Index

 21 September 2005

 
Dapen dan asuransi tetap nantikan SPN
Bisnis Indonesia

JAKARTA: Meski terbit tidak dalam waktu dekat, kalangan lembaga keuangan nonbank berharap pemerintah segera menerbitkan surat perbendaharaan negara (SPN) sebagai alternatif dan diversifikasi portofolio investasi.

Ketua Umum Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI), B. Eddy Praptono mengatakan keberadaan SPN akan memperluas cakrawala investasi dana pensiun sebagai lembaga keuangan nonbank ini.

"Karena ini sifatnya jangka pendek tentu akan kami pakai untuk memenuhi kewajiban pembayaran bulanan, yang jelas kami siap menyerapnya," kata dia kepada Bisnis, kemarin.

Hingga akhir tahun nanti, Eddy mengatakan kalangan dana pensiun siap menggelontorkan dana sekitar Rp23 triliun atas obligasi negara dari total rencana investasi 2005 sebesar Rp68 triliun. "Jumlah itu sekitar 35% dari total investasi kami."

Depkeu sendiri memperkirakan baru mampu melakukan emisi SPN mulai tahun 2009 karena periode 2006-2009 justru terbebani pembayaran pokok dan bunga utang yang jatuh tempo.

Surat perbendaharaan negara (treasury bills/T-Bills) merupakan obligasi negara jangka pendek dengan jatuh tempo kurang dari satu tahun dengan pembayaran bunga secara diskonto.

Pembayaran bunga secara diskonto ini akan tercermin secara implisit dalam selisih antara harga pada saat penerbitan dan nilai nominal yang diterima pada saat jatuh tempo. Masa jatuh tempo maksimal 12 bulan itu menjadikan penerbitan SPN langsung mempengaruhi profil anggaran tahun berikutnya.

Secara terpisah, Harry Priyasmoro, Direktur Keuangan dan Investasi Asuransi Jiwa Bersama (AJB)

Bumiputera 1912, mengatakan kalangan asuransi juga berharap dari emisi SPN ini. "Kami akan ambil seperti selama ini dilakukan terhadap lelang SUN," ujarnya.

Dia menyatakan kesanggupan menyerap surat utang pemerintah yang sering disebut T-Bills merupakan langkah diversifikasi portofolio investasi tidak hanya berkarakter jangka panjang seperti umumnya asuransi jiwa lain.

"Investasi kami tidak begitu saja pindah ke SPN, buktinya kami juga seperti Jiwasraya dan Jamsostek yang baru-baru ini juga ikut lelang SUN," ungkapnya.

Beberapa BUMN asuransi mulai menata portofolio investasi ke dana jangka panjang dengan mengikuti lelang perdana surat utang negara seri FR0032 sebesar Rp1,54 triliun 7 September.

Pada lelang SUN seri FR0032 yang jatuh tempo pada 15 Juli 2018, jumlah penawaran yang masuk mencapai Rp2,045 triliun. Namun, pemerintah hanya mengambil sekitar Rp1,54 triliun dari jumlah yang ditawarkan tersebut dengan imbal hasil (yield) rata-rata tertimbang mencapai 15,97%.

Direktur Pelaksana Jiwasraya Indrastono Sukarno menyebutkan pihaknya memperoleh Rp200 miliar pada keikutsertaan dalam lelang SUN itu sebagai diversifikasi portofolio investasi guna menghindari mistmacth kewajiban kepada pemegang polis.

Dia mengatakan pihaknya akan terus menyerap surat utang yang diterbitkan pemerintah. "Kan yield yang ditawarkan bisa 16%, ini akan menguntungkan kami."

Selain Jiwasraya, PT Jamsostek juga dikabarkan mendapatkan hasil lelang SUN yang cukup besar. Direktur Investasi Jamsostek Iskandar Z. Rangkuti mengatakan sejumlah penempatan investasi yang dilakukan BUMN asuransi ini di surat utang pemerintah telah mencetak keuntungan seperti yang diharapkan kendati kondisi finansial saat ini tidak terlalu kondusif.

Oleh Fahmi Achmad
Bisnis Indonesia