle bond dan hedged bond. Pemerintah at
total cost menyelamatkan BII," ujar Elvyn. Sikap
pemerintah itu juga terkait dengan kredibilitas
program rekapitalisasi bank. Jika BII dilikuidasi
tentu kredibilitas pemerintah dalam penyelamatan
sektor perbankan bisa anjlok. Penyelamatan ini
secara keseluruhan belum mengarah kepada konsolidasi
objektif. Namun hanya bertujuan menciptakan
stabilitas di sektor itu sehingga kepercayaan
masyarakat terhadap perbankan tetap kuat. "Tapi
kesehatan bank sifatnya artifisial alias semu.
Ya...paling tidak upaya ini mengurangi keraguan
masyarakat terhadap BPPN," tuturnya. Merger
ini, lanjutnya, juga dapat menaikkan nilai aset
perbankan yang dimiliki perbankan. Pasalnya,
pemerintah harus mendivestasi saham-sahamnya
di bank-bank yang diselamatkan. "Jika tidak
sehat, mana ada investor yang berminat," katanya.
(yn)
|
| |
Index
|
|
OPEC
Oil Price is US$ 15,85 per Barrel
The
Jakarta Post |
|
Harga
Minyak OPEC 15,85 Dollar AS per Barrel
Wina,
Selasa
Harga
minyak produksi Organisasi Negara-negara Pengekspor
Minyak (OPEC) terus merosot hingga 15,58 dollar
AS per barrel atau terendah dalam dua tahun
terakhir, awal pekan ini, setelah Jumat pekan
sebelumnya berada pada posisi 16,08 dollar/barrel
di pasar London. Harga ini baru terdongkrak
kembali ke level 17 dollar/barrel hari Rabu
(21/11), setelah dua produsen non-OPEC, yakni
Meksiko dan Norwegia, menjanjikan akan mengurangi
produksinya. Meksiko menjanjikan akan memangkas
produksinya sebesar 100.000 barrel per hari
(bph). Sedangkan Norwegia yang memproduksi 3,1
juta bph, mengaitkan kesediaannya untuk mengurangi
produksi sebesar antara 150.000 hingga 200.000
bph dengan kesediaan Rusia untuk juga mengurangi
produksi dalam jumlah signifikan. Sampai saat
ini, Rusia masih menolak untuk mengurangi produksi,
demikian pula Inggris. Sebelumnya, OPEC yang
dalam tahun ini sudah memangkas produksi 3,5
juta bph, bersikeras tidak akan memangkas volume
produksinya untuk mendongkrak harga, jika negara-negara
produsen besar non-OPEC, terutama Rusia sebagai
pesaing kunci, tidak juga mau memangkas produksi
untuk mengimbangi penurunan permintaan dunia.
OPEC yang memasok 40 persen dari suplai minyak
mentah dunia, juga mensinyalkan, pihaknya akan
memangkas produksi sebesar 1,5 juta bph, hanya
jika para produsen non-OPEC juga bersedia mengurangi
produksinya sebesar 500.000 bph. Menteri Energi
dan Sumber Daya Mineral Indonesia Purnomo Yusgiantoro
sebelumnya pernah mengatakan, target harga minyak
sebesar 24 dollar/barrel untuk APBN 2001 sudah
tercapai, meskipun harga kini mengalami penurunan.
Namun, target 2002, yakni 22 dollar/barrel bisa
terancam, karena permintaan dunia diperkirakan
tetap lemah hingga medio 2002. 10 dollar Menteri
Minyak Kuwait mengingatkan, harga minyak mentah
di pasar dunia berisiko terpuruk hingga di bawah
10 dollar/barrel, jika OPEC sampai memutuskan
menurunkan produksi secara sendirian tanpa mengikutsertakan
negara-negara produsen besar non-OPEC. Sikap
tidak mau berkompromi yang ditunjukkan para
produsen non-OPEC inilah antara lain yang memicu
harga minyak OPEC hari Senin menyentuh level
15-an dollar/barrel. Ini hari ke-40 secara berturut-turut
harga minyak OPEC berada di bawah batas terendah
kisaran target harga OPEC yang ditetapkan antara
22-28 dollar/ barrel. Padahal, berdasarkan mekanisme
penyesuaian harga secara otomatis di OPEC, dimungkinkan
bagi OPEC untuk mengurangi produksi, jika harga
terus bertahan di bawah 22 dollar/barrel selama
10 hari berturut-turut. Keberatan Rusia untuk
mengurangi produksi, menurut Deputi PM Rusia
Viktor Khristenko, dilatari kekhawatiran Pemerintah
Rusia pada lemahnya harga minyak mentah. Harga
minyak mentah telah mengalami penurunan lebih
dari 30 persen, sejak tragedi serangan teroris
di AS 11 September 2001. Para analis sendiri
mengingatkan, harga bisa mengalami kejatuhan
semakin dalam, jika kesepakatan OPEC dan non-OPEC
tidak segera dicapai. (AFP/Dow Jones/tat)
|
| |
Index
|
|
| |
|
|
|
|