Index

 24 October 2001

 
18 Strategic Investor Interested
Kompas Cybermedia

18 Investor Strategis Berminat terhadap BCA

Jakarta, Kompas

Sebanyak 18 investor strategis dari 98 calon investor strategis yang diundang Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), telah menyampaikan pernyataan minat mereka untuk membeli 51 persen saham Bank Central Asia (BCA) yang akan didivestasikan oleh pemerintah dengan cara 30 persen disertai opsi 21 persen.Ke-18 investor strategis itu, menurut Kepala Divisi Komunikasi BPPN Suryo Susilo, di Jakarta, Selasa (23/10), terdiri dari tujuh investor asing dan 11 investor lokal, berupa bank atau lembaga keuangan. Mereka adalah JP Morgan Partners, JP Morgan Securities, PT Makindo Tbk, PT Madani Securities, PT Trimegah Securities, PT Bhakti Investama/PT Bhakti Asset Management, PT Jakarta Aset Manajemen, PT Rifan Financindo Advisory, PT Indonesian Recovery Company Limited (IRCL), PT BNI Tbk, PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas, PT Bhakti Capital Indonesia Tbk, dan PT TDM Asset Management. Selain 18 investor strategis yang telah menyampaikan surat pernyataan minat dan menandatangani confidentiality agreement tersebut, menurut Suryo, BPPN juga masih menunggu finalisasi penandatanganan dokumen dari beberapa investor strategis asing lainnya. Penawaran saham BCA kepada investor strategis ini merupakan rangkaian dari proses tender ulang divestasi 51 persen saham BCA sebelumnya yang disebutkan sudah berhasil menyaring dua calon pemenang, yakni Newbridge Capital dan IRCL. Hasil tender pertama itu dibatalkan, karena diduga diwarnai suap, insider trading (perdagangan orang dalam), dan manipulasi harga. Di belakang IRCL-yang merupakan perusahaan patungan antara Asia Debt Management yang berbasis di Hongkong dan Bhakti Investama-itu sendiri, sejumlah sumber menduga terdapat Anthony Salim sebagai pemilik lama BCA. Penawaran saham BCA kali ini dilakukan oleh BPPN sejak awal Oktober 2001, disusul pengiriman teaser letter dan confidentiality agreement kepada sekitar 98 calon investor strategis mulai 8 Oktober 2001. Untuk tahap selanjutnya, menurut Suryo, BPPN telah mengirimkan information memorandum (informasi yang lebih detail) tentang rencana divestasi saham BCA maupun performa PT BCA Tbk kepada para calon investor strategis yang telah menyampaikan surat pernyataan minat dan menandatangani confidentiality agreement. BPPN sendiri mengharapkan penawaran awal yang tidak mengikat (non binding bid) sudah dapat diterima pada awal November 2001. Selanjutnya, atas penawaran awal ini akan dilakukan evaluasi untuk menentukan calon investor (shorlisted investors) mana saja yang berhak untuk mengikuti tahap berikutnya. Tegaskan komitmen Menurut Suryo, Menteri Negara BUMN Laksamana Sukardi, Kepala BPPN I Putu Gede Ary Suta, Koordinator Penjualan Aset BPPN I Nyoman Sender, dan Kepala Divisi Restrukturisasi Perbankan BPPN Soebowo Moesa telah melakukan serangkaian pertemuan dengan sejumlah calon investor strategis tersebut di Singapura dan Hongkong, 17-18 Oktober lalu. Pertemuan ini selain dimaksudkan untuk menjajaki sejauh mana minat calon investor, juga untuk menegaskan komitmen Pemerintah RI untuk melakukan divestasi strategis saham BCA. Divestasi BCA-yang tertunda-tunda sejak akhir tahun 2000 itu-diharapkan bisa menjadi landmark transaction atau acuan untuk divestasi aset-aset pemerintah lainnya, termasuk melalui privatisasi BUMN. Divestasi BCA itu sendiri akan sangat menentukan tercapai tidaknya target setoran BPPN dalam APBN 2001, yakni sebesar Rp 27 trilyun dalam bentuk tunai plus Rp 10 trilyun dalam bentuk penarikan kembali obligasi rekapitalisasi bank. Hingga akhir September lalu, dari target sebesar itu baru dicapai sebesar Rp 19 trilyun lebih dalam bentuk tunai, sementara untuk penarikan obligasi masih nol. Kepala BPPN IPG Ary Suta pada rapat kerja pemerintah dengan Komisi IX DPR tanggal 12 September lalu memperkirakan, dari divestasi 51 persen saham BCA akan diperoleh dana Rp 5,2 trilyun. Angka ini didasarkan pada perhitungan harga saham BCA tanggal 11 September yang sebesar Rp 1.425 per lembar saham, ditambah premi sebesar 25 persen, sehingga menjadi Rp 1.750 per saham. Oleh DPR waktu itu, angka Rp 5,2 trilyun itu dinilai sangat tidak sebanding dengan biaya rekapitalisasi yang telah dikeluarkan pemerintah untuk BCA, yakni Rp 60 trilyun. (tat)

 

Index

 
 
 

[Main Page] [Client Needs] [Global Presence ] [Country Focus ]
[Financial Services ][Confidentiality] [Management Team]
[Information System] [Site Map ][Contact Us ]

 

 

PT Corfina Mitrakreasi
Menara Kebon Sirih 21st Floor, Jl. Kebon Sirih 17-19
Jakarta 1034, INDONESIA
Tel:(62-21) 392-2401  |  Fax:(62-21) 392-2403
e-mail: marketing@corfina.com

\