|
Penjualan Holdiko batal
JAKARTA
(Bisnis):
Keluarga
Salim diduga di belakang penawar dalam tender
penjualan saham PT Holdiko Perkasa di Sulfindo
Group sehingga Holdiko membatalkan penjualan
sahamnya. Aset Holdiko yang terjual tahun 2001
No Keterangan Nilainya 1. First Pacific Co.Ltd
US$8,55 juta 2. Indocoal US$45,5 juta 3. Indomaret
Rp162 miliar 4. Indocement (tranche A) US$43,8
juta (tranche B) Rp250,4 miliar 5. Kerismas
Rp297 miliar 6. Indopoly US$29,17 juta 7. Yunnan
Kuniene US$14,38 juta 8. PT Indosiar Visual
Mandiri Tbk Pelunasan utang pada Holdiko Rp400
miliar 9. PT Salim Rengo Containers Rp204 miliar
10. Salim Plantations * US$368 juta -Pelunasan
utang pada Holdiko Rp357 miliar 11. Mosquito
Coil Group * Rp610 miliar Ket. Nilai tukar Rp/US$
sesuai tanggal penjualan * Terjual tahun 2000,
selesai di tahun 2001 Sumber: PT Holdiko Perkasa
Sumber Bisnis mengungkapkan Holdiko akhirnya
membatalkan penjualan seluruh saham Holdiko
di Sulfindo, karena ada indikasi Salim berada
di belakang bidder yang ikut tender Sulfindo
itu. Holdiko, katanya, menangkap indikasi sekitar
tiga bidder yang ikut final bid tender itu membuat
satu kesepakatan untuk menawar sangat rendah.
Makanya, menurut sumber, Holdiko membatalkan
rencana penjualan saham Sulfindo, kendati dalam
proses tender pihak penawar tertinggi seharusnya
yang menjadi pemenang. "Dari pada Salim masuk
lagi, lebih baik dibatalkan. Apalagi asetnya
ditawar sangat murah." Sementara itu, Direktur
Holdiko Scott Coffey dalam siaran persnya kemarin
menyatakan penjualan seluruh kepemilikan saham
di Sulfindo yang dimulai Mei 2001 dibatalkan,
karena penawaran yang masuk ke Holdiko terlalu
rendah. Holdiko, katanya, telah memulai diskusi
dengan mitra kerja sama Sulfindo Group, Sumitomo
dan Tosch. Selanjutnya, ditawarkan secara terbuka.
Namun, dia melanjutkan setelah melalui proses
seleksi awal calon investor (short listing)
dan due diligence, harga penawaran akhir yang
diterima jauh di bawah harga penawaran awal
dan kisaran penilaian yang diberikan penasehat
keuangan Holdiko, yaitu J.P. Morgan. Sulfindo
Group terdiri dari PT Sulfindo Adiusaha (produsen
chlorine dan caustic soda), PT Satomo Indovyl
Monomer (ethylene dichloride dan vinyl chloride
monomer), dan PT Satomo Indovyl Polymer (poly
vinyl chloride). Menurut dia, Holdiko akan meneruskan
transaksi penjualan ke-11 aset lainnya yang
dijadwalkan tahun ini. Transaksi tersebut mencakup
penjualan kepemilikan saham Holdiko di PT Indosiar
Visual Mandiri Tbk, Sugar Group, PT Poli Contindo
Nusa, Riau Industrial Estates, PT Yakult Indonesia
Persada, PT Gumindo Perkasa Industri, Guangdong
Jiangmen ISN Float Glass, PT Berdikari Sari
Utama Flour Mills, PT Indomarco Adi Prima, Edible
Oil & Fats Group dan Pt Indogift Chuenher Indah.
Dia menjelaskan dalam proses penjualan PT Poli
Contindo Nusa, sebanyak 10 dari 58 investor
yang berpartisipasi ikut serta dalam tahap penawaran
awal yang dilakukan pada 21 September 2001.
BPPN dan Holdiko, jelasnya, akan menyeleksi
sembilan investor yang berlanjut ke proses penawaran
akhir. Dari 131 investor yang berpartisipasi
dalam proses penjualan Sugar Group, 11 di antaranya
memberikan penawaran pada tahap awal yaitu 28
September 2001. Sembilan investor selanjutnya
dipilih untuk mengikuti penawaran akhir. Holdiko
berharap menerima penawaran aset berikutnya
dalam 10 hari. Penerimaan kotor yang diharapkan
Holdiko dari penjualan 11 aset itu Rp7,332 triliun.
(Lihat tabel) 8 Penawar Menurut sumber Bisnis,
Sumitomo Corp., Tosoh, TPC (Thailand), dua bank
lokal dan empat perusahaan lokal diketahui terlibat
dalam tender pembelian Sulfindo tersebut pada
akhir Agustus 2001. Sumitomo Corp. yang memegang
surat utang yang diterbitkan Sulfindo semula
dijagokan sebagai pemenang dalam tender tersebut.
Namun harga yang ditawarkannya pun masih di
bawah harga yang dipatok J.P. Morgan, penasihat
keuangan Holdiko dan BPPN dalam penjualan aset
tersebut. Sumitomo dan Tosoh adalah mitra utama
Grup Salim di PT Satomo Indovyl Monomer dan
PT Satomo Indovyl Polymer. Berdasarkan laporan
keuangan Sulfindo Group untuk tahun yang berakhir
31 Desember 1999, total aset konsolidasi di
ketiga perusahaan itu mencapai Rp2,32 triliun,
sedangkan ekuitas Rp300,34 miliar, dan penjualan
Rp904,16 miliar serta laba bersih Rp148,53 miliar.
SAU adalah produsen soda kostik (215.000 ton/tahun)
dan chlorine (195.000 ton/tahun) yang dimiliki
Holdiko 98,6% dan Timsco Development Corporation
1,4%. SIM memproduksi EDC (265.000 ton/tahun)
dan VCM (100.000 ton/tahun) dimiliki Holdiko
74,29%, Sumitomo Corp. 25%, dan Timsco 0,71%.
SIP memproduksi PVC (70,000 ton/tahun), dimiliki
Holdiko 49,3%, Tosoh Corp. 25%, Sumitomo Corp.
25%, dan Timsco 0,7%. (shm/ya)
|