|
JAKARTA: PT Indosat Tbk tetap akan mengikuti tender alokasi
frekuensi seluler generasi ketiga (3G) kendati telah ada jaminan
mendapatkan spektrum selebar 5 Megahertz dari pemerintah atas
penggusuran frekuensi layanan CDMA StarOne dari pita 1.900 Mhz.
Bagi Indosat, pita selebar 5 Mhz belum cukup memadai untuk menggelar
layanan seluler generasi ketiga. Untuk itulah, operator telekomunikasi
terbesar kedua di Indonesia ini akan tetap menjadi salah satu peserta
pada tender frekuensi yang direncanakan November mendatang.
"Jadi kami tetap akan ikut tender. Idealnya untuk layanan 3G yang
optimal diperlukan alokasi frekuensi paling tidak 10 Mhz," kata
Direktur Perencanaan dan Pengembangan Proyek Indosat Wityasmoro Sih
Handayanto kepada Bisnis di Jakarta kemarin.
Indosat memperoleh jaminan mendapatkan alokasi frekuensi 3G setelah
bersedia memindahkan frekuensi StarOne untuk layanan DKI Jakarta,
Banten dan Jawa Barat dari spektrum 1.900 Mhz ke spektrum 800 Mhz milik
operator CDMA lain PT Bakrie Telecom (Esia).
Masuknya StarOne ke frekuensi Esia yang beroperasi di tiga provinsi
tersebut dicapai dalam sebuah nota kesepahaman akhir pekan lalu.
Sebagai gantinya, Esia mendapat fasilitas serupa berupa penyaluran
trafik telekomunikasi dan pemanfaatan jaringan milik Indosat di luar
tiga provinsi itu.
Menurut Wityasmoro, proses pemindahan frekuensi StarOne diharapkan
selesai sampai akhir 2007. Hingga pekan kemarin, kata dia, pengguna
StarOne di Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten lebih dari 100.000
pelanggan.
Wityasmoro menambahkan Indosat akan melakukan audit jenis handset
pelanggan untuk mengetahui berapa yang mesti dilakukan penggantian.
"Setelah itu dilakukan nanti kami akan bicarakan dengan regulator apa
kira-kira kompensasi yang akan diberikan."
Seperti diketahui tidak semua handset CDMA adalah dual band yakni bisa
digunakan pada frekuensi 800 Mhz maupun 1.900 Mhz. Belum diketahui
apakah pelanggan StarOne dengan handset single band 1.900 MHz bakal
mendapatkan penggantian atas perpindahan ini.
Namun, Wityasmoro juga belum bisa memberikan penjelesan mendetail
menyangkut pemindahan frekuensi dan kerja sama operasi yang disebut
sebagai mobile virtual network operator (MVNO) tersebut. Pembicaraan
secara lebih teknis, kata dia, baru akan dilakukan dalam waktu dekat.
Telkom Flexi
Sementara itu, penghuni frekuensi 1.900 Mhz lain dengan jumlah
pelanggan besar Telkom Flexi hingga kini belum memperoleh kesepakatan
dengan operator mana pun untuk MVNO.
Namun, menurut Dirut Arwin Rasyid, Telkom akan secepatnya mencari mitra
kerja sama guna menampung lebih dari sejuta pelanggan ke frekuensi 800
MHZ.
"Telkom masalahnya berbeda dengan Indosat. Seperti kita ketahui Flexi
di frekuensi 1.900 Mhz punya pelanggan satu juta lebih. Jadi ada
kompleksitas tersendiri," kata Arwin.
Pemerintah hanya akan mendedikasikan semua pita frekuensi 1.900 Hhz
untuk teknologi seluler 3G versi GSM. Pita yang semula sudah diduduki
oleh layanan telekomunikasi teknologi lain seperti CDMA itu harus
ditata ulang, di mana Telkom dan Indosat adalah dua operator yang
langsung mendapatkan imbas regulasi itu.
Oleh Hery Trianto
Bisnis Indonesia.
|