Index

 22 November 2001

 
BII Additional Fund IDR 2 Trillion is still under recapitalization
Bisnis Indonesia online (Bahasa Indonesia)

Dana tambahan BII Rp2 triliun masih underrecapitalization

JAKARTA (Bisnis):

Pengamat perbankan Marjanto Danusaputro mengatakan pemerintah 'tersandera ' dalam upaya penyehatan BII, sementara BII menilai dana tambahan Rp2 triliun masih underrecapitalization dibandingkan bank-bank rekap lain. "Dengan membiarkan BII tetap bertahan dan menggagalkan akuisisi oleh Bank Mandiri, pemerintah menganggap BII merupakan permasalahan besar," tegas Marjanto di sini kemarin. Artinya, kata dia, pemerintah tidak bisa melikuidasi BII karena biayanya terlalu besar. Demikian pula dengan akuisisi, kemungkinan biayanya lebih besar dari obligasi yang akan disuntikkan ke BII. Pemerintah akan menyuntikkan dana sekitar Rp2 triliun-Rp3 triliun kepada BII untuk mengatasi masalah interbank klaim dan differed tax. Keputusan itu berarti menggagalkan opsi akuisisi oleh Bank Mandiri yang sudah diputuskan pemerintah Juli 2001 lalu. Dengan suntikan dana dalam bentuk obligasi itu, BII diharapkan menjadi lebih sehat sehingga bisa didivestasi. Koordinator Tim Pengelola BII Cholil Hasan menganggap dengan dana tambahan sekitar Rp2 triliun itu masih underrecapitalization jika dibandingkan dengan bank-bank rekapitalisasi lainnya. Rencana pemerintah untuk menyuntik lagi obligasi sebesar Rp2 triliun, menyebabkan total dana rekapitalisasi yang diterima BII menjadi Rp8,46 triliun. "Pada posisi Maret 2001, dana rekapitalisasi yang diterima BII sebesar Rp6,46 triliun atau hanya 17,3% dari total aset Rp37,380 triliun. Bank Lippo dengan total aset Rp23,85 triliun menerima dana rekapitalisasi Rp5,859 triliun atau 25% ," jelas Cholil kepada Bisnis pekan ini.. Selain itu, lanjutnya, BII sebenarnya sudah mengembalikan dana rekapitalisasi kepada pemerintah sebesar Rp2 triliun pada pertengahan tahun ini. Awalnya dana rekapitalisasi BII yang diterima sebesar Rp8 triliun lebih. Kami termasuk paling rendah Cholil mengakui belum mempunyai langkah-langkah lanjutan setelah keputusan pemerintah tersebut. "Saya tinggal menunggu instruksi dari pemerintah mengenai kelanjukannya." katanya. Namun apakah nanti setelah sehat, BII tetap berstatus sebagai Bank Dalam Penyehatan (BDP) atau tidak. Sementara itu pengamat perbankan Elvyn G. Masassya mengatakan kalau rencana akuisisi BII oleh Bank Mandiri hanya alat saja. Sedangkan tujuan utamanya tak lain menyelamatkan bank mantan milik kelompok Sinar Mas itu. "Sejak awal, ketika diumumkan Bank Mandiri akan mengakuisisi BII, upaya itu hanyalah cara lain pemerintah untuk menyelamatkan BII. Meski proses akuisisi gagal namun proses penyelamatan terus berlangsung yaitu dengan memindahkan NPL ke BPPN, memberikan recycle bond dan hedged bond. Pemerintah at total cost menyelamatkan BII," ujar Elvyn. Sikap pemerintah itu juga terkait dengan kredibilitas program rekapitalisasi bank. Jika BII dilikuidasi tentu kredibilitas pemerintah dalam penyelamatan sektor perbankan bisa anjlok. Penyelamatan ini secara keseluruhan belum mengarah kepada konsolidasi objektif. Namun hanya bertujuan menciptakan stabilitas di sektor itu sehingga kepercayaan masyarakat terhadap perbankan tetap kuat. "Tapi kesehatan bank sifatnya artifisial alias semu. Ya...paling tidak upaya ini mengurangi keraguan masyarakat terhadap BPPN," tuturnya. Merger ini, lanjutnya, juga dapat menaikkan nilai aset perbankan yang dimiliki perbankan. Pasalnya, pemerintah harus mendivestasi saham-sahamnya di bank-bank yang diselamatkan. "Jika tidak sehat, mana ada investor yang berminat," katanya. (yn)

 

Index

 
OPEC Oil Price is US$ 15,85 per Barrel
The Jakarta Post

Harga Minyak OPEC 15,85 Dollar AS per Barrel

Wina, Selasa

Harga minyak produksi Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) terus merosot hingga 15,58 dollar AS per barrel atau terendah dalam dua tahun terakhir, awal pekan ini, setelah Jumat pekan sebelumnya berada pada posisi 16,08 dollar/barrel di pasar London. Harga ini baru terdongkrak kembali ke level 17 dollar/barrel hari Rabu (21/11), setelah dua produsen non-OPEC, yakni Meksiko dan Norwegia, menjanjikan akan mengurangi produksinya. Meksiko menjanjikan akan memangkas produksinya sebesar 100.000 barrel per hari (bph). Sedangkan Norwegia yang memproduksi 3,1 juta bph, mengaitkan kesediaannya untuk mengurangi produksi sebesar antara 150.000 hingga 200.000 bph dengan kesediaan Rusia untuk juga mengurangi produksi dalam jumlah signifikan. Sampai saat ini, Rusia masih menolak untuk mengurangi produksi, demikian pula Inggris. Sebelumnya, OPEC yang dalam tahun ini sudah memangkas produksi 3,5 juta bph, bersikeras tidak akan memangkas volume produksinya untuk mendongkrak harga, jika negara-negara produsen besar non-OPEC, terutama Rusia sebagai pesaing kunci, tidak juga mau memangkas produksi untuk mengimbangi penurunan permintaan dunia. OPEC yang memasok 40 persen dari suplai minyak mentah dunia, juga mensinyalkan, pihaknya akan memangkas produksi sebesar 1,5 juta bph, hanya jika para produsen non-OPEC juga bersedia mengurangi produksinya sebesar 500.000 bph. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Purnomo Yusgiantoro sebelumnya pernah mengatakan, target harga minyak sebesar 24 dollar/barrel untuk APBN 2001 sudah tercapai, meskipun harga kini mengalami penurunan. Namun, target 2002, yakni 22 dollar/barrel bisa terancam, karena permintaan dunia diperkirakan tetap lemah hingga medio 2002. 10 dollar Menteri Minyak Kuwait mengingatkan, harga minyak mentah di pasar dunia berisiko terpuruk hingga di bawah 10 dollar/barrel, jika OPEC sampai memutuskan menurunkan produksi secara sendirian tanpa mengikutsertakan negara-negara produsen besar non-OPEC. Sikap tidak mau berkompromi yang ditunjukkan para produsen non-OPEC inilah antara lain yang memicu harga minyak OPEC hari Senin menyentuh level 15-an dollar/barrel. Ini hari ke-40 secara berturut-turut harga minyak OPEC berada di bawah batas terendah kisaran target harga OPEC yang ditetapkan antara 22-28 dollar/ barrel. Padahal, berdasarkan mekanisme penyesuaian harga secara otomatis di OPEC, dimungkinkan bagi OPEC untuk mengurangi produksi, jika harga terus bertahan di bawah 22 dollar/barrel selama 10 hari berturut-turut. Keberatan Rusia untuk mengurangi produksi, menurut Deputi PM Rusia Viktor Khristenko, dilatari kekhawatiran Pemerintah Rusia pada lemahnya harga minyak mentah. Harga minyak mentah telah mengalami penurunan lebih dari 30 persen, sejak tragedi serangan teroris di AS 11 September 2001. Para analis sendiri mengingatkan, harga bisa mengalami kejatuhan semakin dalam, jika kesepakatan OPEC dan non-OPEC tidak segera dicapai. (AFP/Dow Jones/tat)

 

Index

 
 
 

[Main Page] [Client Needs] [Global Presence ] [Country Focus ]
[Financial Services ][Confidentiality] [Management Team]
[Information System] [Site Map ][Contact Us ]

 

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com