|
Rupiah menguat menembus
Rp10.000
Kepercayaan pulih, investor buru rupiah
JAKARTA: Keinginan investor untuk kembali memegang rupiah yang dipicu
tingginya tingkat bunga
menandai pulihnya kepercayaan pasar terhadap rupiah yang sempat
terpuruk sampai level Rp11.000
per dolar AS.
Fantastis. Itu mungkin kata yang bisa mewakili begitu cepatnya rupiah
berbalik menguat ke bawah
level Rp10.000 per dolar AS. Rebound yang cepat ini diluar prediksi
para dealer maupun pengamat
pasar valas. Setidaknya tidak secepat setelah terpuruk sampai Rp11.750
per dolar AS pada 30
Agustus.
Bahkan, seorang dealer bank asing pernah menegaskan sulit bagi rupiah
untuk kembali menguat
menembus level psikologis itu dalam pekan ini. "Begitu rupiah mencapai
Rp10.050 akan banyak
pelaku korporasi kembali menubruk dolar AS," demikian analisa dealer
itu beberapa waktu lalu.
Namun, agaknya kenyataan berbicara lain. Pasar menilai kebijakan
moneter ketat yang digenjot
dalam dua pekan terakhir mampu meningkatkan kepercayaan investor.
Tingginya tingkat bunga rupiah
membuat investor kembali melakukan aksi jual rupiah. "Kepercayaan
terhadap rupiah pulih. Para
investor memburu surat utang pemerintah yang memberikan yield tinggi
dibandingkan dengan dolar
AS. Artinya mereka melihat ada peluang keuntungan dengan memegang
rupiah," kata Ketua Forexindo
Pardi Kendy kemarin.
Memang dalam tiga hari terakhir rupiah secara mantap menguat meski
bullish dolar AS di pasar
global kembali menapak. Hanya saja fundamental dolar AS tidak terlalu
kuat untuk mendukung
pergerakan tersebut. Sementara sentimen di dalam negeri berlanjut
positif terhadap rupiah.
Betapa tidak, Bank Indonesia secara mantap menaikkan tingkat bunga dan
memainkan jurus-jurus
berupa kebijakan yang membatasi permainan dolar AS. Di sisi lain,
pemerintah sudah komitmen akan
mengurangi subsidi BBM dengan menaikkan harga bahan bakar awal Oktober.
Meski banyak pihak masih
meragukan langkah menaikkan BBM ini bisa efektif menguatkan rupiah.
Permintaan tipis
Pengamat pasar valas Amir Fuadi juga melihat penetapan suku bunga oleh
BI membuat pelaku pasar
mengkonversi dolar AS. Faktor utama apresiasi rupiah, lanjutnya,
sepenuhnya berasal dari dalam
negeri. Perdagangan US$/yen pun tidak begitu bergairah. Harga minyak
dunia yang makin turun juga
memberi angin segar bagi valuta regional termasuk rupiah.
"Penguatan rupiah juga didorong oleh tipisnya permintaan dolar AS di
pasar. Kemungkinan
pemerintah dan BI menyediakan dolar AS bagi kebutuhan Pertamina atau
BUMN lain. Kami tidak
melihat BUMN minyak itu masuk ke pasar," jelasnya.
Tren ini diperkirakan akan berlanjut sepanjang tidak ada gangguan dari
permintaan dolar AS.
Dengan kata lain penguatan rupiah masih rentan tidak sepenuhnya
fundamental. Hanya saja, jika hal
itu terjadi, diyakini sentimen pasar masih mendukung rupiah.
Rupiah sempat menguat ke posisi Rp9.980 per dolar AS di awal
perdagangan pasar Asia kemarin
sebelum akhirnya ditutup pada posisi Rp10.025 per dolar AS.
Oleh M. Yunan Hilmi
Bisnis Indonesia
|