Index

 28 November 2001

 
IBRA : BCA bidder which failed on fit & proper test is eliminated
Bisnis Indonesia online (Bahasa Indonesia)

BPPN: Bidder BCA yang gagal fit & proper test langsung gugur

JAKARTA (Bisnis):

Ketua Task Force BPPN Subowo Musa mengungkapkan selama proses due diligence berlangsung, BPPN akan memberikan informasi kepada BI mengenai kondisi sembilan investor yang masuk dalam short listed penjualan 51% saham BCA untuk keperluan fit and proper test. "Proses fit and proper test itu dilakukan secara paralel dengan due diligence. Untuk itu [fit and proper test] kami memberikan informasi kepada BI tentang kondisi dari sembilan peminat saham BCA," ujar Subowo kepada Bisnis kemarin. Dengan demikian, lanjutnya, pemenang tender nantinya dipastikan sudah lulus test tersebut. Dia menambahkan jika selama proses tersebut-ternyata BI menginformasikan ada peserta yang tidak lulus tes uji kepatutan-," maka mereka dinyatakan gugur." BPPN, selaku pemegang saham, mempunyai hak untuk mengambil keputusan tersebut. "Dengan kata lain, rekomendasi yang diberikan BI sangat penting dalam penentuan pemenang tender," jelasnya. Mengenai kemungkinan masuknya Edward Suryadjaja, mantan pemilik Bank Summa, Subowo mengaku tidak mengetahui hal itu. "Kalau dari daftar yang ada, tidak ada nama Edward. Karena dalam GKBI Investment hanya terdiri dari Konsorsium GKBI, Newbrigde, Rifan dan Saratoga," ujar Subowo. Stancha masuk bidder Sementar itu Standart Chartered Bank telah menerima pemberitahuan dari BPPN bahwa lembaga keuangan yang berbasis di Inggris tersebut menjadi salah satu dari sembilan short listed investor dalam divestasi BCA. "Kita sudah terima pemberitahuan itu BPPN kalau SCB berhak mengikuti proses penawaran selanjutnya. BPPN juga telah memberikan kesempatan untuk melakukan proses uji tuntas dalam tiga pekan kedepan," ungkap Head of External Affairs SCB A. Halim Mahfudz kepada Bisnis, di Jakarta tadi malam. Dengan masuknya SCB tersebut, berarti sembilan calon investor divestasi 51% saham BCA telah teridentifikasi seluruhnya. Sebelumnya, Kepala BPPN I Putu Gede Ary Suta menolak mengungkap identifikasi bank asing yang masuk dalam sembilan short listed investor dengan alasan terikat oleh perjanjian rahasia. Halim mengatakan BPPN juga telah membuka kesempatan bagi SCB untuk mempelajari BCA melalui data room yang telah tersedia. "Kita sedang melakukan persiapan ke arah sana." Mengenai kesepakatan rahasia dengan BPPN, dia mengukapkan hal itu merupakan prosedur wajar dalam sebuah proses tender. "Aturan itu juga berasal dari regulator, kalau kita sendiri sebenarnya tidak keberatan untuk di-disclosure. Halim menolak berkomentar apakah SCB membeli BCA sendirian atau menggandeng investor lokal di Indonesia. "Itu saya belum tahu, karena memang belum menerima penjelasan dari kantor pusat kami." Secara terpisah Bos Grup Setco Setiawan Djody -salah satu grup yang tergabung dalam Malaysian Plantation Group-menyatakan konsorsiumnya ingin menjadikan BCA sebagai industrial bank untuk mendukung sejumlah sektor industri seperti migas dan agrikultur . "Saya memang ikut konsorsium Malaysia. Tapi, kita ingin menjadi long term investor, kalau bisa pegang saham [BCA] selamanya," jelas Djody kepada Bisnis kemarin. Menurut dia, konsorsium itu bukan lembaga investasi atau securities company. Jadi, tidak bertujuan untuk memperjualbelikan saham BCA untu keuntungan jangka pendek. Dia mengungkapkan Setco tergabung dalam konsorsium bersama Alliance Bank Malaysia dan Plantation Group selain Ernst & Young dan PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas selaku penasehat. Alliance Bank, lanjutnya, didirikan pada 1960 dan mempunyai jaringan yang luas dengan dana 25 miliar ringgit. (04/yn/ens)

 

Index

 
AIG, Chubb & Goldman Sachs has form insurance company
Bisnis Indonesia online(Bahasa Indonesia)

AIG, Chubb, & Goldman Sachs bentuk asuransi

NEW YORK (Persbiro):

Sejumlah lembaga keuangan global membentuk dua perusahaan asuransi dan reasuransi baru dengan total modal US$3,1 miliar guna mengantisipasi kenaikan tarif premi menyusul tragedi World Trade Centre. American International Group Inc., Chubb Corp. dan Goldman, Sachs & Co diketahui saling berpatungan modal hingga US$1,5 miliar membentuk Allied World Assurance Co. Ltd (AWAC) yang akan bergerak di bidang asuransi dan reasuransi kerugian berbasis di Bermuda.

"Pasar asuransi selalu menunjukkan adanya kebutuhan penutupan risiko yang belum sepenuhnya terpenuhi. AWAC akan melengkapi kapasitas dan kapabilitas pasar yang ada," ujar chairman AIG Maurice Greenberg seperti ditulis Reuters kemarin. AWAC akan beroperasi minggu pertama bulan Desember 2001 untuk mengantisipasi adanya rush penutupan risiko sebelum dimulainya perpanjangan kontrak asuransi pada Januari 2002. Selain AWAC, pekan lalu satu perusahaan asuransi baru-AXISSpecialty Ltd-juga dibentuk di Bermuda dengan modal US$1,6 miliar untuk mengantisipasi adanya kenaikan tarif premi pada awal 2002 sebagai akibat dampak serangan teroris di menara World Trade Centre bulan September lalu.

AXIS membentuk perusahaan baru dengan menggandeng sejumlah lembaga pengelola dana global Credit Suisse First Boston, JPMorgan Partners, Thomas H. Lee Partners dan The Blackstone Group. "Perusahaan ini akan mengambil segmen pasar pada penutupan risiko yang besar atau unusual risk," tulis BusinessInsurance. Kalangan analis beberapa waktu menyatakan pasar asuransi global akan mendapat pasokan modal baru dari investor US$10 miliar-US$20 miliar dalam waktu enam bulan mendatang guna mengantisipasi kenaikan tarif premi pada 2002. (ybw)

 

Index

 
 
 

[Main Page] [Client Needs] [Global Presence ] [Country Focus ]
[Financial Services ] [Confidentiality] [Management Team] [Investments ]
[Information System] [Site Map ] [Contact Us ]

 

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com