|
BPPN:
Bidder BCA yang gagal fit & proper test langsung
gugur
JAKARTA
(Bisnis):
Ketua Task Force BPPN Subowo Musa mengungkapkan
selama proses due diligence berlangsung, BPPN
akan memberikan informasi kepada BI mengenai
kondisi sembilan investor yang masuk dalam short
listed penjualan 51% saham BCA untuk keperluan
fit and proper test. "Proses fit and proper
test itu dilakukan secara paralel dengan due
diligence. Untuk itu [fit and proper test] kami
memberikan informasi kepada BI tentang kondisi
dari sembilan peminat saham BCA," ujar Subowo
kepada Bisnis kemarin. Dengan demikian, lanjutnya,
pemenang tender nantinya dipastikan sudah lulus
test tersebut. Dia menambahkan jika selama proses
tersebut-ternyata BI menginformasikan ada peserta
yang tidak lulus tes uji kepatutan-," maka mereka
dinyatakan gugur." BPPN, selaku pemegang saham,
mempunyai hak untuk mengambil keputusan tersebut.
"Dengan kata lain, rekomendasi yang diberikan
BI sangat penting dalam penentuan pemenang tender,"
jelasnya. Mengenai kemungkinan masuknya Edward
Suryadjaja, mantan pemilik Bank Summa, Subowo
mengaku tidak mengetahui hal itu. "Kalau dari
daftar yang ada, tidak ada nama Edward. Karena
dalam GKBI Investment hanya terdiri dari Konsorsium
GKBI, Newbrigde, Rifan dan Saratoga," ujar Subowo.
Stancha masuk bidder Sementar itu Standart Chartered
Bank telah menerima pemberitahuan dari BPPN
bahwa lembaga keuangan yang berbasis di Inggris
tersebut menjadi salah satu dari sembilan short
listed investor dalam divestasi BCA. "Kita sudah
terima pemberitahuan itu BPPN kalau SCB berhak
mengikuti proses penawaran selanjutnya. BPPN
juga telah memberikan kesempatan untuk melakukan
proses uji tuntas dalam tiga pekan kedepan,"
ungkap Head of External Affairs SCB A. Halim
Mahfudz kepada Bisnis, di Jakarta tadi malam.
Dengan masuknya SCB tersebut, berarti sembilan
calon investor divestasi 51% saham BCA telah
teridentifikasi seluruhnya. Sebelumnya, Kepala
BPPN I Putu Gede Ary Suta menolak mengungkap
identifikasi bank asing yang masuk dalam sembilan
short listed investor dengan alasan terikat
oleh perjanjian rahasia. Halim mengatakan BPPN
juga telah membuka kesempatan bagi SCB untuk
mempelajari BCA melalui data room yang telah
tersedia. "Kita sedang melakukan persiapan ke
arah sana." Mengenai kesepakatan rahasia dengan
BPPN, dia mengukapkan hal itu merupakan prosedur
wajar dalam sebuah proses tender. "Aturan itu
juga berasal dari regulator, kalau kita sendiri
sebenarnya tidak keberatan untuk di-disclosure.
Halim menolak berkomentar apakah SCB membeli
BCA sendirian atau menggandeng investor lokal
di Indonesia. "Itu saya belum tahu, karena memang
belum menerima penjelasan dari kantor pusat
kami." Secara terpisah Bos Grup Setco Setiawan
Djody -salah satu grup yang tergabung dalam
Malaysian Plantation Group-menyatakan konsorsiumnya
ingin menjadikan BCA sebagai industrial bank
untuk mendukung sejumlah sektor industri seperti
migas dan agrikultur . "Saya memang ikut konsorsium
Malaysia. Tapi, kita ingin menjadi long term
investor, kalau bisa pegang saham [BCA] selamanya,"
jelas Djody kepada Bisnis kemarin. Menurut dia,
konsorsium itu bukan lembaga investasi atau
securities company. Jadi, tidak bertujuan untuk
memperjualbelikan saham BCA untu keuntungan
jangka pendek. Dia mengungkapkan Setco tergabung
dalam konsorsium bersama Alliance Bank Malaysia
dan Plantation Group selain Ernst & Young dan
PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas selaku
penasehat. Alliance Bank, lanjutnya, didirikan
pada 1960 dan mempunyai jaringan yang luas dengan
dana 25 miliar ringgit. (04/yn/ens)
|
|
AIG,
Chubb, & Goldman Sachs bentuk asuransi
NEW
YORK (Persbiro):
Sejumlah lembaga keuangan global membentuk dua
perusahaan asuransi dan reasuransi baru dengan
total modal US$3,1 miliar guna mengantisipasi
kenaikan tarif premi menyusul tragedi World
Trade Centre. American International Group Inc.,
Chubb Corp. dan Goldman, Sachs & Co diketahui
saling berpatungan modal hingga US$1,5 miliar
membentuk Allied World Assurance Co. Ltd (AWAC)
yang akan bergerak di bidang asuransi dan reasuransi
kerugian berbasis di Bermuda.
"Pasar asuransi selalu menunjukkan adanya kebutuhan
penutupan risiko yang belum sepenuhnya terpenuhi.
AWAC akan melengkapi kapasitas dan kapabilitas
pasar yang ada," ujar chairman AIG Maurice Greenberg
seperti ditulis Reuters kemarin. AWAC akan beroperasi
minggu pertama bulan Desember 2001 untuk mengantisipasi
adanya rush penutupan risiko sebelum dimulainya
perpanjangan kontrak asuransi pada Januari 2002.
Selain AWAC, pekan lalu satu perusahaan asuransi
baru-AXISSpecialty
Ltd-juga dibentuk di Bermuda dengan modal US$1,6
miliar untuk mengantisipasi adanya kenaikan
tarif premi pada awal 2002 sebagai akibat dampak
serangan teroris di menara World Trade Centre
bulan September lalu.
AXIS membentuk perusahaan baru dengan menggandeng
sejumlah lembaga pengelola dana global Credit
Suisse First Boston, JPMorgan Partners, Thomas
H. Lee Partners dan The Blackstone Group. "Perusahaan
ini akan mengambil segmen pasar pada penutupan
risiko yang besar atau unusual risk," tulis
BusinessInsurance. Kalangan analis beberapa
waktu menyatakan pasar asuransi global akan
mendapat pasokan modal baru dari investor US$10
miliar-US$20 miliar dalam waktu enam bulan mendatang
guna mengantisipasi kenaikan tarif premi pada
2002. (ybw)
|