|
Operasi pasar, gaya khas perdagangan Indonesia
Dalam rangka setahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf
Kalla, Bisnis Indonesia
menurunkan laporan berseri mengenai kinerja perekonomian nasional.
Berikut laporan pertama mengenai Tata Niaga Perdagangan.
Banyak di antara kita yang barangkali lupa, sesuatu yang kita santap
tiap hari sering datang dari ketegangan yang amat berisiko: Ngebut.
Truk pick up dengan bak berisi sayuran yang menggunung melaju di atas
80 km per jam lewat tengah malam.
Kecepatan, tentu saja, telah menjadi faktor dalam beroleh margin harga.
Ada harapan, tapi dengan perhitungan, mungkin juga kecemasan, dan
terutama kesadaran, bahwa meski bisa dikendalikan, diprediksi, harga
tetap terbentuk dan menjadi bukan karena keisengan.
Dia adalah akibat terus menerus dari bertemunya kekuatan permintaan dan
penawaran. Atau mungkin secara lebih sederhana, adalah skor sementara
pertandingan antara orang-orang yang berkekuatan permintaan dan
orang-orang yang berkekuatan penawaran. Se-macam perang.
Mungkin juga karena itu, sebaliknya, pada akhirnya kecepatan sering
menentukan berhasil tidaknya sebuah operasi penyelamatan. Ketepatan
artikulasi dan sedikit sentuhan psikologi sudah pasti turut membantu
memberikan hasil lebih baik.
Dalam mengatasi gejolak harga gula misalnya, kecepatan itu tampak
teramat menentukan. Lonjakan harga gula internasional yang lay off-nya
langsung terlihat pada hasil lelang gula petani di PTPN XI sudah
terbaca sejak pekan ke-dua Agustus.
Ketika itu, kenaikan harga gula internasional dari US$284 per ton ke
US$297 per ton serta-merta diikuti harga lelang dari kisaran Rp4.630/kg
(harga eceran Rp5.200/kg) ke Rp4.800/kg (harga eceran Rp5.350/kg).
Dalam dua pekan berikutnya, begitu harga minyak mentah internasional
menyentuh US$67 per barel, harga gula internasional terkerek US$302/
ton (harga eceran Rp5.450/ kg), dan menyentuh rekor US$311 per 28
Agustus.
Itu harga lelang tertinggi selama sepuluh tahun terakhir. Di akhir
bulan itu pula, harga lelang gula hasil panen tahun ini, pelan tapi
pasti, mulai merangkak melebihi Rp5.000/kg, sedang harga ecerannya
mulai menyentuh Rp5.600/kg.
Lalu, seakan menyambut datangnya kesempatan yang di-tunggu-tunggu itu,
bak sampar, kenaikan harga gula pun me-nyebar. 1 September, harga
rata-rata gula nasional Rp5.758/kg, lalu 3 September naik jadi Rp5.839,
dan 5 September ma-pan di Rp6.131/kg.
Padahal, saat itu posisi stok gula nasional begitu melimpah, masih
cukup hingga akhir tahun, masa panen memasuki puncaknya.
Dan teori 'harga durian selalu lebih murah di saat panen tiba' pun
runtuh..
Jawaban dari keanehan itu mestinya sederhana saja. Orang-orang yang
punya kekuatan penawaran, para pedagang besar yang bernapas (bermodal)
panjang, melakukan sesuatu yang intinya menghambat distribusi dan
aliran pasok.
Langkah ini pun tidak meruntuhkan apapun bangun teori supply demand
yang diciptakan beratus tahun lampau itu. Termasuk soal kualitas yang
dalam posisi ini cenderung bisa diabaikan karena dominasi kekuatan
permintaan.
Kemungkinan ini terjadi, kali pertama karena sifat perdagangan komoditi
sendiri: Menguasai pasok 50% satu komoditas berarti punya kekuatan
memengaruhi harga, menguasai pasok 75% berarti punya kekuatan
mengendalikan harga. Sesimpel itu.
Tak ada hukum kapitalisme tingkat lanjut ala Baudrillard atau Barthes
dalam perdagangan komoditas. Marx masih memadai untuk menjelaskan
fenomena ini. Dalam komoditas, tak ada nilai guna yang berubah jadi
nilai tanda.
Lalu direncanakanlah operasi penyelamatan itu. Di tanggal 5 September
itu, Gubernur Jawa Timur, atas desakan sejumlah kalangan, meminta
pabrik-pabrik gula di Jawa Timur-sentra produsen gula nasional-untuk
menggelar OP gula secepatnya, dengan harga Rp5.000/ kg..
Permintaan itu akhirnya urung ditepati memang. Tapi bukan karena pabrik
tidak punya gula, tapi karena otoritas yang lebih tinggi tak
menghendaki OP digelar per provinsi, dengan alasan resmi bahwa OP gula
adalah program nasional.
Akhirnya, 'program nasional' itu pun digelar mulai 14 September,
sepotong-sepotong, dari satu daerah ke daerah lain. Dan itu dua pekan
sesudah konsumen, ribuan usaha kecil dan menengah pembuat dodol,
manisan, roti kering di Indonesia menikmati kenaikan itu.
Silahturahmi bandara
Apa yang terjadi sebenarnya. Sebuah inisiatif birokrat daerah yang
ditorpedo atas nama program nasional. Sebuah 'silaturahmi bandara' yang
bocor, atau hilangnya daya paksa negara terhadap segelintir pedagang
gula yang dijuluki 'delapan samurai'?
Tapi sebetapapun terlambat operasi penyelamatan itu, ada dua hal
positif yang tetap harus diapresiasi. Yaitu tidak diinstruksikannya
lagi produsen gula swasta, termasuk gula rafinasi, untuk menggelar OP
sebagaimana Februari-Maret lalu.
Selain itu adalah ditetapkannya harga eceran tertinggi, atau harga
batas atas (floor price) di tingkat konsumen. Yang terakhir ini dapat
berguna laiknya detektor bom :bila di satu tempat detektor itu berbunyi
tut tut, maka OP harus secepatnya digelar.
Tapi (OP) bukannya tanpa risiko. Dan orang terlanjur tahu, setidaknya
dari kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi maupun versi terbaru PC-game
SimCity, setiap intervensi pasar dilakukan karena terpaksa.
Paling tidak ada sekian persen unsur tidak ikhlas.
Instrumen ini selalu minta ongkos, dalam versi apapun, baik berbentuk
uang maupun sesuatu yang setidaknya potensial bernilai tukar uang. Dan
lazimnya ongkos, biaya, dia punya rantai sebab akibat yang panjang, dan
lazimnya menyimpan benih konflik.
Karena itu publik layak curiga jika ada ada penyelenggara negara yang
berharap bisa sering-sering menggelar OP. Bahwa persiapan itu harus
tetap dilakukan, terutama sebagai satu sentuhan ad hoc taktis yang
dibutuhkan sewaktu-waktu itu adalah soal lain.
Sebab di luar bentuknya yang menyelamatkan, OP adalah produk relasi
kekuasaan ekonomi dan politik yang membangun wacana dominan di
pemerintahan. Dengan logika yang sama, kita wajib waspada pada 'OP'
beras miskin kini menjadi monopoli Bulog.
Pengelolaan seperti ini, dalam bungkus apapun, akan terus membuat beras
dan gula menjadi komoditas yang supersensitif bukan oleh sifatnya
dasarnya. Melainkan karena kekuasaan yang mengorganisasikannya telah
mengubahnya jadi alat kontrol yang represif.
OP beras dan gula seolah menjadi komoditas langganan pemerintahan di
negeri ini sejak era pemerintah Soeharto hingga Susilo Bambang
Yudhoyono. Bahkan senjata pamungkas yang digunakan untuk meredam
lonjakan harga bahan pokok akibat kenaikan harga BBM kali inipun adalah
'mahkluk' yang bernama OP.
Buktinya, Rapat Terbatas kemarin juga menelurkan khusus pada gula dan
beras, jajaran pemerintah akan melakukan OP untuk menjaga kestabilan
dari dua komoditas tersebut.
|