|
BI:
Masalah BLBI sudah tuntas
JAKARTA
(Bisnis):
Gubernur
BI Syahril Sabirin menegaskan masalah BLBI sudah
selesai dimana BPPN sebaiknya memfokuskan diri
pada upaya pengembalian pinjaman dari pemilik
bank dalam kerangka skema MSAA/ MRA. Sementara
itu Ketua DPA Achmad Tirto Sudiro menegaskan
DPA akan berupaya mempertemukan pemerintah,
DPR, dan BI untuk menyelesaikan masalah tersebut.
"Kita optimistik masalah ini bisa selesai pada
akhir tahun ini. Jadi, bukan karena adanya permintaan
IMF," tegas Achmad usai bertemu pimpinan BI
di gedung DPA kemarin.
Dia mengatakan semua pihak harus duduk bersama
untuk mencari konsensus agar masalah BLBI dituntaskan.
Menurut Gubernur BI, kalau melihat sejarah bantuan
likuiditas BI (BLBI) maka dia merupakan hasil
dari kebijakan pemerintah. Pada periode itu
BI pemerintah tidak mengizinkan adanya penutupan
bank sehingga terjadi saldo debet. Lantas berganti
nama menjadi BLBI. Pada waktu itu disepakati
pemerintah akan mengambilalih masalah itu. BI
sendiri menerbitkan surat utang Rp24,5 triliun
sebagai bagian dari BLBI.
Angka
tersebut sebagai wujud tanggung jawab BI terhadap
BLBI Rp144,5 triliun. Dengan pengambialihan
tersebut berarti dengan diambilalihnya itu agunan-agunan
BLBI diserahkan kepada BPPN. Lalu, BPPN membuat
perjanjian-perjanjian dengan pemilik bank seperti
master of settlement acquasition agreement (MSAA)
dan master of refinancing agrerement (MRA).
"Jadi, BPPN tidak menagih kepada banknya, karena
banknya sudah bermasalah, tetapi kepada pemilik
bank." Artinya, lanjut Syahril, ada perjanjian
baru dengan pemilik bank melalui skema MSAA
dan MRA. menggugurkan perjanjian lama.
"Jadi, BLBI tidak berarti lagi. Tujuannya, agar
dana itu bisa dikembalikan." Dengan demikian,
menurut Gubernur BI, tanggung jawab masalah
BLBI saat ini ada di pundak pemerintah bukan
di BI lagi. Syahril mengakui bahwa bank sentral
sudah terlampau sering dituding sebagai biang
keladi kekusutan BLBI. Tapi, lanjutnya, semua
pihak harus melupakan masa lalu dan melihat
ke depan. "Jadi, fokus kita adalah bagaimana
aset di BPPN bisa dijual secara optimal, jelasnya.
Syahril mengakui nilai aset agunan peminjam
BLBI sudah turun akibat kondisi ekonomi yang
belum pulih. (rah/ens)
|
|
Danamon
targetkan ekspansi Rp7 triliun
JAKARTA
(Bisnis):
Bank
Danamon menargetkan ekspansi kredit hingga Rp7
triliun pada tahun 2002, sementara komposisi
obligasi rekapitalisasi fixed rate diharapkan
turun hingga 35%, kata eksekutifnya. Dirut PT
Bank Danamon Indonesia Tbk. Arwin Rasyid menyatakan
hingga sebelas bulan tahun 2001 bank tersebut
mencatat perkembangan yang positif, menyusul
proses integrasi yang dilakukan selama dua tahun
terakhir. "Sampai bulan November ini pertumbuhan
kredit sangat bagus, sudah Rp9 triliun lebih
dibanding awal Januari lalu yang hanya Rp5,6
triliun," ujarnya menjawab Bisnis di sini kemarin.
Dari
jumlah kredit tersebut, jelas dia, sebagian
besar dalam kondisi lancar. Non performing loan
Bank Danamon di bawah 10% menyusul adanya program
restrukturisasi kredit yang dilakukan secara
terus-menerus. Arwin menambahkan sebagai lembaga
keuangan Bank Danamon ingin meningkatkan fungsinya
sebagai lembaga intermediasi sehingga dapat
mengangkat kegiatan perekonomian yang saat ini
kurang lancar. "Bagi kita yang terpenting bagaimana
bisa berfungsi sebagai lembaga intermediasi
keuangan. Dalam hal ini loan-to-deposit ratio
kita terus meningkat dari 18% awal tahun menjadi
27%. Tahun depan diharapkan bisa naik hingga
32%,"ujarnya.
Target
LDR Untuk mencapai target LDR 32% tersebut,
lanjutnya, manajemen Bank Danamon akan meningkatkan
jumlah pinjaman yang dapat disalurkan kepada
masyarakat. Karena kondisi tahun depan yang
diprediksi masih dinamis, ujar Arwin, ekspansi
kredit tahun 2002 sedikitnya Rp5 triliun hingga
Rp7 triliun. Menurutnya, dari jumlah kredit
tersebut 50% diantaranya dialokasikan untuk
kredit UKM sementara 50% sisanya untuk sektor
konsumer dan korporasi.
Dari segi likuiditas Bank Danamon juga dalam
kondisi yang bagus, yaitu dengan rasio kecukupan
modal mencapai posisi 39%. "Likuiditas juga
nggak ada masalah, posisi devisa netto kita
jaga pada level 5%," ujarnya. Selain itu, lanjutnya,
Bank Danamon juga akan mengurangi komposisi
obligasi rekapitalisasi fixed rate yang dimilikinya.
Semula dari Rp35 triliun obligasi rekap yang
dimiliki Danamon, 70% di antaranya merupakan
fixed rate dan 30% sisanya variable rate. (ybw)
|