Index

 15 September 2005

 
Rupiah menguat menembus Rp10.000
Bisnis Indonesia

Rupiah menguat menembus Rp10.000
Kepercayaan pulih, investor buru rupiah
 
JAKARTA: Keinginan investor untuk kembali memegang rupiah yang dipicu tingginya tingkat bunga

menandai pulihnya kepercayaan pasar terhadap rupiah yang sempat terpuruk sampai level Rp11.000

per dolar AS.

Fantastis. Itu mungkin kata yang bisa mewakili begitu cepatnya rupiah berbalik menguat ke bawah

level Rp10.000 per dolar AS. Rebound yang cepat ini diluar prediksi para dealer maupun pengamat

pasar valas. Setidaknya tidak secepat setelah terpuruk sampai Rp11.750 per dolar AS pada 30

Agustus.

Bahkan, seorang dealer bank asing pernah menegaskan sulit bagi rupiah untuk kembali menguat

menembus level psikologis itu dalam pekan ini. "Begitu rupiah mencapai Rp10.050 akan banyak

pelaku korporasi kembali menubruk dolar AS," demikian analisa dealer itu beberapa waktu lalu.

Namun, agaknya kenyataan berbicara lain. Pasar menilai kebijakan moneter ketat yang digenjot

dalam dua pekan terakhir mampu meningkatkan kepercayaan investor. Tingginya tingkat bunga rupiah

membuat investor kembali melakukan aksi jual rupiah. "Kepercayaan terhadap rupiah pulih. Para

investor memburu surat utang pemerintah yang memberikan yield tinggi dibandingkan dengan dolar

AS. Artinya mereka melihat ada peluang keuntungan dengan memegang rupiah," kata Ketua Forexindo

Pardi Kendy kemarin.

Memang dalam tiga hari terakhir rupiah secara mantap menguat meski bullish dolar AS di pasar

global kembali menapak. Hanya saja fundamental dolar AS tidak terlalu kuat untuk mendukung

pergerakan tersebut. Sementara sentimen di dalam negeri berlanjut positif terhadap rupiah.

Betapa tidak, Bank Indonesia secara mantap menaikkan tingkat bunga dan memainkan jurus-jurus

berupa kebijakan yang membatasi permainan dolar AS. Di sisi lain, pemerintah sudah komitmen akan

mengurangi subsidi BBM dengan menaikkan harga bahan bakar awal Oktober. Meski banyak pihak masih

meragukan langkah menaikkan BBM ini bisa efektif menguatkan rupiah.

Permintaan tipis

Pengamat pasar valas Amir Fuadi juga melihat penetapan suku bunga oleh BI membuat pelaku pasar

mengkonversi dolar AS. Faktor utama apresiasi rupiah, lanjutnya, sepenuhnya berasal dari dalam

negeri. Perdagangan US$/yen pun tidak begitu bergairah. Harga minyak dunia yang makin turun juga

memberi angin segar bagi valuta regional termasuk rupiah.

"Penguatan rupiah juga didorong oleh tipisnya permintaan dolar AS di pasar. Kemungkinan

pemerintah dan BI menyediakan dolar AS bagi kebutuhan Pertamina atau BUMN lain. Kami tidak

melihat BUMN minyak itu masuk ke pasar," jelasnya.

Tren ini diperkirakan akan berlanjut sepanjang tidak ada gangguan dari permintaan dolar AS.

Dengan kata lain penguatan rupiah masih rentan tidak sepenuhnya fundamental. Hanya saja, jika hal

itu terjadi, diyakini sentimen pasar masih mendukung rupiah.

Rupiah sempat menguat ke posisi Rp9.980 per dolar AS di awal perdagangan pasar Asia kemarin

sebelum akhirnya ditutup pada posisi Rp10.025 per dolar AS.

Oleh M. Yunan Hilmi
Bisnis Indonesia

 

 

Index